Tekan Angka Kematian Ibu dan Anak Perlu Peran Lintas Sektor

Gerakan Kesehatan Ibu dan Anak (GKIA) bekerjasama dengan Jhpiego dan AT&T mengadakan “Lokakarya Pendekatan Human-centered Design untuk Mencari Solusi Penyelamatan Ibu dan Bayi Baru Lahir”.
Wike Dita Herlinda
Wike Dita Herlinda - Bisnis.com 21 September 2016  |  17:18 WIB

Kabar24.com, JAKARTA –Gerakan Kesehatan Ibu dan Anak (GKIA) bekerjasama dengan Jhpiego dan AT&T mengadakan “Lokakarya Pendekatan Human-centered Design untuk Mencari Solusi Penyelamatan Ibu dan Bayi Baru Lahir”.

 

Dalam agenda Every Last Child Campaign Save The Children/GKIA, Menteri Kesehatan Nila Moeloek SPM(K) memperinci sebanyak 305 per 100.000 kelahiran hidup ibu meninggal setiap tahun akibat penyebab kematian yang dapat dicegah di masa kehamilan dan persalinan.

 

Di sisi lain, hasil Survei Kependudukan dan Kesehatan Indonesia (2014) mengindikasikan angka kematian bayi baru lahir cenderung stagnan di 19 kematian bayi per 1.000 kelahiran hidup.

 

Berbagai tantangan hadir dalam upaya memberi layanan berkualitas bagi kesehatan ibu dan bayi baru lahir; seperti keterbatasan akses, minimnya jumlah tenaga kesehatan, hambatan budaya, nutrisi rendah, serta sistem yang lemah dalam proses perekaman data kematian.

 

Sejalan dengan strategi Kementrian Kesehatan tentang pendekatan multisektoral dan lintas program dan pernyataan Bappenas (2014) tentang upaya penurunan angka kematian ibu dan bayi baru lahir, faktor kesehatan hanya berkontribusi sebanyak 40% sedangkan sisanya ditempati oleh kontribusi faktor non-kesehatan berkontribusi.

 

Untuk itu GKIA mengajak berbagai pihak lintas sektoral yang memiliki ketertarikan pada isu ini.

 

“Dengan bersama-sama memikirkan dan memberi rekomendasi terbaik, upaya penyelamatan ibu melahirkan dan bayi baru lahir akan menjadi lebih kuat,” kata perwakilan Presidium GKIA Supriyatiningsih dalam siaran pers, Rabu (21/9/2016).

 

Lokakarya yang bertempat di JW Marriot Hotel Jakarta itu, antara lain membahas penyebab yang berkontribusi terhadap masalah kematian ibu melahirkan dan bayi baru lahir, beserta komitmen para pemangku kepentingan.

 

Kegiatan yang dipimpin oleh dr Harshad Sanghvi, Chief Medical Officer Jhpiego ini dihadiri oleh lintas kementerian dan pemerintah daerah, sektor swasta, dan akademisi.

 

“Semoga berbagai ide yang muncul di sini akan menghasilkan solusi dan kemitraan yang akan berdampak besar bagi kehidupan ibu dan bayi baru lahir di seluruh Indonesia,” kata Senior Director International External Affairs-Asia Pacific AT&T Chris Perera.

 

Sementara itu, Contry Director Jhpiego Nancy Caiola mengaku bangga atas kesediaan para pemangku kebijakan dari lintas sektor untuk turut berpartisipasi dalam lokakarya ini.

 

“Semoga akan melahirkan pemikiran baru untuk menjadi solusi bagi persoalan yang sudah begitu lama kita hadapi ini,” jelasnya. Dia mengaku sejumlah pihak yang terlibat pun merasakan manfaat dari agenda ini.

 

“Saya makin paham tentang isu ini, akan daya dukung untuk kabupaten saya berapapun dana yang diperlukan,” komitmen Bupati Kabupaten Banyumas Jawa Tengah Achmad Husain.

 

Di lain pihak, bagi Business Manager Grab Indonesia Ronald Sipahutar lokakarya ini mampu mendatangkan ide baru. “Siapa tahu ada peluang bisnis baru sebagai dukungan kami dalam penyelamatan ibu dan bayi ini,” jelasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kemenkes, angka kematian ibu, ibu hamil

Editor : Rustam Agus
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top