Bakteri Pseudomonas Aeruginosa Mengintai di Sepanjang Citarum

Bakteri Pseudomonas Aeruginosa diketahui menghuni wilayah sepanjang bantaran Sungai Citarum. Bakteri yang sama juga diidentifikasi berada di bantaran Sungai Ciliwung dan Cisadane.
Nur Faizah Al Bahriyatul Baqiroh | 11 Mei 2018 23:09 WIB
Pemandangan sungai Citarum di kawasan Rajamandala, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Senin (15/1). - ANTARA/Raisan Al Farisi

Bisnis.com, JAKARTA -- Bakteri Pseudomonas Aeruginosa diketahui menghuni wilayah sepanjang bantaran Sungai Citarum. Bakteri yang sama juga diidentifikasi berada di bantaran Sungai Ciliwung dan Cisadane.

Bakteri Pseudomonas Aeruginosa ini adalah jenis bakteri yang berbahaya bagi kesehatan manusia.

"Menurut keterangan tim Medicuss Group, bakteri Pseudomonas Aeruginosa itu resisten terhadap antibiotik, jadi mereka yang terpapar dikhawatirkan bisa mengandung penyakit yang lebih parah," ungkap Doni Monardo, Sekretaris Jenderal Dewan Ketahanan Nasional, pada acara Afternoon Tea di Kantor Kemenko Bidang Kemaritiman, Jakarta, Jumat (11/5/2018).

Dikatakan Doni, berdasar diskusi dengan Dr. Joseph William dari Medicuss Grup, sangat mungkin kehadiran bakteri tersebut disebabkan limbah medis yang dibuang secara tidak bertanggung jawab ke bantaran sungai.

Saat masih menjabat sebagai Panglima Komando Daerah Militer III/Siliwangi, Doni dan tim Kodam berinisiatif membersihkan bantaran Sungai Citarum, Doni mengatakan bahwa timnya memang menemukan limbah medis yang dibuang.

"Kami menemukan limbah medis di lapangan, [di antaranya] yang ada tulisan kantong darah HIV/Aids, kami juga menemukan potongan-potangan tubuh manusia bekas operasi, di samping itu ada juga alat-alat bekas operasi dan sebagainya," kata Doni.

Doni menambahkan jika saat ini dilakukan penelitian kembali dan tidak ditemukan bakteri Pseudomonas Aeruginosa, maka kemungkinan pada musim hujan bakteri tersebut sudah larut. Namun, ia menambahkan, kemungkinan ini  baru berdasarkan asumsi.

Kedua, Doni mengatakan jumlah mata air di DAS (Daerah Aliran Sungai) Citarum juga menyusut. Pada 2009 ditemukan sebanyak 300 mata air. Sedangkan ketika diteliti ulang oleh Ditjen Sumber Daya Air pada 2015, jumlahnya menyusut menjadi 144.

"Kemudian masyarakat yang tinggal di sepanjang Sungai Citarum, tahun 80 atau 90-an, yang dulunya bisa menggunakan air sumur sebagai air minum, sekarang tidak bisa. Mereka kini harus membeli air bersih untuk kebutuhan sehari-hari," lanjut Doni.

Terakhir, Doni menambahkan, menurut data dari sejumlah aktivis lingkungan, masalah Sungai Citarum tidak hanya berdampak di DAS Citarum. Kerusakan ekosistem terjadi mulai dari kutub barat sampai kutub timur wilayah Nasional.

"Terutama karena pengelolaan kawasan tambang, utamanya tambang emas, yang menggunakan merkuri dan juga sianida, dan ini tidak hanya harus diatasi oleh pemerintah, TNI, Polri, namun juga butuh perhatian dari semua pihak," tukasnya.

Tag : sungai citarum
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top