Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Studi: Kekurangan Vitamin D Bisa Memperparah Pasien Covid-19

Studi terbaru yang dirilis oleh peneliti asal Israel mengungkapkan kekurangan vitamin D bisa memperparah kondisi pasien Covid-19 hingga menyebabkan kematian.
Nabila Dina Ayufajari
Nabila Dina Ayufajari - Bisnis.com 15 Februari 2022  |  16:13 WIB
Bahan makanan yang kaya kandungan vitamin D - Istimewa
Bahan makanan yang kaya kandungan vitamin D - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Hasil studi terbaru menyatakan bahwa kekurangan vitamin D dapat menyebabkan kasus Covid-19 yang parah hingga kematian daripada yang memiliki kadar vitamin cukup.

Penelitian yang dipublikasikan di 'PLOS ONE Journal’ menunjukkan pentingnya nutrisi vitamin D untuk kekebalan tubuh. Para peneliti dari Fakultas Kedokteran Azrieli Universitas Bar-Ilan di Safed dan Pusat Medis Galilee di Nahariya (Israel) menganalisis kadar vitamin D sebelum infeksi Covid-19, dengan memfasilitasi penilaian yang lebih akurat daripada selama rawat inap. Ketika kadarnya mungkin lebih rendah akibat penyakit virus.

Temuan yang dilaporkan dibangun berdasarkan hasil yang awalnya diterbitkan di MedRxiv. Catatan dari 1.176 pasien yang dirawat antara April 2020 hingga Februari 2021 ke Galilee Medical Center (GMC), dengan tes PCR positif dicari untuk kadar vitamin D yang diukur dua minggu hingga dua tahun sebelum infeksi.

"Pasien dengan defisiensi vitamin D [kurang dari 20 ng/mL] 14 kali lebih mungkin memiliki kasus Covid-19 yang parah atau kritis dibandingkan mereka yang memiliki lebih dari 40 ng/mL," tulis penelitian tersebut seperti dikutip dari Hindustan Times pada Selasa (15/2/2022).

Perolehan dari penelitian tersebut yang mengejutkan, yaitu kematian di antara pasien dengan kadar vitamin D yang cukup adalah 2,3 persen. Hal ini berbeda dengan 25,6 persen pada kelompok yang kekurangan vitamin D.

Penelitian ini disesuaikan dengan usia, jenis kelamin, musim (panas/ dingin), penyakit kronis, dan menemukan hasil serupa bahwa tingkat vitamin D yang rendah berkontribusi secara signifikan terhadap keparahan penyakit dan kematian.

“Hasil kami menyarankan bahwa disarankan untuk mempertahankan kadar vitamin D normal. Ini akan bermanfaat bagi mereka yang tertular virus,” kata Dr. Amiel Dror, pemimpin penelitian dari Pusat Medis Galilee dan Fakultas Kedokteran Universitas Bar-Ilan Azrieli.

Menurutnya, ada konsensus yang jelas untuk suplementasi vitamin D secara teratur seperti yang disarankan oleh otoritas kesehatan setempat serta organisasi kesehatan global.

Sementara itu, Dr. Amir Bashkin, seorang Ahli Endokrinologi yang berpartisipasi dalam penelitian ini.

“Ini terutama berlaku untuk pandemi Covid-19 ketika vitamin D yang cukup memiliki manfaat tambahan untuk respons kekebalan yang tepat terhadap penyakit pernapasan," imbuhnya.

Kemudian, Prof. Michael Edelstein, dari the Azrieli Fakultas Kedokteran Universitas Bar-Ilan juga menambahkan bahwa studi ini menunjukkan bahwa riwayat kekurangan vitamin D pasien adalah faktor risiko prediktif yang terkait dengan perjalanan penyakit klinis dan kematian Covid-19 yang lebih buruk.

Menurut penelitian ini, vitamin D merupakan salah satu bagian untuk memecahkan teka-teki kompleks yang mendasari kasus Covid-19 parah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Virus Corona vitamin d Covid-19 gejala covid-19
Editor : Feni Freycinetia Fitriani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top