Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

5 Jenis Distorsi Kognitif yang Perlu Anda Ketahui, Agar Tak Menyesal di Kemudian Hari

Polarized thinking juga sering disebut dengan “black or white thinking” atau “semua atau tidak sama sekali”. Artinya, Anda hanya berpikir baik dan buruk, atau sukses dan gagal.
Ni Luh Anggela
Ni Luh Anggela - Bisnis.com 26 Oktober 2021  |  17:31 WIB
5 Jenis Distorsi Kognitif yang Perlu Anda Ketahui, Agar Tak Menyesal di Kemudian Hari
Ilustrasi Depresi - Istimewa
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Pernahkah Anda menyesal dengan keputusan yang Anda buat di saat Anda yakin itu adalah keputusan terbaik? Namun seiring berjalannya waktu Anda baru menyadari bahwa ternyata keputusan itu salah.
 
Dr Ida Rochmawati, seorang psikiater, mengatakan, apa yang Anda pikirkan tidak selalu benar adanya.
 
“Namun uniknya, ketika kita meyakini sesuatu sebagai kebenaran, otak kita akan melengkapi data sesuai persepsi kita,” kata Ida, melalui akun Instagramnya @idapsikiater, Selasa (26/10/2021).
 
Pikiran yang salah tersebut seringkali disebut dengan distorsi kognitif.
 
Distorsi kognitif adalah kesalahan logika dalam menafsirkan, serta kecenderungan berpikir yang tidak rasional. Distorsi kognitif sangat dipengaruhi oleh suasana hati Anda saat itu. Apabila hal ini berlarut-larut, dapat memengaruhi kondisi emosi dan bermanifestasi dalam perilaku Anda. Inilah sebabnya mengapa seseorang sebaiknya tidak mengambil keputusan besar saat suasana hati Anda tidak baik.
 
Ida menjelaskan, distorsi kognitif pada umumnya terjadi ketika suasana hati seseorang sedang dalam keadaan tidak baik, misalnya dalam keadaan stres, sedih, cemas, marah, atau mendapatkan stimulus negatif dari luar yang intens.
 
Ketika suasana hati sedang tidak baik, otak kita lebih berfokus pada ancaman sehingga amygdala (otak emosi) lebih menguasai daripada otak logika (prefrontal cortex).
 
“Hal ini dapat membangkitkan memori yang tersimpan di hippocampus yang memberikan refrensi bagaimana memaknai suatu peristiwa sehingga pemikiran seseorang lebih mudah terdistorsi,” jelas Ida.
 
Distorsi kognitif akan semakin kuat bila ada stimulus eksternal yang masif, seperti informasi dari media massa atau dari sumber lainnya misalnya, atau saat seseorang berada di lingkungan yang menguatkan cara berpikirnya yang salah.
 
Oleh karena itu, Ida melanjutkan, kita perlu mengenali emosi kita sebelum menilai sesuatu atau mengambil keputusan besar dalam hidup, terutama saat suasana hati sedang tidak baik.
 
“Siapa tahu, saat itu kita sedang mengalami distorsi kognitif” katanya.
 
Tidak ada yang salah dengan perasaan Anda, karena perasaan itu valid untuk Anda. Tapi, belum tentu dengan orang lain. Perlu disadari, pemikiran Anda belum tentu sepenuhnya benar, terlebih dalam keadaan suasana hati yang sedang tidak baik.
 
Lalu, apa saja jenis distorsi kognitif yang sering dialami seseorang?

1. Labeling

“Labeling adalah pemberian label negatif, baik kepada diri sendiri maupun orang lain,”jelas Ida.
 
Misalnya, ketika seseorang melakukan kesalahan, dia sering berkata “aku bodoh, aku payah”.

2. Mental filtering

Mental filtering adalah pemikiran yang melihat segala hal dari kacamata negatif dan mengabaikan banyak fakta positif.
 
Misalnya, saat postingan Anda mendapat komentar negatif dari netizen. Mental Anda seketika menjadi ‘down’, padahal masih lebih banyak orang yang memberikan komentar positif.

3. Over generalisasi

Ini merupakan suatu pemikiran yang menggeneralisasi orang atau kejadian berdasarkan asumsi atau pengalaman buruknya.
 
“Misalnya, dia memiliki figur ayah yang keras terhadap ibunya, sehingga dia beranggapan semua laki-laki itu jahat dan tidak percaya dengan lembaga pernikahan,” katanya.

4. Polarized thinking

Polarized thinking juga sering disebut dengan “black or white thinking” atau “semua atau tidak sama sekali”. Artinya, Anda hanya berpikir baik dan buruk, atau sukses dan gagal.
 
Misalnya, Anda berpikir bahwa jika Anda tidak berhasil sampai usia 25 tahun, berarti hidup Anda gagal. Padahal, tidak demikian.

5. Personalization

Ini merupakan suatu bias pemikiran yang menghubungkan suatu kejadian dengan dirinya.
 
Misalnya, seseorang menyalahkan dirinya atas meninggalnya sang ibu. Dia beranggapan bahwa  ibunya meninggal karena dia sedang di luar kota sehingga terlambat dibawa ke rumah sakit.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perilaku konsumen Kegiatan kesehatan
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top