Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Di Tengah Pandemi Covid-19, Ini Tips Selamatkan Mental Anak dan Remaja

Karantina, pembelajaran jarak jauh, ketidakpastian, kesepian, cemas kesehatan diri dan keluarga, rutinitas yang monoton, perubahan pola asuh, insekuritas sosial ekonomi, hingga kekerasan dalam rumah tangga menjadi masalah yang dihadapi anak dan remaja di tengah pandemi ini.
Desyinta Nuraini
Desyinta Nuraini - Bisnis.com 09 Juli 2021  |  13:56 WIB
Anak-anak usia 5 tahun memiliki kemampuan terbesar untuk berkreasi.  - littleyou.me
Anak-anak usia 5 tahun memiliki kemampuan terbesar untuk berkreasi. - littleyou.me

Bisnis.com, JAKARTA - Kesehatan mental anak dan remaja menjadi ancaman di tengah pandemi Covid-19. Jika tidak segera ditangani, hal ini akan berdampak buruk bagi kualitas hidup mereka saat ini maupun di masa mendatang.

Karantina, pembelajaran jarak jauh, ketidakpastian, kesepian, cemas kesehatan diri dan keluarga, rutinitas yang monoton, perubahan pola asuh, insekuritas sosial ekonomi, hingga kekerasan dalam rumah tangga menjadi masalah yang dihadapi anak dan remaja di tengah pandemi ini.

Psikolog Anak dari RS Yarsi Devi Sani Rezki mengatakan menurut survei Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) yang melibatkan 3.200 anak SD hingga SMA pada Juli 2020, sebanyak 13 persen di antaranya mengalami gejala kesehatan mental yang mengarah pada gangguan depresi ringan hingga berat selama masa kenormalan baru.

Adapun, anak yang menunjukkan gejala depresi 93 persen berada pada rentang usia 14-18 tahun, sementara 7 persen berada di usia 10-13 tahun.

Tidak dapat dipungkiri pandemi ini juga berdampak kepada aspek psikososial yang menimbulkan perasaan bosan karena harus tinggal di rumah, khawatir tertinggal pelajaran, merasa takut terkena penyakit, merindukan teman-teman, dan khawatir dengan penghasilan orang tua.

“Dampak paling membahayakan sebanyak 62% anak mengalami kekerasan verbal dari orang tua selama berada di rumah,” ujarnya.

Hal ini tidak boleh dibiarkan, kesehatan mental anak harus diselamatkan. Pasalnya kesehatan mental anak dan remaja sangat berpengaruh kepada prestasi akademis mereka.

Devi menerangkan di otak ada yang disebut sebagai prefrontal cortex yang merupakan pusat kognitif. Bagian ini berhubungan erat dengan kemampuan manusia termasuk anak untuk mengontrol emosi, mengidentifikasi emosi, mengendalikan emosi, memahami emosi, hingga menganalisa emosi dan pelajaran.

“Apabila ada hormon stres yang tinggi bisa menimbulkan efek toxic pada otak. Stres terbukti menghilangkan kemampuan memanggil memori sebelumnya, ngeblank,” tuturnya.

Sayangnya, memang banyak orang tua yang tidak sadar kesehatan mental anaknya terganggu. Oleh karena itu menurut Spesialis Kedokteran Jiwa dari RS Pondok Indah dr. Anggia Hapsari penting mengenali gejala kesehatan mental pada anak. Hal ini bisa dipantau dari perilaku mereka.

Biasanya anak yang kesehatan mentalnya terganggu mengalami kesulitan tidur dan makan, mimpi buruk, menarik diri atau agresif, ketakutan ditinggal sendiri, keluhan fisik tanpa sebab yang jelas, selalu ingin berada di dekat orang tua, timbul ketakutan baru, kehilangan minat dalam kegiatan, sedih bahkan bisa menangis tanpa alasan.

Pada titik ini, orang tua harus segera memberi pertolongan. Anggia menyebut ada tiga cara yang bisa dilakukan orang tua. Pertama beri anak ketenangan. Ajari anak untuk mengerti dan mengetahui perasaan yang sedang dirasakan, tanpa menghakimi perasaan tersebut.

“Ajari anak untuk melakukan latihan pernapasan agar anak bisa menenangkan dirinya saat stres,” ujarnya.

Kedua, atur suasana hati anak. Anggia menerangkan saat sedih, coba ajak anak untuk mengingat memori yang menyenangkan. Minta anak membuat daftar kegiatan apa saja yang bisa membuatnya bahagia.

Orang tua bisa membuat jadwal untuk melakukan kegiatan yang seru dan menyenangkan. Ajak anak beraktivitas fisik di luar rumah dan terkena matahari, tetapi tetap jaga protokol kesehatan.

Ketiga, Anggia menyarankan agar ajak anak untuk berbagi. Dalam hal ini lakukan percakapan dengan anak dengan tujuan untuk mengetahui apa yang anak rasakan tanpa menghakimi ataupun menyalahkan.

“Jadilah pendengar yang benar-benar tulus ingin tahu apa yang dirasakan anak,” tutur Anggia.

Di sisi lain, dia berpendapat orang tua harus pintar-pintar mendidik anak di era new normal seperti sekarang ini. Sebisa mungkin ciptakan kebiasaan seperti sebelum Covid-19. Memang saat pandemi, mau tidak mau anak lebih lekat dengan gawai. Penggunaannya wajib dikontrol.

Caranya, kata Anggia, dengan menciptakan kebiasaan atau jadwal, orang tua pun perlu terlibat aktif saat anak-anak dan remaja memegang gawai sehingga menghindarkan mereka terbuai pada akun-akun yang menghadirkan konten negatif.

Mengasah kreativitas anak melalui dunia maya juga penting. Di era industri 4.0, dunia maya memang tidak bisa dilepaskan dari aktivitas setiap manusia termasuk anak dan remaja. Hal ini bisa dimanfaatkan untuk mengasah kreativitas mereka misalnya denga mengajarkan membuat video blog (vlog).


#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #jagajarakhindarikerumunan #cucitangan #cucitangandengansabun

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bnpb anak tips sehat New Normal Adaptasi Kebiasaan Baru
Editor : Hafiyyan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper
To top