Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Toxic Positivity: Ciri-ciri, Dampak, Contoh dan Cara Mengatasinya

Toxic Positivity adalah perilaku yang mendorong seseorang untuk berusaha keras berbuat dan berpikir positif hingga menekan emosi negatif keluar.
Hana Fathina
Hana Fathina - Bisnis.com 29 November 2022  |  06:19 WIB
Toxic Positivity: Ciri-ciri, Dampak, Contoh dan Cara Mengatasinya
Toxic positivity
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Toxic Positivity merupakan suasana atau kondisi yang memaksakan selalu berprasangka positif sehingga menjadi penyakit mental untuk diri sendiri. Dilansir dari positivepsychology.com, Toxic Positivity adalah mempertahankan bahwa seseorang harus memiliki pola pikir positif dan hanya memancarkan emosi dan pikiran positif setiap saat, terutama Ketika hal-hal sulit. 

Jika kamu merasa tertekan agar selalu terlihat Bahagia, maka kamu sedang mengalami Toxic Positivity. Dilansir dari laman romper, menurut Jennifer Howard Ph.D, nasihat untuk selalu berpikir positif atau membaca buku motivasi yang menyuruh untuk selalu positif thinking setiap saat justru akan membuat seseorang merasa takut, sedih, sakit hingga merasa sendiri. 

Berikut ini adalah beberapa hal tentang Toxic Positivity yang sudah dilansir dari berbagai sumber:

1. Ciri-ciri Toxic Positivity

  • Tidak jujur dengan diri sendiri 
    terkadang niat kita memang baik, untuk memunculkan sisi positif dari dalam diri dihadapan banyak orang agar orang lain terpengaruh menjadi positif juga. Tetapi, jika seseorang memforsir diri untuk terlihat positif hingga tidak mengijinkan emosi keluar, maka itu bukanlah hal yang baik. 

Seseorang dengan Toxic Positivity, cenderung sulit berdamai dengan diri sendiri. Ia akan sulit menerima emosi negatif tersebut keluar dari dalam dirinya. Bahkan ia akan cenderung merasa bersalah jika emosi negatif muncul meskipun karena tidak disengaja. 

  • Menghindari masalah 
    Untuk menekan perasaan negatif muncul, orang yang memiliki Toxic Positivity akan memilih menghindari permasalahan dan bukannya mencari solusi. Hal ini juga tidak tepat, karena dalam hidup kita pasti akan menemui permasalahan yang serupa dan semakin sering menghindarinya akan membuat kita menghadapi masalah yang jauh lebih besar. 
  • Membandingkan diri dengan orang lain
    Terkadang seseorang tanpa sadar menggunakan perbandingan agar dirinya atau lawan bicaranya terlihat lebih baik sedikit dari yang lain. Namun, kondisi ini terlihat tidak tepat jika diterapkan sebagai kata-kata untuk memotivasi seseorang. 
  • Susah untuk mengendalikan emosi 
    Bersikap tidak terbuka dengan diri sendiri juga akan membuat orang tersebut sulit mengelola emosinya. Sehingga secara batin dan jiwanya juga menjadi semakin tidak tenang karena emosi yang tidak terkontrol. 

2. Dampak Toxic Positivity

  • Membiarkan kehilangan 
    Jika kehilangan, emosi kesedihan merupakan hal yang sangat wajar. Seseorang yang berulang kali mendengar pesan untuk Bahagia mungkin merasa seolah-olah orang lain tidak peduli dengan rasa kehilangan itu. Toxic Positivity rentan berdampak buruk. Misalnya jika seseorang yang sudah kehilangan sosok berharga dalam hidupnya disuruh untuk berpikir positif. Kondisi itu menyebabkan orang itu akan merasa kehilangannya tidak terlalu berharga. 
  • Masalah komunikasi 
    Toxic Positivity mendorong  orang untuk mengabaikan fakta, setiap hubungan memiliki tantangan. Karena cenderung berfokus pada hal positif saja. Pendekatan ini merusak komunikasi dan kemampuan untuk memecahkan masalah hubungan. 
  • Mengabaikan bahaya nyata
    Kekerasan dalam rumah tangga ada efek positif yang menyebabkan orang yang mengalami pelecehan atau meremehkan tingkat parahnya. Kondisi itu yang membiarkan tetap dalam hubungan yang kasar. Jika dibiarkan akan menjadi sasaran pelecehan yang terus meningkat, karena terus dalam obsesi berpikir positif. 

3. Cara mengatasi Toxic Positivity

  • Bersikap realistis 
    Ketika menghadapi situasi yang sulit, sangat wajar untuk merasakan stress, ketakutan atau khawatir. Tetapi, kamu bisa belajar mengontrol emosi diri sendiri dan mencari cara untuk menyelesaikan situasi yang menyebabkan hal-hal tersebut. 
  • Memperhatikan perasaan 
    Perhatikan perasaan terhadap situasi sekitar yang bisa memancing Toxic Positivity dapat terjadi. Seperti, membatasi penggunaan sosial media terhadap akun-akun yang sering kali memposting kata-kata motivasi. 
  • Menerima kondisi 
    Jika orang menghadapi tantangan, mereka kemungkinan merasa gugup tentang hal yang akan terjadi di masa depan dan berharap kesuksesan. Emosi orang bisa serumit situasi itu sendiri. 
  • Menulis jurnal 
    Tidak ada salahnya untuk mencari pelampiasan Ketika diri sendiri menghadapi situasi yang kurang baik. Misalnya dengan menulis jurnal atau berbicara dengan teman. Penelitian menunjukkan hanya dengan mengungkapkan apa yang dirasakan ke dalam kata-kata, perasaan negatif bisa mereda. 

4. Contoh Toxic Positivity

  • Ketika seseorang baru saja kehilangan pekerjaan, temannya mengatakan “ambil aja hikmahnya”. Meskipun komentar tersebut bertujuan untuk menunjukkan simpati, tetapi juga menghentikan apa pun ingin dikatakan tentang apa yang dialaminya.
  • Ketika seseorang mengungkapkan kekecewaan atau kesedihan, orang lain memberi tahu bahwa “kebahagiaan adalah pilihan”. Hal ini menunjukkan bahwa jika merasakan emosi negatif, itu salah dari diri sendiri karena tidak memilih untuk Bahagia. 
    Itulah beberapa hal tentang Toxic Positivity yang mungkin baru kamu tahu. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Toxic Manusia Toxic positif gaya hidup tips gaya hidup tips bahagia
Editor : Novita Sari Simamora
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top