Hari Buku Harus Jadi Momentum Hasilkan Karya-karya Ramah Anak

Indonesia merupakan bangsa berpenduduk cukup besar dan diperkirakan 270 juta. Namun, budaya membaca masih lemah.
Dika Irawan | 24 April 2018 20:32 WIB
Ilustrasi memilih bahan bacaan di pameran buku. (Solopos/M. Ferri Setiawan )

Bisnis.com, JAKARTA – Indonesia merupakan bangsa berpenduduk cukup besar dan diperkirakan 270 juta. Namun, budaya membaca masih lemah.

Menurut studi Most Littered Nation In The World, minat baca masyarakat Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke 60 dari 61 negara. Demikian kata Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia Susanto dalam keterangan tertulis, Selasa (24/4/2018).

Dia mengatakan, kondisi budaya baca yang lemah, mempengaruhi budaya menulis masyarakat termasuk menulis isu-isu anak. Padahal di era 4.0 meniscayakan pola kecerdasan artifisial dan dikenal sebagai era disruptive innovation.

“Era ini harus mengubah pola pikir dari mental konsumen, ke mental produsen. Mengunggah karya-karya tulisan termasuk buku elektronik harus lebih banyak daripada unggah karya-karya lain,” ujarnya.

Dia menambahkan isu anak harus menjadi perhatian di era distruptif. Apalagi tren bangsa rentan menjadi korban dunia digital cukup tinggi bahkan awal 2018. Sejumlah kasus anak adiksi digital menjadi perhatian nasional.

“Sementara literasi digital yg sehat kepada anak masih lemah. Kondisi ini perlu menjadi perhatian semua pihak, termasuk para penulis agar concern mengangkat isu2 terkini sebagai media edukasi publik.”

Oleh karena itu, lanjutnya, Momentum Peringatan Hari Buku Sedunia, pada 23 April 2018 perlu menjadi semangat baru membudayakan membaca dan menstimulasi masyarakat untuk menulis karya-karya ramah anak.

“Hal ini penting karena kualitas peradaban bangsa ditentukan seberapa jauh kualitas sumber daya manusia suatu bangsa. Inilah kekayaan hakiki untuk menjadi bangsa yg besar dan ramah anak,” ujarnya.

Tag : hari buku nasional
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top