Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pentingnya Menjaga Kecukupan Hidrasi Bagi Para Pekerja Aktif di Masa Pandemi

Tubuh yang tidak terhidrasi dengan baik dapat menyebabkan penurunan fungsi, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Dalam jangka pendek, kekurangan air sebanyak 2% saja dapat menurunkan kemampuan kognitif, konsentrasi, performa, dan memori. Dengan mengonsumsi air dalam jumlah cukup, mood juga terjaga dengan baik, sehingga diharapkan dapat mendukung kualitas kerja para pekerja,
Thomas Mola
Thomas Mola - Bisnis.com 18 Desember 2021  |  19:03 WIB
Ilustrasi dehidrasi - Istimewa
Ilustrasi dehidrasi - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Pada masa pandemi, kegiatan dan kebiasaaan masyarakat tak terkecuali kelompok pekerja aktif banyak mengalami perubahan, terutama perilaku yang terkait dengan kesehatan dan pola konsumsi harian.

Konsumsi air merupakan salah satu hal yang menjadi sorotan, karena masyarakat seringkali lupa ataupun menyepelekan pentingnya untuk tetap menjaga kebutuhan hidrasinya selama masa pandemi.

Bekerja dari rumah dengan aktivitas fisik rendah serta didukung ruangan yang nyaman dengan pendingin seringkali menyebabkan tubuh tidak merasa haus. Di sisi lain, bekerja dari kantor mengharuskan pekerja terus memakai masker dan seringkali membuatnya menunda untuk minum karena harus melepas masker.

Dua kondisi tersebut, baik bekerja dari rumah maupun kantor menghadirkan risiko bagi masyarakat untuk menurunkan asupan minumnya dan meningkatkan risiko dehidrasi. Hal itu seperti dikatakan oleh Ahli Ilmu Kedokteran Kerja FKUI, Ade Mutiara saat menjadi pembicara dalam sesi webinar ‘Edukasi Hidrasi Sehat Bagi Pekerja Aktif’ yang diselenggarakan oleh FKUI.

"Dua per tiga tubuh kita terdiri dari air yang fungsinya tidak bisa digantikan oleh zat gizi lain. Karena tubuh tidak bisa memproduksi air, kebutuhan air harus terpenuhi melalui konsumsi cairan dengan jumlah yang cukup agar tubuh dapat berfungsi secara optimal. Pekerja untuk menjalankan aktivitas pekerjaannya memerlukan asupan cairan dengan jumlah yang cukup. Jumlah kebutuhan cairan sebaiknya disesuaikan dengan aktivitas pekerjaan dan juga kondisi lingkungan kerja pekerja tersebut,”ujarnya.

Sementara itu, pada kesempatan yang sama Ahli Ilmu Kedokteran Komunitas FKUI yang juga merupakan tim IHWG FKUI, Dewi Friska, mengatakan hasil penelitian yang dilakukan oleh IHWG untuk mengetahui asupan cairan pekerja aktif di masa pandemi pada 246 pekerja menunjukkan bahwa rata-rata minum para pekerja adalah sebanyak 1882 mL per hari.

Jumlah itu masih di bawah rekomendasi Kementerian Kesehatan bagi laki-laki dewasa. Sebanyak 53,7% pekerja belum mengonsumsi air dalam jumlah yang cukup. Walaupun, sebanyak 89,8% dan 98,4% pekerja menyatakan bahwa telah tersedia air minum yang terjangkau di kantor maupun di rumah, namun tetap terdapat 19,1% pekerja yang tidak terbiasa menyiapkan air minum di meja kerja selama bekerja di kantor.

“Tubuh yang tidak terhidrasi dengan baik dapat menyebabkan penurunan fungsi, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Dalam jangka pendek, kekurangan air sebanyak 2% saja dapat menurunkan kemampuan kognitif, konsentrasi, performa, dan memori. Dengan mengonsumsi air dalam jumlah cukup, mood juga terjaga dengan baik, sehingga diharapkan dapat mendukung kualitas kerja para pekerja,” ujarnya.

Nutrition & Science Director Danone-AQUA, dr. Tria Rosemiarti, sebagai mitra pendukung kebiasaan minum yang baik dan gaya hidup sehat, juga turut menjelaskan bahwa untuk memenuhi kebutuhannya, orang dewasa perlu minum 7 gelas air untuk perempuan dan 8 gelas air untuk laki-laki.

Hal ini didasari oleh rekomendasi Kementerian Kesehatan tahun 2019 dalam pedoman Angka Kecukupan Gizi yang menyebutkan bahwa laki-laki membutuhkan 2500 mL air per hari dan perempuan membutuhkan 2350 mL air per hari. Jumlah ini tentu lebih banyak bagi pekerja yang memerlukan aktivitas tinggi atau bekerja di lingkungan yang panas.

Selain kuantitas air minum, penting juga memperhatikan kualitas air yang di konsumsi. Air minum yang baik tentunya memiliki kriteria tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa dan tidak mengandung zat-zat berbahaya.

“Hal yang perlu diingat juga kita harus memastikan sumber air nya berkualitas dan terlindungi dan telah sesuai dengan standar serta regulasi yang telah ditetapkan oleh BPOM dan pemerintah,” ujarnya.

Ketua IHWG FKUI, Diana Sunardi menyampaikan egiatan ini diharapkan dapat menjadi salah satu sarana untuk membagikan fakta dan informasi terbaru mengenai hidrasi dan kesehatan kepada para pekerja  dan masyarakat secara luas yang semakin relevan pada kondisi pandemi seperti saat ini, melalui program ,PAK RAMA, yaitu Pekerja Aktif Rajin Minum Air.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

air minum kesehatan dehidrasi
Editor : Puput Ady Sukarno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper
To top