Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Orang dengan Hipertensi Rentan Kena Covid-19, Ini Penjelasannya

Para penderita darah tinggi alias hipertensi lebih berisiko terkena Covid-19. Satgas Covid-19 menunjukkan dari sekitar 1.400-an pasien Covid-19, sebanyak 50 persen di antaranya mengalami hipertensi.
Fatkhul Maskur
Fatkhul Maskur - Bisnis.com 03 Juni 2021  |  16:04 WIB
Orang dengan Hipertensi Rentan Kena Covid-19, Ini Penjelasannya
Ilustrasi hipertensi - istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Para penderita darah tinggi alias hipertensi lebih berisiko terkena Covid-19. Satgas Covid-19 menunjukkan dari sekitar 1.400-an pasien Covid-19, sebanyak 50 persen di antaranya mengalami hipertensi.

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dari Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran Badai Bhatara Tiksnadi menjelaskan alasan mereka dengan penyakit tidak terkontrol rentan terkena Covid-19.

"Covid-19 mudah menyerang orang dengan sistem imun lemah dan tekanan darah yang tinggi terutama kondisi yang menahun akan melemahkan sistem kekebalan tubuh, sehingga tubuh menjadi tidak sanggup menghadapi infeksi virus dan akhirnya terkena Covid-19," ujarnya seperti dikutip Antara, Kamis (3/6/2021).

Badai mengatakan, data Satgas Covid-19 menunjukkan dari sekitar 1.400-an pasien Covid-19, sebanyak 50 persen di antaranya mengalami hipertensi. Penyakit terkait tekanan darah di atas 140/90 mmHg ini bahkan menjadi komorbid terbanyak pada kasus Covid-19, diikuti obesitas, diabetes dan penyakit jantung.

Pasien yang tekanan darahnya tidak terkontrol atau tidak diobati akan berisiko mengalami Covid-19 berat dan komplikasi dibandingkan mereka yang terkontrol.

Kemudian, mereka bersama dengan penyandang penyakit jantung, diabetes, masalah ginjal dan obesitas juga mengalami angka kesakitan dan kematian yang tinggi akibat Covid-19.

Menurut pemantauan dan data, perburukan sangat cepat itu pada populasi ini. Data dari China, sekitar 2,7 kali lipat lebih tinggi (risiko perburukan) pada pasien risiko gemuk, hipertensi dan diabetes.

"Semakin banyak punya faktor risiko itu kemungkinan kematiannya semakin tinggi, kemungkinan alat bantu napas hingga 2 kali lipat," kata Badai yang merupakan salah satu dokter dari RSUD Dr. Hasan Sadikin, Bandung itu.

Lalu apa yang bisa dilakukan bila pasien hipertensi terkena Covid-19? Badai menyarankan mereka tetap meminum obat sesuai petunjuk dokter, mengendalikan penyakit hipertensi mereka dan melakukan protokol kesehatan 5M yakni mengenakan masker, mencuci tangan rutin, menjaga jarak, mengurangi mobilitas dan menjauhi kerumunan.

Terkait vaksin Covid-19, pasien hipertensi boleh divaksin asalkan tekanan darahnya di bawah 180/110 mmHg, tekanan darah stabil atau terkontrol dan tidak ada keluhan apapun.

Hipertensi, saat tekanan darah di atas 140/90 mmHg awalnya tidak bergejala sehingga terkadang tak disadari. Penyakit ini baru bergejala setelah menyerang organ penting seperti pada otak bila stroke, jantung apabila terkena serangan jantung dan pembuluh darah yang menyumbat.

Badai mengingatkan Anda agar jangan sampai terkena hipertensi dengan melakukan sejumlah pencegahan salah satunya menerapkan gaya hidup sehat.

"Ini tidak bisa kembali. Makanya mencegah itu penting dan bukan hanya buat kita, kalau sudah stroke yang menderita anak, keluarga kita. Kalau serangan jantung fatal, tiba-tiba meninggal, siapa yang mencari nafkah. Tolong cegah, cegah, cegah itu sangat penting," demikian kata Badai.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

hipertensi Covid-19
Editor : Fatkhul Maskur

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top