Kerajinan Tangan Dalam Fesyen Perlu Dioptimalkan

Perpaduan kerajian tangan atau craftsmanship dalam pergelaran fesyen dapat meningkatkan daya saing di dunia internastional. Sayangnya, penerapan konsep tersebut belum sesuai harapan.
Asteria Desi Kartika Sari | 08 Februari 2018 22:32 WIB
Pengrajin menyulam motif tapis di salah satu rumah warga di Kampung Tapis Negeri Katon, Pesawaran, Lampung, Jumat (5/5). Kain tenun khas Provinsi Lampung itu mulai dilirik wisatawan mancanegara. - Antara/Ardiansyah

Bisnis.com, JAKARTA—Perpaduan kerajian tangan atau craftsmanship dalam pergelaran fesyen dapat meningkatkan daya saing di dunia internastional. Sayangnya, penerapan konsep tersebut belum sesuai harapan.

Perancang Busana Ali Charisma menuturkan, peningkatan kolaborasi dengan kerajinan tangan menjadi pekerjaan rumah untuk meningkatkan nilai jual produk-produk fesyen Indonesia. Menurutnya, pekerjaan tangan belum dipresentasikan secara optimal.

“Kadang-kadang kelihatan murahan, seharusnya kerajian tangan dapat di presentasikan dengan value yang sangat tinggi, di luar negeri itu nilainya sangat bagus,” kataya saat ditemui di Moda Burgo Indonesia.

Salah satu contoh, lanjutnya, apabila produk fesyen dipadukan dengan sulaman yang rapi akan menghasilkan karya yang sempurna. Sebut saja desainer Lenny Agustin.

Dia adalah juara utama pada Lomba Merancang Busana Perkawinan Internasional pada 2003 yang membuat namanya identik dengan gaun pernikahan dan pesta.

Dia memiliki produk fesyen yang dipadukan dengan sulaman tangan dari Kalimatan dalam karyanya. Menurutnya, hasil karya Lenny tersebut mendapatkan respon positif dari internasional.

“Harga whole sale-nya saja bisa sampai 280 euro [atau sekitar Rp4,5 juta],” ujar Ali.

Oleh karena itu, memaksimalkan kerajian tangan menjadi kesempatan Indonesia untuk merebut pasar di internasional. Pasalnya, luar negeri tidak memiliki produk tersebut. Namun, diakui memang belum banyak yang menyadari hal itu.

“Misalnya batiknya lukis tapi dijahit bukan oleh desainer atau belum international, jadi dijahit gradakan. Jadi susah untuk dipamerkan ke luar negeri,” katanya.

Ali menyarankan sebaiknya para pengrajin dikolaborasikan dengan desainer untuk menghasilkan produk fesyen yang bersaing. “Kerajinan tangan Indonesia tidak ditempatkan pada tempat yang tepat,”.

Padahal, Ali mengatakan dari sisi kemampuan, Indonesia memiliki potensi namun memang masih sulit untuk mengumpulkan seluruh pengrajin yang memiliki kualitas bagus. Menurutnya, seharusnya hal tersebut juga menjadi perhatian pemerintah untuk menjaring pengrajin yang berkualitas.

Sementara itu, Perancang Busana Ghea Panggabean pun berharap Indonesia dapat semakin dikenal dan diakui di luar negeri. Untuk itu, Ghea mengakui sudah menjadi agenda wajib mengangkat tema budaya Indonesia dalam pagelaran busana baik di dalam negeri atau luar negeri

Dalam karya busananya, Ghea juga memadukan kerajinan tangan, seperti sulaman dengan ciri khas Minangkabau. “Kita lihat Minangkabau banyak sekali sulaman,” katanya.

Sulaman tersebut ia terapkan dalam karya terbarunya untuk memperingati tahun baru Tiongkok. Bukan masalah mempengringati hari besar negara lain namun tetap mempertahankan gaya budaya sendiri. Justru hal itu dapat memberikan alternatif lain sekaligus sekaligus makin memperkenalkan budaya Indonesia.

Tag : peragaan mode
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top