Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

40 Persen Remaja Indonesia Perokok Aktif

Fakta terkait kebiasaan merokok di kalangan remaja di Indonesia terkuak.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 21 September 2016  |  10:00 WIB
40 Persen Remaja Indonesia Perokok Aktif
Merokok - boldsky.com
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA-Fakta terkait kebiasaan merokok di kalangan remaja di Indonesia terkuak.

Dosen Marketing The Business School Edinburg Napier University, London, Nathalia C Tjandra menyatakan hampir sebanyak 40 persen perokok aktif di Indonesia berasal dari kalangan remaja laki-laki.

"Meski konsumsi rokok secara jelas berdampak buruk bagi kesehatan masyarakat, namun konsumsi rokok Indonesia terus naik, bahkan 36,3 persen. Tidak hanya itu 73,3 persen pria di atas 15 tahun pun rentan terhadap rokok," katanya.

Karena itu, ia meminta pemerintah untuk serius melakukan pengendalian tembakau untuk membatasi konsumsi rokok di masyarakat khususnya remaja dan pemuda, sebab jumlah perokok di Indonesia terus mengalami peningkatan setiap tahunnya.

Ia menjelaskan, hingga saat ini pemerintah kesulitan untuk mengendalikan konsumsi rokok, dengan berbagai tantangan yang ada.

Hal itu, katanya, berbeda dengan sejumlah negara maju yang telah berhasil mengendalikan rokok secara efektif, Indonesia masih saja kesulitan mengontrol distribusi rokok di dalam negeri.

Misalnya di Australia, ujarnya, telah berhasil menjalankan kebijakan kemasan rokok polos dalam pengendalian dampak konsumsi rokok.

"Pemerintah Australia berhasil memaksa produsen rokok untuk menghilangkan seluruh bagian penting produk rokok seperti merek dagang, warna kemasan rokok, dan lainnya yang menjadi identitas sebuah produk rokok. Sementara, pemerintah Indonesia belum mampu menjalankan kebijakan serupa," jelas dia.

Bahkan, katanya, sampai saat ini Indonesia pun belum menandatangani dan meratifikasi konvensi kerangka kerja pengendalian tembakau (FCTC). Indonesia merupakan satu-satunya negara di kawasan Asia yang belum tergabung dalam keanggotaan FCTC.

Hal itu terjadi, kata dia, karena kenyataannya industri rokok masih menjadi salah satu industri penghasil pendapatan terbesar negara. Disamping itu, industri rorok juga mampu menyerap jutaan tenaga kerja dalam rantai proses produksinya hingga pemasarannya.

"Tembakau belum bisa dipangkas selama belum ada industri alternatif. Bahkan pemerintah semakin kesulitan membatasi penggunaan rokok di masyarakat, karena kuatnya upaya pemasaran, promosi, sponsorship dan lainnya yang dilakukan oleh perusahaan rokok," ujar dia.

Selain itu, tambah dia, rokok digambarkan sebagai barang yang menarik untuk mencitrakan sosok yang maskulin, penuh petualangan, kebersamaan, dan hal-hal menarik lainnya. Sementara efek samping konsumsi rokok tidak disampaikan secara jelas.

"Akibatnya, pandangan masyarakat ke perusahaan rokok masih bersifat positif, bukan sesuatu yang membahayakan kesehatan dan generasi muda. Disinilah letak ketidakseriusan pemerintah untuk membatasi dan menghentikan penggunaan rokok di masyarakat. Pemerintah mengalami dilematis ekonomi," tutup dia.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perokok remaja

Sumber : Antara

Editor : Mia Chitra Dinisari
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top