Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Dari Sisi Psikologis, OCD Hanyalah Fenomena Latah

Kebanyakan orang pada latah, mereka yang berlomba-lomba ingin menerapkan OCD adalah tipe orang yang menginginkan segala sesuatu dengan instan tanpa pikir panjang
Deliana Pradhita Sari
Deliana Pradhita Sari - Bisnis.com 24 November 2013  |  21:09 WIB
Dari Sisi Psikologis, OCD Hanyalah Fenomena Latah
Bagikan

Bisnis.com, Jakarta--Obsessive Corbuzier Diet (OCD), program diet yang menerapkan puasa dalam jangka waktu tertentu atau disebut dengan intermittent fasting yang dipopulerkan oleh Deddy Corbuzier, telah menjadi fenomena tersendiri dalam masyarakat.

Fenomena ini bertkembang kian pesat dikarenakan banyak terdapat testimoni-testimoni dari beberapa pihak yang mengklaim sukses menurunkan berat badan dengan cara OCD.

Hal ini didukung juga oleh penampilan Deddy di acara televisi yang kerapkali memamerkan bentuk tubuhnya yang maskulin.

Dra. Sugiarti Musabiq, M.Kes, Psikolog Kesehatan Klinis dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia (LPTUI) mengatakan fenomena yang berkembang ini tak lain tak bukan hanyalah euforia semata dari apa yang dilihat masyarakat secara visual.

“Kebanyakan orang pada latah, mereka yang berlomba-lomba ingin menerapkan OCD adalah tipe orang yang menginginkan segala sesuatu dengan instan tanpa pikir panjang,” katanya ketika dihubungi Bisnis.com belum lama ini.

Dia juga menambahkan fenomena penurunan berat badan dengan cara seperti ini (OCD) hanya terjadi pada sebagian orang saja, yaitu orang yang labil yang tidak menerima citra bentuk tubuh.

“Mereka selalu merasa kurang dengan penampilan fisik yang mereka punya, jadi ketika ada publik figur yang memamerkan penampilan fisik yang mereka anggap sempurna, mereka akan langsung mengikuti apa yang publik figur tersebut lakukan,” ujarnya.

Orang-orang tersebut menganggap bahwa OCD itu mudah, hanya butuh puasa beberapa jam, tanpa olahraga dan tanpa memikirkan berapa gram cakupan gizi pada makanan yang harus dikonsumsi.

Padahal, program diet itu tidak sembarangan dilakukan, tambahnya,tidak bisa dilakukan hanya berdasarkan perasaan subjektif semata.

“Jika mau kurus, tidak asal-asalan. Harus mengidentifikasi berat badan dengan indeks masa tubuh,” paparnya.

Mengikuti tren untuk menurunkan berat badan adalah cara yang salah.

Meskipun beberapa pihak mengaku berhasil menurunkan berat badan dan mendapatkan tubuh ideal setelah mengikuti tren OCD, hal itu bukan menjadi patokan orang berhasil dengan program dietnya.

Diet tidak akan pernah dikatakan berhasil jika dari diet tersebut menimbulkan efek negatif pada organ tubuh.

Jika diet tersebut tidak menganjurkan sarapan sehingga membuat orang mudah mengantuk, sistem metabolisme juga terganggu, maka diet tersebut dikatakan tidak berhasil.

Diet yang baik adalah proses penurunan berat badan tanpa mengacaukan sistem kerja organ lain.

Salah satu program OCD adalah tidak sarapan. Hal itu sangan bertentangan dengan 6 pola hidup sehat yang dicanangkan oleh Kementerian Kesehatan, a.l. tidur minimal 7 jam sehari, berat badan yang sesuai, tidak merokok, tidak minum alkohol, olahraga rutin dan sarapan tiap hari yang rendah lemah dan kaya serat.

Menurut Sugiarti, diet memang merupakan sebuah pilihan. Namun jangan sampai terbawa arus dan harus dicermati dengan  indeks masa tubuh sekaligus efeknya.

Orang harus lebih bijak mencermati pola diet tanpa harus melihat citra tubuh berdasarkan perasaan subjektif  semata.  (ra)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

lifestyle hidup sehat diet
Editor : Rustam Agus
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top