Ilustrasi barang mewah/Pexels.com
Fashion

Barang-barang Mewah Disebut akan Lebih Mahal di Tahun 2022, Ini Alasannya

Ni Luh Anggela
Rabu, 2 Februari 2022 - 15:08
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Dua tahun terakhir menjadi masa yang sangat berat bagi sektor barang mewah. Banyak gerai ditutup, peragaan busana terpaksa dihentikan atau digelar secara online, serta naiknya harga bahan baku dan tenaga kerja.

Meskipun begitu, penjualan barang mewah secara global membuat sektor ini pulih ke tingkat pra-pandemi pada tahun 2021 kemarin. Diketahui, saham sektor ini naik 4 persen dari tahun ke tahun, mengungguli pasar ekuitas yang lebih luas untuk tahun keenam berturut-turut.

"Keuntungan juga meningkat sepenuhnya berkat negosiasi ulang sewa dan penghematan biaya lainnya yang dilakukan di awal pandemi," ungkap analis, dilansir dari CNA Luxury pada Rabu (2/2/2022).

Akan tetapi, harus dikatakan bahwa pemulihannya belum merata. Hanya merek-merek besar yang didukung oleh konglomerat dengan jangkauan geografis luaslah yang telah memperoleh keuntungan, sedangkan para pemain yang lebih kecil masih berjuang keras, bahkan tak sedikit yang bangkrut.

Di sisi lain, meski pengeluaran barang mewah telah kembali ke level 2019 di AS, China, dan Korea, penjualan di Eropa dan Jepang masih tetap tertekan akibat kurangnya wisatawan dan adopsi vaksin yang lambat.

Oleh sebab itu, sejumlah pihak pun memperkirakan bahwa gambaran penjualan barang-barang mewah pada tahun 2022 ini lebih mendung daripada tahun lalu.

Bersamaan dengan itu, berikut sejumlah hal yang harus diperhatikan:

1. Pengeluaran barang mewah akan melampaui rekor

Demi menekan pengeluaran agar tidak begitu tinggi, Goldman Sachs pada bulan November lalu memangkas proyeksi pertumbuhan barang mewah 2022 dari 13,5 persen menjadi 9 persen. Adapun alasannya karena kekhawatiran seputar PDB China, harga properti, dan kebijakan Common Prosperity.

2. Harga produk mewah lebih mahal

Merek-merek mewah, seperti Louis Vuitton, Hermes, dan Chanel ternyata menaikkan harga produknya selama pandemi Covid-19. Chauvet dari Citi mengatakan kenaikan harga tersebut pun akan berlanjut hingga 2022 lantaran meningkatnya biaya material dan tenaga kerja.

3. Merek-merek terkenal mengambil rantai pasokan yang lebih besar

Merek-merek terkenal, termasuk Chanel, Prada, dan Zegna sudah mulai mendapatkan lebih banyak pemasok karena akses ke bahan dan produsen terbaik menjadi lebih sulit dan mahal. Strategi tersebut diperkirakan akan berlanjut di tahun 2022.

Kepada Financial Times, CEO Zegna Gildo Zegna mengatakan bahwa mereka berencana untuk menggunakan dana dari daftar publik guna melakukan lebih banyak akuisisi di seluruh rantai pasokannya. Sementara, presiden Chanel Bruno Pavlovsky mengatakan perusahaannya merencanakan investasi tambahan di rantai pasokannya setelah membeli sekitar dua lusin pemasoknya tahun lalu.

4. Pasar barang bekas akan lebih luas daripada pasar barang mewah

Selama masa pandemi, pasar barang bekas mengalami pertumbuhan yang cukup baik. Diperkirakan penjualannya mencapai €33 miliar pada tahun lalu. Bertolak dari fakta itu, analis pun berharap, merek-merek ternama turut memfasilitasi penjualan barang bekas secara langsung melalui situs web mereka.

5. Industri akan kurang berkelanjutan

Tingginya permintaan atas barang-barang mewah membuat industri yang ada menjadi kurang sustainable, terutamanya terhadap lingkungan. Hal ini sebetulnya cukup disayangkan, mengingat bahwa beberapa tahun terakhir industri barang mewah telah membuat langkah signifikan dengan mendaur ulang dan menggunakan kain bersertifikat-sustainable fabrics.

6. NFT akan mencapai tipping point

Menurut Bain, pada 2025 Gen Z akan menyumbang lebih dari satu pembelian barang mewah. Untuk bisa menjangkau mereka, merek-merek besar pun akan berinvestasi lebih jauh dalam kemitraan gim dan NFT.

Sementara itu, laporan Morgan Stanley memprediksi bahwa gim metaverse dan NFT adalah peluang pendapatan tahunan €50 miliar untuk perusahaan mewah, serta dapat menawarkan peningkatan 25 persen untuk keuntungan industri pada tahun 2030.

7. Merek mewah akan berinvestasi lebih banyak di e-commerce

Setelah sempat mengandalkan department store online dan saluran grosir lainnya untuk sebagian besar penjualan online mereka, merek seperti Gucci dan Alexander McQueen akan bermigrasi ke model konsinyasi dan meningkatkan situs web mereka sendiri, memberi mereka kendali lebih besar atas inventaris, harga, dan hubungan pelanggan.

Penulis : Ni Luh Anggela
Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro