Ketika Para Pensiunan Naik Panggung Teater

Tergambar sebuah loket kantor pos di salah satu kabupaten, tepatnya di bagian pengambilan uang pensiunan. Sejak pagi, nampak beberapa pensiunan pegawai pemerintah sedang antri. Meski jam operasional sudah menunjukan waktunya buka, mereka belum juga bisa mengambil pensiunan, dikarenakan petugas loket belum juga datang. Pak Giwang dan Pak Sudi tampak gelisah menunggu petugas loket pensiunan.
Mia Chitra Dinisari | 30 Oktober 2017 10:41 WIB
Teater Gandrik dalam lakon pensiun - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Tergambar sebuah loket kantor pos di salah satu kabupaten, tepatnya di bagian pengambilan uang pensiunan. Sejak pagi, nampak beberapa pensiunan pegawai pemerintah sedang antri. Meski jam operasional sudah menunjukan waktunya buka, mereka belum juga bisa mengambil pensiunan, dikarenakan petugas loket belum juga datang. Pak Giwang dan Pak Sudi tampak gelisah menunggu petugas loket pensiunan.

Itu adalah adegan pembuka lakon Pensiunan yang ditampilkan oleh Teater Gandrik, di Auditorium Galeri Indonesia Kaya Minggu (29/10).

Aksi panggung yang diangkat oleh Teater Gandrik ini mengangkat kisah aktivitas pensiunan, dari pegawai negeri sipil yang tengah mengantri uang pensiunan bulanan mereka.

Di tengah aktivitas tersebut, muncul konfilk yang tak terduga dan menjadi kisah utama dari cerita tersebut.

“Lakon ini merupakan karya Heru Kesawamurti (Alm.), penulis naskah yang merupakan salah satu pentolan Teater Gandrik dan pertama kali dipentaskan oleh Teater Gandrik pada tahun 1985. Lakon ini menjadi semangat untuk bersama-sama mendukung dan mengapresiasi karya seni budaya Indonesia. Terus nantikan pertunjukan budaya di tempat ini,” ujar Djaduk Ferianto.

Lakon ini juga menyuguhkan obrolan para pengunjung kantor pos ini, Romo Wiji, seorang pensiunan pegawai negeri tingkat tinggi. Semenjak pensiun dia alih profesi sebagai dukun, membuka praktek dan menawarkan jasa konsultasi dengan kekuatan mistik. Diam-diam memiliki hubungan dengan salah satu pasiennya dan dimulailah siasat dan drama yang diatur sedemikian rupa untuk menutupi aibnya.

Hadir juga ditengah antrian tersebut RA Lukarsariro, seorang priyayi terpandang yang datang bersama sekretarisnya. RA Lukarsariro ini merupakan pemilik jasa pelayanan terpadu yang tidak lain adalah usaha kredit simpan pinjam bagi para pensiunan dengan bunga yang mencekik. Ibu priyayi ini ternyata memiliki bisnis terselubung dengan petugas renternir bernama Ribut, yang menjual barangnya dengan sistem ‘sukarela tapi wajib’ dengan kedok pegawai Yayasan Sosial dan petugas jasa loket yang menyebabkan para pensiunan tidak bisa mendapatkan uang pensiunannya secara utuh dengan dalih sumbangan.

Siasat dan kedok yang terjadi di antrian tersebut terancam terkuak dengan kedatangan sepasang suami istri (Bapak dan Ibu Minggir) yang baru saja kecopetan. Pasangan yang sedang kisruh ini rupanya baru saja mengalami peristiwa yang tragis, anak perempuan mereka yang sedang hamil baru saja ditabrak lari.

Percakapan demi percakapan di ruang tunggu loket kantor pos ini, ternyata menjadi ruang pertemuan sekaligus menyebabkan terkuaknya asal usul kehamilan anak perempuan Pak Minggir dan Bu Minggir serta terbongkarnya siasat terselubung yang ternyata melibatkan banyak orang di ruang tunggu tersebut. Seperti apakah siasat tersebut?

Tag : teater gandrik
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top