Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Layanan Kesehatan Tatap Muka Masih Jadi Budaya Masyarakat Indonesia

Royal Philips baru-baru ini mengumumkan laporan Future Health Index 2021: A Resilient Future: Healthcare leaders look beyond the crisis atau Masa Depan yang Tangguh: Pemimpin industri kesehatan melihat ke depan melampaui krisis.
Janlika Putri Indah Sari
Janlika Putri Indah Sari - Bisnis.com 09 Juni 2021  |  12:05 WIB
Ilustrasi telehealth.  - aha.org
Ilustrasi telehealth. - aha.org

Bisnis.com, JAKARTA -  Layanan telehealth kini menjadi salah satu solusi yang diberikan pihak kesehatan untuk masyarakat. Semenjak pandemi, layanan kesehatan yang semula dilakukan tatap muka kini bisa dilakukan secara virtual dengan bantuan teknologi.

Royal Philips baru-baru ini mengumumkan laporan Future Health Index 2021: A Resilient Future: Healthcare leaders look beyond the crisis atau Masa Depan yang Tangguh: Pemimpin industri kesehatan melihat ke depan melampaui krisis.

Presiden Direktur Philips Indonesia, Pim Preesman mengatakan dari laporan tersebut Covid-19 telah membuktikan bahwa pemberian layanan virtual dan perawatan jarak jauh itu memungkinkan. Ia juga berharap ini menjadi fokus prioritas bagi Indonesia.

“Telehealth dapat sangat bermanfaat bagi populasi yang besar dan beragam seperti di Indonesia, terutama dalam meningkatkan akses perawatan untuk masyarakat di wilayah terpencil,” ujarnya pada keterangan resmi yang diterima Bisnis, Rabu (9/6/2021)

Pada keterangan yang sama, CEO National Hospital Surabaya, Prof. Hananiel Prakasya Wijaya menyebutkan bahwa selama pandemi, masyarakat tidak lagi memprioritaskan pertemuan tatap muka tetapi beralih ke cara lain untuk memberikan atau menerima layanan kesehatan.

“Kami telah mengadopsi teknologi telehealth sejak dini, dan dengan adanya pandemi ini penggunaan telekonsultasi dan layanan digital kami semakin berkembang secara eksponensial dan menjadi prioritas utama,” Ujarnya.

Namun, ia dan para jajarannya juga telah belajar bahwa telehealth bukan pengganti layanan kesehatan dasar, tetapi merupakan pelengkap sehingga keduanya menjadi suatu sinergi.

Prof. Wijaya memiliki pandangan yang juga mencerminkan hasil survei dari negara lain terhadap peran penting tenaga kesehatan, tetapi dari sisi kuantitas dan kualitas.

Ia juga menyebutkan bahwa salah satu tantangan dalam mempercepat adopsi layanan kesehatan digital terletak pada masyarakatnya. Menurutnya, mengubah kebiasaan, pola pikir dan budaya dalam memberikan perawatan harus menjadi prioritas ahli kesehatan di Indonesia saat ini.

“ Memiliki strategi inovatif dan selalu menanamkan perubahan adalah bagian dari budaya dalam bekerja di National Hospital, sehingga adopsi layanan kesehatan digital bisa diterapkan dengan lebih mudah. Teknologi bisa dibeli dan diadopsi, tetapi mengubah budaya harus berhasil dijalankan sebelum digitalisasi dapat dilaksanakan,” pungkasnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pelayanan kesehatan telemedicine
Editor : Mia Chitra Dinisari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top