Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Fatmawati, Istri Presiden Soekarno Asal Bengkulu, Sang Penjahit Bendera Merah Putih

Fatmawati adalah sosok yang menggagas dan menjahit bendera merah putih dengan tangannya sendiri.
Mia Chitra Dinisari
Mia Chitra Dinisari - Bisnis.com 17 Agustus 2022  |  10:04 WIB
Fatmawati, Istri Presiden Soekarno Asal Bengkulu, Sang Penjahit Bendera Merah Putih
Sejumlah penari membawa bendera Merah Putih dalam acara Peluncuran Tahapan Pemilu 2024 di Gedung KPU, Jakarta, Selasa (14/6/2022). Acara tersebut menjadi penanda secara resmi dimulainya tahapan-tahapan Pemilu, yakni Pemilu serentak pada 14 Februari 2024 dan Pilkada serentak pada 27 November 2024. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra - wsj.
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Jika ada pertanyaan siapakah penjahit bendera merah putih? Pasti Anda akan menjawabnya Fatmawati.

Yah, istri dari Presiden Soekarno itu memang yang menjahit bendera sang saka merah putih jelang kemerdekaan RI.

Dikutip dari kemensos.go.id, Fatmawati adalah sosok yang menggagas dan menjahit bendera merah putih dengan tangannya sendiri. Bendera Sang Saka itulah menjadi bendera pertama yang dikibarkan saat Upacara Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945 yang lalu.

Gagasan Fatmawati ini mendahului ide agung Ir.Soekarno dan tokoh kemerdekaan lainnya. Kala itu, Fatmawati tidak sengaja mendengar teriakan bahwa bendera Indonesia belum ada saat Ir.Soekarno bersama tokoh lainnya sedang berkumpul menyiapkan peralatan untuk pembacaan naskah teks proklamasi.

Tanpa pikir panjang, segera Fatmawati mencoba untuk menjahit bendera Sang Saka Merah Putih. Walau hanya ‘Merah dan Putih’ tentu saja bukan perkara mudah bagi Fatmawati yang saat itu sedang hamil besar.

Dengan menggunakan alat jahit tangan, bendera Merah Putih berukuran 2x3 meter itu dijahit oleh Fatmawati di ruang makan dengan harapan kelak dapat digunakan untuk keperluan bangsanya.

Dalam Buku berjudul Berkibarlah Benderaku (2003), yang ditulis oleh Bondan Winarno, diketahui Fatmawati sambil menitikan air mata ketika menjahit bendera ini. Bukan tanpa alasan, sebab saat itu Fatmawati tengah menanti kelahiran Guntur Soekarnoputra, yang memang sudah bulannya untuk dilahirkan.

Di buku tersebut juga dijelaskan bahwa Fatmawati menjahit menggunakan mesin jahit Singer yang hanya bisa digerakan menggunakan tangan saja. Karena mesin jahit yang menggunakan kaki, tidak diperkenankan mengingat usia kehamilan Fatmawati yang tinggal menunggu waktunya saja untuk melahirkan. Fatmawati baru menyelesaikan jahitan bendera Merah Putih itu dalam waktu dua hari.

Bendera Merah Putih berukuran 2x3 meter itu untuk  pertama kalinya dikibarkan pada tanggal 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta.

Bertahun-tahun bendera Sang Saka yang dijahit oleh Fatmawati ini dikibarkan dalam upacara kenegaraan. Sampai akhirnya bendera tersebut digantikan oleh duplikatnya mengingat usianya yang sudah tua. Untuk menjaga keutuhannya, Sang Dwiwarna selanjutnya difungsikan sebagai Bendera Pusaka dan disimpan di tempat terhormat di Monumen Nasional.

Di perjuangan semasa hidupnya, Fatmawati bukan hanya menjadi tokoh Nasional, namun bagi masyarakat Provinsi Bengkulu sendiri sangat bangga akan sosok beliau sebagai seorang gadis Bengkulu yang bisa membuktikan di mata dunia bahwa Bengkulu punya tokoh nasional yang dikenang sampai sekarang ini.

Dalam tugasnya sebagai Ibu Negara, Fatmawati setia mendampingi Bung Karno sebagai Presiden. Di setiap kesempatan, Fatmawati selalu tampil sederhana. Ia memberikan teladan yang baik bagi perempuan Indonesia baik dalam bersikap, bertingkah laku maupun berpakaian. Kemanapun pergi, Fatmawati selalu memakai kerudung yang menjadi ciri khasnya dan Ir.Soekarno selalu memujinya.

Pengaruh sosialiasi melalui ajaran dan pengalaman dalam kehidupan keluarga dan lingkungan sosialnya, telah mampu membentuk karakter Fatmawati menjadi seorang anak yang tidak sekedar patuh pada tradisinya, tetapi lebih cenderung untuk menyikapi segala bentuk potret kehidupan sosio kulturalnya.

Memiliki ayah seorang pendakwah, Hasan Din juga merupakan Ketua Dewan Pimpinan Muhammadiyah Bengkulu, yang mana pendidikan agama menjadi nomor satu dalam keluarganya, sehingga membuat Fatmawati mengenyam pendidikan agama secara ekstra, terutama di Sekolah Standar Muhammadiyah.

Namun, Fatmawati juga mengimbangi pendidikan formalnya di sekolah HIS (Hollandsch Inlandsch School) pada tahun 1930 (Fatmawati,1978: 20-21). Tumbuh di tengah keluarga terpandang dan pribadi yang sangat menarik membuat semua mata tertuju pada sosok gadis Bengkulu ini bahkan menjadi buah bibir di masyarakat.

Ir.Soekarno yang akrab disapa Bung Karno ini, tak sungkan meminta pendapat kepada Fatmawati selaku istrinya dalam mengambil langkah-langkah atau keputusan mengenai perjuangannya selaku pemimpin pejuang rakyat Indonesia. Daya pikir di luar batas yang dimiliki Fatmawati sudah disadari dari awal oleh Bung Karno.

Begitu banyak peran Fatmawati di dalam kegiatan kenegaraan Republik Indonesia pada masa itu, salah satunya ketika perjuangan rakyat Indonesia telah sampai di titik kulminasi, pada saat masyarakat Indonesia memproklamirkan kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 di Pegangsaan Timur 56, Jakarta oleh Soekarno-Hatta atas nama bangsa Indonesia. Atas jasa Ibu Fatmawati, bangsa Indonesia memiliki bendera Sang Saka Merah Putih.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bendera upacara bendera Bendera Indonesia fatmawati
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top