Hanna Keraf, Co Founder DuAnyam. /ANTARA
Relationship

Cerita Hanna Keraf Mengasingkan Diri dan Inspirasi Bung Karno

Ni Luh Anggela
Rabu, 30 Juni 2021 - 14:35
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Hanna Keraf, Co Founder DuAnyam, membagikan kisah inspiratifnya sebagai wirausahawan muda yang bertumbuh di tengah masyarakat desa.

Ia memilih tinggal kembali di Flores, juga karena penasaran dengan cerita pengasingan Bung Karno di Ende. Wanita lulusan Universitas Ritsumeikan Jepang ini membagikan bagaimana Bung Karno menginspiasinya untuk hidup dan tinggal dengan masyarakat. 

Hanna mengungkap salah satu mentornya yang memiliki latar belakang belasan tahun di organisasi dunia mengingatkannya pada salah satu kutipan Bung Karno.

Kalau banyak tokoh memilih tidak dekat dengan rakyat, justru Bung Karno memilih untuk selalu dekat dengan rakyatnya, "Dan yang menakutkan adalah kata-kata terakhirnya itu. "Kamu tidak akan bisa jadi pemimpin mereka, kalau kamu bukan bagian dari mereka."

"Ini persis dengan apa yang disampaikan oleh Bung Karno," kata Hanna dalam sarasehan nasional Megawati Institute bertema Indonesia Muda Membaca Bung Karno, Selasa (29/6/2021).

Terinspirasi dari perkataan Bung Karno dan mentornya, pada 2012 Hanna memutuskan untuk pindah ke Flores, tepatnya di desa Lamalera, Lembata. Dan saat keluar pengumuman untuk studi lanjutan, Hanna memilih untuk menundanya.

Hana membagikan alasannya memilih tinggal di Flores, daripada di Jakarta, tempatnya kelahirannya. "Pertama, pasti karena ingin dekat dengan masyarakat daerah terpencil dan kedua, ingin belajar bersyukur atas berbagai privilege yang saya miliki dibandingkan nona-nona Flores lainnya," ungkapnya.

Flores bagi Hanna mengingatkannya akan pengasingan Bung Karno di Ende. Pertama kali berkunjung ke rumah pengasingan Bung Karno di Ende, ia mengaku merinding ketika melihat foto-foto Bung Karno saat diasingkan dan bagaimana Bung Karno memiliki modal sosial yang begitu besar menggunakan seni dan kebudayaan untuk bisa diterima di masyarakat.

Jika Bung Karno diasingkan, Hanna secara sukarelawan mengasingkan dirinya. "Kenapa mengasingkan? Karena asing dari rencana orang tua terhadap masa depan saya dan juga asing dari pilihan hidup teman-teman sebaya saya."

Namun, pengasingan dirinya di Flores menghasilkan DuAnyam, yakni kewirausahaan sosial yang menggandeng wanita-wanita di daerah terpencil. Sejauh ini, sudah 1.400 wanita yang DuAnyam bantu untuk mendampingi produk-produk kerajinan tangan dan memastikan akses pasar untuk produk-produk tersebut.

DuAnyam adalah salah satu cara Hanna dan teman-temannya untuk memanfaatkan potensi ekonomi produktif yang sebenarnya ada di desa. Pada 2014, Hanna tidak sengaja melihat ibu-ibu yang sedang menganyam. Bahan baku seperti lontar juga sudah tersedia di sana.

Dari situ, Hanna berpikir kegiatan menganyam ini jika dikombinasikan dengan bahan baku pada akhirnya bisa mendatangkan ekonomi produktif terutama untuk para wanita di sana. "Sehingga secara finansial mereka bisa bebas mengambil keputusan untuk dirinya sendiri,"

Hanna menekankan pentingnya modal sosial ketika seseorang ingin mencoba terjun bersama masyarakat desa. "Ketika kita sudah memiliki modal sosial, saat kita mengajak masyarakat di desa untuk menjadi solusi atau bagian dari solusi, semua orang (masyarakat) pasti akan mendengarkan," tutup Hanna.

Penulis : Ni Luh Anggela
Editor : Fatkhul Maskur
Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro