Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Apa itu Gaslighting? Ini Tanda dan Dampaknya bagi Kesehatan Mental

Gaslighting datang dari pasangan romantis, bos, anggota keluarga, dokter, atau siapa pun yang memiliki posisi berkuasa.
Alifian Asmaaysi
Alifian Asmaaysi - Bisnis.com 03 September 2022  |  16:00 WIB
Seseorang yang mendapat gaslighting dari pasangannya - Freepik.com
Seseorang yang mendapat gaslighting dari pasangannya - Freepik.com
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Istilah gaslighting belakangan banyak disebutkan di kalangan anak muda. Namun, kata tersebut bukan hanya sekedar bahasa gaul belaka. Gaslighting ternyata memiliki makna yang penting untuk diketahui. Lalu apa sebenarnya arti gaslighting itu?

Gaslighting dapat diartikan sebagai kondisi ketika seseorang dengan sengaja mendistorsi kenyataan untuk membuat Anda merasa bahwa apa yang Anda lihat atau rasakan itu tidak nyata, Anda bisa menjadi korban gaslighting. 

Gaslighting bisa datang dari pasangan romantis, bos, anggota keluarga, dokter, atau siapa pun yang memiliki posisi berkuasa. Jika Anda terkena gas, ada langkah-langkah jelas yang dapat Anda ambil untuk menangani pelaku dan mendapatkan bantuan.

Secara lebih lanjut, simak pengertian, tanda dan contoh gaslighting berikut yang penting untuk diketahui.

Apa itu Gaslighting? 

Gaslighting adalah bentuk manipulasi psikologis yang bergantung pada penciptaan keraguan diri. 

Paige Sweer, selaku Asisten Profesor Sosiologi di University of Michigan mengatakan bahwa singkatnya, gaslighting kerap dilontarkan untuk menganggap remeh perasaan seseorang.

“Saya menganggap gaslighting sebagai mencoba mengasosiasikan seseorang dengan label 'gila,'” jelas Paige Sweet dilansir dari Forbes Health pada, Kamis (1/9/2022).

Dampak gaslighting ternyata tidaklah hanya untuk mengesampingkan perasaan seseorang saja, melainkan dapat membuat seseorang tampak atau merasa tidak stabil, tidak rasional dan tidak kredibel, dalam membuat mereka merasa seperti apa yang mereka lihat atau alami tidak nyata dan mengada-ada.

Gaslighting melibatkan ketidakseimbangan kekuatan antara pelaku dan orang yang mereka gaslight. Pelaku sering mengeksploitasi stereotip atau kerentanan yang terkait dengan gender, seksualitas, ras, kebangsaan dan/atau kelas.

Dalam sebuah jurnal yang diterbitkan pada tahun 2019, Andrew D. Spear yakni seorang profesor filsafat di Grand Valley State University di Allendale mengatakan bahwa satu-satunya motif yang dilakukan oleh para gaslighter adalah hanya untuk menggiring korban untuk setuju dengannya.

“Fitur paling khas dari gaslighting adalah bahwa tidak cukup bagi gaslighter hanya untuk mengendalikan korbannya atau membuat segala sesuatunya berjalan sesuai keinginannya. Sangat penting baginya bahwa korban sendiri benar-benar setuju dengannya,” jelas Andrew.

Asal Muasal Gaslighting

Istilah "gaslighting" berasal dari drama tahun 1938 berjudul  Gas Light, yang diadaptasi ke dalam film Gas Light tahun 1940 dan diikuti oleh film Gaslight tahun 1944 yang lebih terkenal, yang dibintangi oleh Charles Boyer dan Ingrid Bergman. 

Dalam setiap karya, protagonis laki-laki meyakinkan istrinya bahwa dia membayangkan hal-hal yang benar-benar terjadi—termasuk peredupan lampu gas rumah—dengan hasil membuatnya percaya bahwa dia sudah gila.

Sejak saat itulah istilah gaslighting kerap digunakan untuk merepresentasikan kondisi dimana saat seseorang melakukan manipulasi psikologis untuk membuat korban sependapat dengannya.

1 dari 2 halaman

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kesehatan mental Revolusi Mental gaslighting
Editor : Novita Sari Simamora
Bagikan

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top