Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ketahui Cara Penularan dan Pencegahan HIV AIDS

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kemenkes Siti Nadia Tarmizi mengatakan orang dengan HIV rentan dengan berbagai penyakit infeksi. Juga, orang dengan HIV dan dengan PIMS akan lebih cepat menjadi AIDS, serta lebih mudah menularkan.
Ni Luh Anggela
Ni Luh Anggela - Bisnis.com 29 November 2021  |  19:10 WIB
Ketahui Cara Penularan dan Pencegahan HIV AIDS
HIV/AIDS - Antara
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – HIV AIDS sangat erat hubungannya dengan penyakit infeksi menular seksual (PIMS) seperti sifilis, gonorhoe dan lainnya, dan hal ini tidak boleh dianggap remeh karena dapat meningkatkan risiko tertular HIV hingga 4 kali lipat proses peradangan yang terjadi.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kemenkes Siti Nadia Tarmizi mengatakan orang dengan HIV rentan dengan berbagai penyakit infeksi. Juga, orang dengan HIV dan dengan PIMS akan lebih cepat menjadi AIDS, serta lebih mudah menularkan.

“PIMS seperti sifilis, bisa menular dari ibu yang terinfeksi kepada janin atau kepada bayi. Dan kita tahu setidaknya ada 5 PIMS yang menjadi perhatian yaitu sifilis, gonorhoe, clamidia dan Human Papillomavirus /HPV” kata Nadia dalam Temu Media “Hari AIDS Sedunia Tahun 2021” yang diadakan secara daring, Senin (29/11/2021).

Lebih lanjut Nadia menuturkan, HIV hanya menular melalui hubungan seks berisiko baik pada hubungan heteroseksual maupun homoseksual.

Kemudian, melalui darah dengan melalui alat suntik yang tercemar ataupun melalui transfusi darah yang tidak disaring. Juga, dari ibu ke bayi pada saat kehamilan, melahirkan dan menyusui.

Tetapi, semua ini bisa dicegah. Misalnya, penularan hubungan seks berisiko dapat dicegah dengan tidak melakukan hubungan seks yang berisiko, setia pada satu pasangan dan menggunakan alat pelindung seperti kondom.

Pencegahan melalui darah dapat dilakukan dengan menggunakan alat suntik sekali pakai dan melakukan pemeriksaan laboratorium untuk menyaring transfusi darah agar bebas dari penyakit HIV dan PIMS.

Dan pencegahan dari ibu ke bayi adalah dengan menjalankan program yang dimiliki Kemenkes yang disebut sebagai triple eliminasi yaitu penawaran tes pada ibu hamil untuk kondisi atau mencegah penyakit HIV, sifilis dan hepatitis. Sebab, ketiga penyakit ini adalah penyakit yang ditularkan dari ibu ke bayi semasa kehamilan, melahirkan dan menyusui.

Berdasarkan data yang diberikan Nadia, perbandingan penurunan infeksi baru di Asia Pasifik terdapat penurunan 26 persen secara global dan 12 persen di negara-negara Asia Pasifik.

Indonesia juga mengalami penurunan infeksi baru yaitu kurang lebih 27 persen. Hanya saja, jika dibandingkan dengan negara-negara se Asia Pasifik, jumlah infeksi baru atau jumlah insiden HIV di Indonesia masih paling tinggi dibandingkan dengan negara lain yakni 32.000 infeksi baru pada tahun 2019-2020.

“Artinya, upaya kita untuk memutuskan rantai penularan HIV ini harus lebih dipercepat. Banyak hal yang bisa kita lakukan seperti misalnya kita bisa belajar dari negara Thailand yang secara cepat bisa menurunkan insiden HIV,” ungkap Nadia.

Kemenkes berkomitmen untuk mengakhiri AIDS dengan mencapai ending AIDS di tahun 2030. Tujuan akhir 2030 adalah Three Zeroes yaitu tidak ada lagi infeksi baru, tidak ada lagi kematian akibat AIDS dan tidak ada lagi diskriminasi pada ODHA.

Kondisi itu dicapai dengan 95 persen ODHA mengetahui status HIV, 95 persen ODHA dalam pengobatan ARV, dan 95 persen ODHA dalam pengobatan ARV viral loadnya tersupresi.

“Pesan utama kita pada Hari AIDS Sedunia 2021 dimana kita tahu masih kita masih menghadapi pandemi Covid-19. Penting untuk menjaga kesehatan kita semua. Dan peran kita menjadi sangat penting untuk mendukung terciptanya masyarakat sehat,” ungkapnya.

Dia juga menambahkan, perlunya dukungan yang baik dan akurat untuk mengidentifikasi kelompok-kelompok yang rentan dan segera mengakhiri ketidaksetaraan, memastikan akses ke layanan pengobatan dan pendampingan terkait HIV AIDS.

“Keterbukaan akses layanan Kesehatan yang tanpa stigma dan diskriminasi akan mendukung ODHA, kemudian tetap berkualitas dan menjaga kondisi kesehatannya untuk tetap berkarya dan produktif seperti biasa,” ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

penyakit hiv/aids
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top