Menuju Gunung Everest dari Nepal/iciclesadventuretreks.com
Travel

Detik-detik Mencekam Proses Evakuasi Pendaki Malaysia yang Terjebak di Gunung Everest

Arlina Laras
Kamis, 1 Juni 2023 - 13:34
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Misi penyelamatan di daerah dataran tinggi, terutama di "zona kematian" di Gunung Everest, memang sering kali dianggap sangat sulit bahkan berisiko tinggi. 

Kondisi cuaca yang ekstrem, ketidaktersediaan oksigen yang cukup, medan yang berbahaya, dan tantangan fisik yang ekstrem membuat penyelamatan di daerah tersebut menjadi tugas yang sangat berat. 

Beberapa orang bahkan menganggap upaya penyelamatan di "zona kematian" sebagai upaya bunuh diri karena potensi bahaya yang sangat besar.

Namun, Gelje Sherpa, seorang pemandu Sherpa berusia 30 tahun asal Nepal, berhasil melakukan aksi heroik dengan menyelamatkan seorang pendaki Malaysia yang terjebak di "zona kematian" Gunung Everest. 

Meskipun menyadari tingkat risiko yang tinggi, Gelje Sherpa mengambil tindakan berani untuk menyelamatkan nyawa pendaki tersebut di area dengan suhu minus 30 derajat Celsius (86 derajat Fahrenheit) atau bahkan lebih rendah. 

Proses Evakuasi Awal

Awalnya, pada 18 Mei 2023, saat Gelje Sherpa sedang memandu klien Tiongkoknya menuju puncak Everest, dia melihat pendaki Malaysia yang berada dalam kondisi terjepit dan menggigil kedinginan, lantaran suhu yang bisa turun hingga minus 30 derajat celcius.

“Kami tidak dapat membawa pendaki tersebut dengan menggunakan tandu, sehingga kami harus memikulnya,” ungkap sosok Gelje Sherpa tersebut. 

Dia bercerita, dirinya harus menarik pendaki asal Malaysia sejauh 600 meter (1.900 kaki) dari area Balcony ke South Col selama sekitar enam jam. 

South Col sendiri adalah sebuah lembah yang terletak di antara puncak Everest dan Lho La Pass di perbatasan Nepal-Tibet. Lembah ini merupakan kamp tingkat tinggi yang sering digunakan oleh para pendaki saat melakukan pendakian ke puncak Everest. 

Setelah sekian lama berjuang melakukan penyelamatan seorang diri, akhirnya seorang pemandu lain yang berada di South Col, Nima Tashi Sherpa bergabung dalam penyelamatan tersebut. 

"Kami membungkus pendaki dengan tikar tidur. Di sana kami mulai dari menarik hingga memikul bahkan menggendong pendaki tersebut untuk memindahkannya ke kamp III." kata salah satu Gelje dilansir dari Youtube Reuters, Senin (01/6/2023). 

Meski sempat mengalami kesulitan, akhirnya sebuah helikopter pun melintas dengan membawa tali panjang guna mengangkat sang pendaki yang kritis ini dari kamp III menuju ke kamp dasar.

Membatalkan Pendakian ke Puncak Everest

Bagi kedua pendaki asal Nepal tersebut, menyelamatkan nyawa pendaki tersebut lebih penting daripada mencapai puncak.

Hal tersebut tercermin bagaimana sang Gelje yang membawa pendaki asal Tiongkok itu meyakinkan kliennya untuk menghentikan pendakiannya ke puncak dan memilih fokus pada penyelamatan pendaki Malaysia yang membutuhkan bantuan. 

 “Uang dapat diperoleh kapan saja, tetapi nyawa seseorang tidak dapat dikembalikan," katanya. 

Dalam pernyataan lain, Gelje Sherpa juga menggunakan metafora yang menyampaikan pesan bahwa menyelamatkan satu nyawa memiliki bobot yang lebih besar daripada melakukan ritual keagamaan di biara.

“Menurut saya menyelamatkan satu nyawa lebih penting dibanding berdoa di biara,” ujar dirinya yang juga merupakan penganut agama Buddha yang taat. 

Dalam kasus ini, Tashi Lakhpa Sherpa dari perusahaan Seven Summit Treks yang menyediakan logistik bagi pendaki Malaysia itu menolak untuk menyebutkan identitas pendaki tersebut demi menjaga privasinya. 

Namun pihaknya melaporkan, usai dilakukan penyelamatan, pendaki tersebut kemudian diterbangkan kembali ke Malaysia pada minggu lalu.

Sementara itu, pejabat Departemen Pariwisata Nepal, Bigyan Koirala menilai penyelamatan pendaki di ketinggian seperti itu hampir tidak mungkin dilakukan. Dia menyebut kejadian ini sebagai operasi yang sangat langka.

Sudah 12 Pendaki Meninggal

Saat ini, Nepal sendiri mengeluarkan 478 izin pendakian untuk musim pendakian Maret hingga Mei 2023. 

Izin tersebut dikeluarkan kepada para pendaki yang ingin mencoba mencapai puncak Everest selama periode tersebu untuk mengatur jumlah pendaki yang ada di gunung, memastikan keamanan dan mengatur logistik yang diperlukan selama ekspedisi.

Meski, jumlah izin yang dikeluarkan bisa bervariasi setiap tahunnya tergantung pada kebijakan dan regulasi yang ditetapkan oleh otoritas pendakian di Nepal.

Akan tetapi, selama musim pendakian Maret hingga Mei, setidaknya 12 pendaki telah meninggal dunia di Gunung Everest. 

Angka ini merupakan jumlah kematian tertinggi dalam delapan tahun terakhir. Selain itu, ada lima pendaki lainnya yang masih hilang di lereng Gunung Everest dan belum ditemukan

Penulis : Arlina Laras
Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro