Gizi Anak Indonesia Masih jadi Persoalan

Indonesia masih menghadapi masalah serius dalam urusan gizi masyarakat, khususnya persoalan gizi anak. Ahli gizi masyarakat Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof. Dodik Briawan mengatakan bahwa saat ini masalah gizi tidak hanya terjadi dalam bentuk kasus kekurangan gizi saja, tetapi juga kelebihan gizi alias obesitas.
Ilman A. Sudarwan | 24 Januari 2018 06:42 WIB
Ilustrasi - Webmd

Bisnis.com, JAKARTA - Indonesia masih menghadapi masalah serius dalam urusan gizi masyarakat, khususnya persoalan gizi anak. Ahli gizi masyarakat Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof. Dodik Briawan mengatakan bahwa saat ini masalah gizi tidak hanya terjadi dalam bentuk kasus kekurangan gizi saja, tetapi juga kelebihan gizi alias obesitas.

“Di Indonesia itu dalam satu sisi ada yang kekurangn gizi, tapi di sisi lain juga kelebihan gizi. Gizi seimbang itu, supaya asupan yang dimakan oleh anak tidak membuat kekurangan ataupun kelebihan. Filosofi gizi itu harmoni, harus pas,” katanya, Selasa (23/1/2018) di Jakarta.

Dia menuturkan bahwa secara umum dari pola konsumsinya dan asupannya, ada sekitar 30% anak Indonesia yang gizinya tidak terpenuhi. Kondisi ini membawa mereka dalam kobdisi stunting.

Menurutnya salah satu penyebab masalah ini adalah rendahnya konsumsi buah dan sayur pada anak Indonesia. “Kalau dilihat dari data, kalau dijumlahkan sayur dan buah itu baru 60-80 gram sehari untuk anak-anak,” tambahnya.

Jumlah tersebut menurutnya masih jauh dari jumlah asupan sayur dan buah yang disarankan. Saat ini, dia menambahkan, hanya sekitar 2-4% anak di Indonesia yang asupan buah dan sayurnya telah mencukupi.

Prof. Dodik mengatakan kondisi saat ini adalah tantangan bagi orang tua anak untuk bisa mengajak anak mereka memakan sayur dan buah-buahan.

Jika dibiarkan, kondisi anak yang kekuranga sayur dan buah tetapi banyak mengonsumsi makanan lain yang tinggi kandungan gula, garam, dan lemaknya sang anak akan berpotensi mengalami obesitas.

Bahayanya, obesitas ini bisa terus terbawa sampai usia dewasa dan berpotensi mendatangkan penyakit yang lebih berbahaya di masa mendatang.

Tag : gizi anak, gizi anak
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top