Teknologi Imaging Tekan Biaya Penyakit Kardiovaskular, dengan Catatan...

Teknologi pencitraan yang semakin mutakhir tidak boleh membuat penderita penyakit kardiovaskular melonggarkan penanganan terapi yang dijalaninya.
Yoseph Pencawan | 29 Mei 2018 19:32 WIB
Serangan jantung - boldsky.com

Bisnis.com, JAKARTA - Teknologi pencitraan yang semakin mutakhir tidak boleh membuat penderita penyakit kardiovaskular melonggarkan penanganan terapi yang dijalaninya.

Menurut Dafsah Arifa Juzar, Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Rumah Sakit Harapan Kita, Jakarta, teknologi pencitraan memang memberikan efisiensi biaya kepada pasien penyakit kardiovaskular.

"Tetapi bila tidak mendapatkan terapi dengan baik, penyakit kardiovaskular tetap akan memakan biaya yang tinggi," ujarnya, belum lama ini.

Karena itu, lanjut dia, setelah dilakukan tindakan, pasien kardiovaskular harus selalu mendapatkan perawatan secara terus-menerus.

Dia menegaskan bahwa penyakit kardiovaskular tidak pernah sembuh total. Dengan begitu, upaya terpenting yang bisa dilakukan adalah mengontrol karena tidak bisa menghilangkan penyakitnya.

Terlebih, dari sisi sumber daya manusia, ketersediaan praktisi alat imaging (pencitraan) kardiovaskular di Indonesia pun masih sangat terbatas. Kondisi ini juga yang membuat Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (Perki) sering melakukan pelatihan. Bukan hanya kepada tenaga profesional dokter, tetapi juga terhadap teknisi dan perawatnya.

Sejauh ini, lanjut dia, tindakan imaging kardiovaskuler paling banyak dilakukan di rumah sakit Harapan Kita, baik itu CT Scan ( Computerized Tomography Scanner) maupun MRI (Magnetic Resonance Imaging).

Kardiovaskular merupakan kondisi jantung yang mencakup pembuluh yang sakit, masalah struktur dan pembekuan darah. Dengan jenis penyakit yang paling umum terjadi adalah penyakit arteri koroner, tekanan darah tinggi (suatu kondisi ketika tekanan darah terhadap dinding arteri terlalu tinggi) serta henti jantung (hilangnya fungsi jantung, napas dan kesadaran secara tiba-tiba).

Adapun CT Scan adalah pemeriksaan yang menggunakan sistem penggambaran digital dan sinar-X untuk memperoleh gambar penampang tubuh. Sedangkan MRI merupakan pemeriksaan yang memanfaatkan medan magnet dan energi gelombang radio untuk menampilkan gambar struktur dan organ dalam tubuh.

Beberapa tahun terakhir, penggunaan MRI di Indonesia mengalami peningkatan karena mengambil alih kerja dari alat imaging kardiovaskular yang lain. Salah satu kegunaan penting dari teknologi pencitraan ini adalah untuk melakukan diagnosa sebelum kejadian atau sebelum pasien mengalami serangan penyakit kardiovaskular.

Tag : penyakit jantung
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top