Tekanan Kerja Berlebih, Tingkatkan Risiko Alzheimer

Terus bekerja dalam tekanan, ditambah gagal mencapai ekspektasi yang diinginkan dalam dunia kerja, ternyata juga bisa meningkatkan risiko terkena Alzheimer.
Yustinus Andri DP | 07 Januari 2015 10:15 WIB
Ilustrasi - Redorbit

Bisnis.com, JAKARTA- Terus bekerja dalam tekanan, ditambah gagal mencapai ekspektasi yang diinginkan dalam dunia kerja, ternyata juga bisa meningkatkan risiko terkena Alzheimer.

Alzheimer adalah penyakit penurunan fungsi saraf otak secara kompleks dan progresif. Sehingga membuat kemampuan seseorang untuk berpikir, berkomunikasi, mengingat, dan bersosial pun terus menurun.

Executive Director Alzheimer’s Indonesia, DY Suharya, mengatakan bahwa penyebab penyakit tersebut cukup banyak seperti gizi buruk, depresi, diabetes, trauma, hingga kurang berolahraga.

Sehingga bukan hal yang mengejutkan bila tekanan kerja yang berlebihan dan kurangnya kontrol diri ketika gagal mencapai ekpektasi tertentu. Memicu timbulnya penyakit Alzheimer.

DY Suharya pun mencontohkan orangtua dari rekannya yang mengalami hal serupa.

“Sewaktu muda tempatnya bekerja memiliki tekanan yang besar. Lalu beliau berambisi jadi pejabat. Tapi gagal, dan beliau jadi stres berat, dan di masa tuanya beliau terkena Alzheimer,” kata DY Suharya saat dihubungi Bisnis, Rabu (7/1/2015).

Untuk itu, DY Suharya pun memberikan masukkan untuk menangkal hal tersebut. Di antaranya adalah perbanyak olahraga, berekreasi, dan rutin menjaga asupan makanan. Fungsinya untuk mengimbangi tingkat stres yang tinggi di dunia kerja.

Selain itu, berusaha berpikir realistis dan tidak terlalu memaksakan diri juga merupakan salah satu tindakan preventif untuk mencegah terserangnya Alzheimer.

“Berusaha alihkan pikiran jika stres, jangan terlalu larut ke dalamnya,” ujar DY Suharya. (Bisnis.com)

 

BACA JUGA:

6 Cara Bergaya dengan Marsala, Tren Warna 2015

Unsur Budaya Lokal Akan Jadi Tren Fashion 2015

Tag : psikologi
Editor : Andhina Wulandari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top