Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

3 Faktor Pengaruh Risiko Kerusakan Paru pada Penyintas Covid-19

Penting untuk diketahui! Berikut adalah sejumlah faktor yang memengaruhi risiko kerusakan paru-paru pada pasien pascaCovid-19.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 31 Maret 2022  |  10:02 WIB
Ilustrasi dokter melihat hasil rontgenparu-paru. - Antara
Ilustrasi dokter melihat hasil rontgenparu-paru. - Antara

Bisnis.com, SOLO - Virus SARS-COV2 penyebab Covid-19 dapat mengakibatkan kerusakan pada dinding kantung udara paru-paru, sehingga membuat pasien sesak napas dan mengalami pneumonia parah atau acute respiratory distress syndrome (ARDS).

Permasalahannya, kondisi tersebut bisa turut terjadi bahkan setelah sang pasien dinyatakan sembuh. Hal itu pun diungkapkan oleh Dokter spesialis paru dan pernapasan, dr. Amira Anwar, Sp.P, FAPSR.

"Bahkan setelah penyakit berlalu, cedera paru-paru akibat Covid-19 dapat menyebabkan kesulitan bernapas yang mungkin membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk membaik. Karenanya, pasien sangat disarankan untuk berkonsultasi ke dokter dan melakukan evaluasi pada satu, tiga, dan enam bulan selepas dinyatakan sembuh dari Covid-19," kata Amira, dikutip dari Antara pada Kamis (31/3/2022).

Ia lantas menjelaskan bahwa terdapat tiga faktor yang mempengaruhi risiko kerusakan paru pada pasien pascaCovid-19.

Amira memaparkan Pertama, yakni tingkat keparahan penyakit. Apakah pasien mengalami gejala ringan, sedang, atau berat ketika terinfeksi Covid-19. Dalam hal ini, pasien dengan gejala ringan cenderung lebih jarang memiliki cedera/parut yang bertahan lama di jaringan paru.

Kedua, yaitu kondisi kesehatan. Apakah pasien memiliki penyakit komorbid seperti penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) atau penyakit jantung yang dapat meningkatkan risiko penyakit bertambah parah.

Umumnya, orang yang berusia lanjut juga lebih rentan mengalami kasus Covid-19 yang parah. Hal ini terkait dengan jaringan paru yang sudah mengalami penuaan (degeneratif), sehingga kondisinya lebih tidak fleksibel jika dibandingkan dengan jaringan paru pada seseorang yang berusia lebih muda.

Ketiga, ialah tindakan pengobatan. Pemulihan pasien dan kesehatan paru-paru jangka panjang akan bergantung pada jenis perawatan apa yang mereka dapatkan, dan seberapa cepat pengobatan dilakukan. Pada pasien dengan gejala berat, perawatan yang tepat selama di rumah sakit dapat meminimalkan kerusakan paru-paru.

Sementara itu, ada enam kelompok yang rentan terhadap post Covid-19 syndrome, yaitu jenis kelamin perempuan, usia di atas 50 tahun, memiliki lebih dari lima gejala ketika terinfeksi, etnis kulit putih, mempunyai komorbid, dan obesitas.

Biasanya pasien dengan sindrom pernapasan pascaCovid-19 diberi dua jenis terapi, yakni terapi farmakologis lewat obat-obatan yang diberikan sesuai gejala untuk mengurangi batuk dan sesak, juga diberi vitamin.

Lalu, terapi kedua adalah non-farmakologis seperti rehabilitasi paru, terapi oksigen, psikoterapi, olahraga sesuai kemampuan dan nutrisi.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

paru-paru Virus Corona Covid-19 pasien sembuh COVID-19
Sumber : Antara
Editor : Aliftya Amarilisya

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper
To top