Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Mengenal Sosok RA Kartini, Pejuang Emansipasi Perempuan

Menjelang peringatan hari lahir RA Kartini, mari kita cari tahu lebih dalam tentang sosok pejuang emansipasi perempuan Indonesia ini.
1

Pernikahan dan Sekolah untuk Perempuan

RA Kartini / aquila style
RA Kartini / aquila style
Bagikan

Singkat cerita, Kartini lalu dijodohkan dengan bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, yang sudah pernah memiliki tiga istri. Mereka lalu menikah pada tanggal 12 November 1903.

Beruntungnya, sang suami mengerti keinginan Kartini. Ia lantas diberi kebebasan dan didukung mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka.

Kartini lalu dikaruniai anak yang diberi nama Soesalit Djojoadhiningrat yang lahir pada tanggal 13 September 1904. Namun, beberapa hari kemudian setelah melahirkan, pada 17 September 1904, Kartini meninggal. Ia mengembuskan napas terakhirnya pada usia 25 tahun, lalu dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang.

Nah, berkat kegigihan Kartini, setelahnya pun didirikan Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini di Semarang pada 1912, dan kemudian di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon. Nama sekolah tersebut adalah Sekolah Kartini. Yayasan Kartini ini didirikan oleh keluarga Van Deventer, seorang tokoh Politik Etis.

Meski tidak sempat berbuat banyak untuk kemajuan bangsa dan Tanah Air, Kartini mengemukakan ide-ide pembaruan masyarakat yang melampaui zamannya melalui surat-suratnya yang bersejarah.

Cita-citanya yang tinggi itu pun dituangkan dalam surat-suratnya kepada kenalan dan sahabatnya orang Belanda di luar negeri, seperti Tuan EC Abendanon, Ny MCE Ovink-Soer, Zeehandelaar, Prof Dr GK Anton dan Ny Tuan HH von Kol, dan Ny HG de Booij-Boissevain.

Kini, surat-surat Kartini diterbitkan di negeri Belanda pada 1911 oleh Mr JH Abendanon dengan judul Door Duisternis tot Licht. Lalu, diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Armijn Pane pada 1922 dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang.

-----

Berita ini telah tayang di Solopos.com dengan judul "Mengenal Sosok RA Kartini, Ini Biografinya"

2 dari 2 halaman

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kartini hari kartini pahlawan
Sumber : JIBI/Solopos.com
Editor : Aliftya Amarilisya
Bagikan

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top