Hindari Serangan Jantung dengan Pola Hidup

Anggota Pakar Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskuler Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Rina Ariani menuturkan, meskipun kita sudah berusaha mencegah, mengobati dan upaya lainnya, tetapi kondisinya belum banyak berubah. Penyakit jantung dan stroke masih menjadi penyebab kematian tertinggi di dunia.
Yoseph Pencawan | 28 April 2018 13:17 WIB
Jantung - Boldsky

Penyakit jantung dan pembuluh darah merupakan penyakit tidak menular terbanyak di dunia. Berdasarkan data yang ada, lebih dari 17 juta orang kehilangan nyawa akibat penyakit jantung dan pembuluh darah.

Kematian akibat penyakit jantung diperkirakan akan terus meningkat hingga mencapai 23,3 juta jiwa pada 2030.

Anggota Pakar Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskuler Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Rina Ariani menuturkan, meskipun kita sudah berusaha mencegah, mengobati dan upaya lainnya, tetapi kondisinya belum banyak berubah. Penyakit jantung dan stroke masih menjadi penyebab kematian tertinggi di dunia.

Sepanjang 2015 saja, mereka yang meninggal karena penyakit jantung mencapai 15 juta orang di dunia, sedangkan yang meninggal di Indonesia termasuk kedua terbanyak. Serangan jantung seringkali terjadi mendadak saat seseorang sedang bersantai, berolahraga, atau aktivitas lain.

Penderitanya pun semakin muda. Ada yang di bawah 30 tahun, tapi saat diperiksa ternyata sudah memiliki penyakit jantung.

“Mau tidak mau kita harus tahu bahwa faktanya sampai saat ini sudah sejak 15 tahun lalu penyakit jantung dan stroke menjadi pembunuh nomor satu di dunia, termasuk di Indonesia,” ujarnya.

Laki-laki dan perempuan memiliki risiko yang sama terkena serangan jantung. Meski ada asumsi perempuan lebih terancam oleh kanker payudara atau kanker serviks, nyatanya penyebab kematian nomor dua pada wanita adalah seranngan sakit jantung.

Alokasi klaim biaya penanganan penyakit jantung lewat BPJS Kesehatan untuk tahun ini pun masuk lima besar dari penyakit lainnya, mencapai sekitar Rp8 triliun.

Bahkan, kata Rina, Amerika Serikat yang masyarakatnya sudah memiliki tingkat kesadaran kesehatan cukup baik saja, biaya yang dihabiskan untuk penyakit jantung masih menempati posisi teratas.

Bukan hanya jantung, setiap penyakit pasti memiliki faktor risiko. Menurut Rina, ada orang-orang tertentu yang lebih rentan mengidap penyakit jantung atau penyakit tertentu. Ada faktor risiko yang bisa dimodifikasi, ada yang tidak bisa.

“Yang tidak bisa diubah, salah satunya adalah usia. Semakin bertambah usia, risiko terkena penyakit jantung juga kian tinggi. Kemudian jenis kelamin,” lanjutnya.

Laki-laki cenderung lebih dahulu berisiko penyakit jantung, sedangkan bagi wanita, setelah masa menopause. Wanita sedikit lebih beruntung dari laki-laki karena mengalami haid. Pada masa haid, wanita lebih terlindungi dari penyakit jantung.

Secara genetik, mereka yang memiliki orang tua atau saudara kandung yang memiliki riwayat serangan jantung, memiliki kecenderungan yang lebih tinggi terkena penyakit tersebut. Ras dan suku bangsa juga dapat menjadi faktor risiko penyakit jantung.

Sementara itu, faktor-faktor yang bisa diubah atau modifikasi yaitu tekanan darah, merokok, gaya hidup, kelebihan berat badan (obesitas) dan kolesterol.

“Faktor-faktor tersebut sebenarnya tidak sulit diubah bila seseorang memang berkeinginan kuat mengubah gaya hidup. Yang paling mudah dan paling baik dilakukan adalah mencegah,” tutur Rina.

Menurut dia, tidak sakit bukan berarti jaminan bahwa seseorang sudah sehat. Akan lebih mudah mengubah gaya hidup daripada membuat batasan, seperti tidak memakan makanan yang tidak sehat.

Terasa Berat di Awal

Mengubah gaya hidup hanya akan terasa berat di awal, tetapi bila sudah dikerjakan dan gaya hidup telah berubah, segalanya akan lebih mudah dan efeknya lebih terasa. “Terutama merokok, kebiasaan ini harus dihentikan dan tidak bisa ditawar. Bukan hanya dengan mengurangi, tetapi harus dihentikan sama sekali.”

Perokok pasif pun memiliki risiko yang sama terkena penyakit jantung. Karena itu, mereka yang tidak merokok sebenarnya berhak untuk menyuruh orang yang merokok menjauh dan berada di lokasi khusus merokok. Perlu diketahui, satu orang meninggal di dunia setiap 6 detik karena penyakit yang berhubungan dengan rokok.

Pola makan pun perlu diperhatikan. “Kalau kita lihat di restoran, sayurnya paling mentok cuma daun singkong sama sayur nangka. Kita lihat restoran Indonesia di manapun, pilihan lauknya mungkin ada 12, tetapi pilihan sayurnya paling banyak cuma dua.”

Menurutnya, pola yang benar adalah setengah dari porsi makanan setiap hari diisi dengan sayur dan buah. Malah untuk karbohidrat, khususnya nasi, cukup seperempat dari porsi makanan dan seperempatnya lagi, barulah protein. Adapun protein yang bagus buat jantung adalah ikan, unggas dan kacang-kacangan. (Yoseph Pencawan)

Tag : jantung
Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top