Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Mengenal Sosok Mangkunegoro VI, Raja Jawa Pemimpin Kadipaten Mangkunegaran di Surakarta

Mangkunegoro VI memandang penting sektor pendidikan, termasuk mendirikan sekolah khusus perempuan yang menggunakan kurikulum pendidikan Eropa bernama Siswa Rini pada tahun 1912. Dia sendiri mengenyam pendidikan di sekolah Belanda Europeesche Lagere School (ELS).
Ni Luh Anggela
Ni Luh Anggela - Bisnis.com 30 November 2021  |  13:11 WIB
Dr Bondan  Kanumoyoso, pengajar dan Dekan FIB Universitas Indonesia, Didiet Maulana,  founder IKAT indonesia,  Edukator Wira Usaha, dan Krisnina Tandjung,  Pemerhati Budaya,  Pemilik Rumah Budaya Kratonan
Dr Bondan Kanumoyoso, pengajar dan Dekan FIB Universitas Indonesia, Didiet Maulana, founder IKAT indonesia, Edukator Wira Usaha, dan Krisnina Tandjung, Pemerhati Budaya, Pemilik Rumah Budaya Kratonan

Bisnis.com, JAKARTA – Ada banyak hal yang menarik dari kisah hidup Mangkunegoro VI, seorang Raja Jawa pemimpin Kadipaten Mangkunegaran di Surakarta pada tahun 1896 hingga 1916 untuk dikaji dan dijadikan pembelajaran untuk generasi saat ini. Salah satunya, bagaimana menggabungkan nilai modernitas sekaligus tradisional.

Walaupun tetap mengemban nilai-nilai kebijaksanaan yang luhur dan agung yang diterima dari pendahulunya, Mangkunegoro VI merupakan sosok yang modern dan berpikiran terbuka.

Dilihat dari konteks perpolitikan Jawa, dia memiliki berbagai kekhasan dan kebijakan-kebijakan yang berbeda dari raja-raja Jawa sebelumnya.

Mangkunegoro VI memandang penting sektor pendidikan, termasuk mendirikan sekolah khusus perempuan yang menggunakan kurikulum pendidikan Eropa bernama Siswa Rini pada tahun 1912. Dia sendiri mengenyam pendidikan di sekolah Belanda Europeesche Lagere School (ELS).

Hal unik lain adalah sikap stoik Mangkunegoro VI dalam mengurus keuangan Praja dan kelihaiannya dalam berbisnis serta keberhasilannya di bidang ekonomi. Hal ini juga tidak lepas dari semangat barunya untuk mengubah tradisi lama dalam birokrasi feodal, didukung dengan karakternya yang memiliki sifat egaliter, anti kolonialisme, dan multikultural.

“Mangkunegoro VI adalah seorang pendobrak yang mampu mengombinasikan arus deras kemodernan dengan budaya Jawa yang mengutamakan harmoni, dan dia melakukan itu tanpa menghancurkan tradisi yang ada, tetapi justru mengembangkannya sehingga Pura Mangkunegaran dikenal sebagai salah satu pusat kebudayaan Jawa yang paling siap menghadapi perubahan zaman” kata Sejarawan Bondan Kanumoyoso dalam kegiatan bincang virtual bertajuk “The Game Changer Ala Mangkunegoro VI”, mengutip siaran pers yang diterima Bisnis, Selasa (30/11/2021).

Sementara itu, Krisnina Akbar Tandjung sebagai sosok pemerhati budaya yang memiliki ketertarikan khusus terhadap sejarah perempuan menyoroti mengenai bagaimana perempuan pada masa itu mampu memberikan pengaruh pada kondisi sosial.

“Era di Mangkunegoro VI adalah era politik etis dimana perubahan yang sangat mendasar adalah perubahan tatanan sosial dan peran perempuan, yang di motori oleh Sosok RA Kartini pada 1879-1904. Nilai-nilai perjuangan RA Kartini turut menginspirasi Mangkunegoro VI untuk mendirikan sekolah khusus Perempuan” kata Krisnina.

“Sosok Mangkunegoro VI dapat menjadi keteladanan masa kini, seorang Raja memiliki visi ke depan, modern dan mau mendobrak nilai-nilai tradisional sehingga sesuai dengan kemajuan masa itu”dia menambahkan.

KGPAA Mangkunegoro VI mereformasi protokol kerajaan yang rumit dan berbelit-belit yang dianggapnya tidak lagi sesuai dengan kemajuan zaman.

Hal-hal seperti mengadopsi pakaian Barat pun menurutnya bukan merupakan hal terlarang, karena seseorang dapat menjadi orang Jawa sekaligus orang modern. Keunikannya dalam berbusana menjadikan Didiet Maulana, sebagai seorang desainer yang memiliki kepedulian terhadap budaya Indonesia untuk menyampaikan relevansi sikap dari Mangkunegoro VI dengan kondisi masa kini.

“Mangkunegoro VI adalah bukti nyata bahwa kita seharusnya bisa hidup dengan mengkombinasikan gaya modern dengan tetap mempertahankan nilai adat dan tradisi. Tidak hanya mengganti aturan, Dia pun terjun untuk memberi contoh langsung kepada Praja Mangkunegaran misalnya memangkas rambutnya menjadi pendek dan membuat tutup kepala yang praktis (Mits). Mangkunegoro VI menjadi inspirasi untuk selalu memberi contoh pada generasi penerus agar bisa tetap mempertahankan nilai-nilai tradisional yang kita miliki dalam pengembangan sesuatu yang berbau modernisasi” jelas Didiet.

Aspek revolusioner dalam diri Mangkunegoro VI semakin terlihat ketika ia memilih untuk mengundurkan diri dan banting setir menjadi pedagang. Pilihan mengundurkan diri pada masa itu masih merupakan konsep yang tidak umum nyaris unthinkable, bagi seorang yang dianggap pemegang kekuasaan yang diamanatkan oleh Tuhan. Ia paham harga dirinya, memegang teguh kedisiplinan dan konsekuen serta persisten untuk mencapai segala yang telah direncanakan.

Kemandirian dan jiwa merdeka Mangkunegoro VI membuatnya tidak merasa berat turun tahta atas kemauannya sendiri. Pengunduran diri tersebut tidak hanya menunjukkan bagaimana hubungan pemerintah kolonial dan penguasa lokal yang subordinatif di akhir masa abad ke-19 dan awal abad ke-20, namun juga bentuk political awareness Mangkunegoro VI sebagai sosok yang modern dalam membaca konteks perubahan awal abad ke-20, di mana pemerintah kolonial Belanda benar-benar menguasai hampir seluruh aspek peri kehidupan di tanah jajahan.

Berbekal pengalamannya yang kaya selama mengurus pabrik gula paling modern di Jawa masa itu, ia dengan begitu percaya diri beralih profesi menjadi pedagang. Dalam konteks era tersebut, Mangkunegoro VI menolak segala bentuk sistem kolonial dengan cara walk out, keluar total dari keadaan macam demikian dan bergabung dengan komunitas baru di Kota Surabaya yang lebih progresif, dimana selanjutnya putra dan menantunya melanjutkan konsep tata negara yang tidak dapat dilaksanakan melalui sebuah Kadipaten.

“Mangkunegoro VI adalah paket komplet seorang pemimpin baru: sederhana, piawai, dan berani. Dengan mempertimbangkan segala aspek kelebihan dan kelemahannya selama memerintah Praja Mangkunegaran, kami kira ia cocok disebut sebagai personifikasi raja baru di awal abad ke-20: the king in the turning of a century”, Bondan menambahkan.

Sikap dan pemikiran Mangkunegoro VI yang berani dan progresif dalam memimpin serta melakukan perubahan mendasar dalam urusan keuangan, fashion, aturan tata krama, gaya hidup di keraton, hingga multikulturalisme dan kebebasan beragama diharapkan mampu menginspirasi anak muda masa kini untuk jadi pembaharu di kehidupannya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

tokoh kerajaan
Editor : Mia Chitra Dinisari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top