Semangat Sang Peringkat Dua

Juara itu hanya yang nomor satu, hanya mencapai yang tertinggi, hanya mencapai yang terbaik. Tidak ada juara dua, apalagi juara tiga. Begitulah salah satu falsafah orang Rusia.
M. Syahran W. Lubis | 10 Juli 2018 22:27 WIB
Ilustrasi - Reuters/Fabrizio Bensch

Bisnis.com, JAKARTA – Juara itu hanya yang nomor satu, hanya mencapai yang tertinggi, hanya mencapai yang terbaik. Tidak ada juara dua, apalagi juara tiga. Begitulah salah satu falsafah orang Rusia. Oleh sebab itu, jadilah sang nomor satu dengan raihan yang terbaik.

Namun, untuk selalu eksis menjadi sang nomor satu, saran saya, sebaiknya kita justru terus menerus mempertahankan ‘semangat orang nomor dua’.

Dengan selalu membuat rasa hati berada di nomor dua, kita tidak akan pernah kehilangan semangat untuk memburu posisi nomor satu dalam makna selalu berupaya memperbaiki apa yang sudah baik menjadi lebih baik lagi.

Kita akan mencermati pemikiran Alfred Adler mengenai anak nomor dua. Namun, sebaiknya kita ketahui lebih dulu latar belakang tokoh psikologi humanistik ini.

Alfred Adler merupakan anak kedua dari tujuh bersaudara. Dia lahir pada 7 Februari 1870 dan tumbuh di Rudolfsheim, yang ketika itu masih berada di pinggiran Kota Wina, tetapi saat ini termasuk distrik ke-15 dari ibu kota Austria itu.

Orang peringkat kedua selalu seperti berada dalam pacuan dan jika ada yang di depannya, dia selalu berusaha mengalahkannya

Pada awal masa kanak-kanak Adler tidak bahagia. Dia terkena penyakit radang paru-paru, kondisi yang membangkitkan kesadarannya akan adanya kematian dan ketidakbahagiaan. Muncul pula kecemburuan dari kakak tertuanya, yang menderita rakhitis (pelunakan tulang, biasanya disebabkan kekurangan vitamin D), yang membuatnya tidak dapat bermain dengan anak lain. Pada umur 3 tahun, Adler menyaksikan adik bungsunya wafat, pada usia 4 tahun.

Adler sempat dimanjakan oleh ibunya agar dia dapat menerima kehadiran adik laki-lakinya. Namun, setelah adiknya berpulang, pemberian kemanjaan itu pudar. Dia pun merasa tidak bahagia di rumah dan kemudian lebih banyak tumbuh di luar rumah.

Meskipun menyadari bahwa dirinya kaku dan tidak atraktif, Adler bekerja keras untuk disukai oleh teman-teman sepermainannya.

Di lingkungan luar rumah itu dia merasa diterima oleh lingkungan dan mendapatkan harga diri yang tidak diperolehnya di rumah. Dia lantas membangun kasih sayang yang besar bagi persahabatan dengan orang lain, karakteristik yang dipegang seumur hidupnya.

Dalam kehidupan dewasanya, Adler berkawan karib dengan psikolog Sigismund Schlomo Freud dan melakukan diskusi rutin setiap Rabu dengan tokoh yang lebih dikenal sebagai Sigmun Freud itu.

Adler menerima undangan dari Freud untuk ‘majelis reboan’ itu pertama kali pada 1902. Diskusi informal itu juga melibatkan tiga psikolog kondang Rudolf Reitler, Max Kahane, dan Wilhelm Stekel.

Kembali ke posisi anak nomor dua, atau orang yang memosisikan selalu di peringkat dua. Menurut Adler, anak atau orang di posisi kedua selalu berusaha memacu dirinya untuk bisa menyamai. Anak kedua, atau orang peringkat kedua, selalu seperti berada dalam pacuan dan jika ada yang di depannya, dia selalu berusaha mengalahkannya.

Orang seperti ini selalu tidak nyaman dengan perasaan bahwa dirinya dilindungi dan mencari hal lain untuk membuktikan bahwa pelindungnya gagal dengan menunjukkan bahwa yang bisa melindungi dirinya adalah dia sendiri.

Dalam keluarga anak-anak berjuang keras untuk mendapatkan perhatian dan kasih sayang serta berbagai sumber daya lainnya dari orangtua. Adler berpendapat anak kedua berada dalam posisi yang sangat berbeda dibandingkan dengan anak pertama.

Sejak lahir dia harus berbagi perhatian dari orang tua dengan kakaknya. Anak kedua selalu melihat bahwa di depannya ada anak lain yang lebih dari dirinya baik dalam hal usia maupun proses perkembangan.

Anak kedua pada awalnya menentukan model dirinya dengan mengacu pada saudara kandung yang tertua. Anak kedua tidak sebagai anak yang kesepian tetapi selalu memiliki contoh dari perilaku saudara kandung yang tertua sebagai model atau ancaman untuk bersaing dengannya.

Adler merupakan anak kedua yang memiliki hubungan kompetitif dengan saudara laki-laki yang lebih tua dalam seluruh hidupnya.

Kompetisi dengan anak pertama dipacu oleh anak kedua. Stimulasi anak kedua sering lebih cepat berkembang daripada yang diperlihatkan anak pertama. Anak kedua didorong untuk mengejar dan mengungguli saudara yang lebih tua, tujuannya biasanya kecepatan bahasa dan perkembangan motorik.

Tanpa pengalaman kekuatan, anak kedua praktis tidak memiliki kekhawatiran sebagaimana anak pertama dan lebih optimistis dalam memandang masa depan. Anak kedua kemungkinan menjadi sangat kompetitif dan ambisius.

Didorong oleh kebutuhan untuk mengungguli saudara yang lebih tua, anak yang belakangan lahir sering berkembang hingga pada tingkat kesungguhan. Hasilnya, mereka sering berprestasi tinggi dalam pekerjaan apa pun yang mereka kerjakan.

Belajar dari pemikiran Adler dan falsafah orang Rusia, dalam setiap bidang kehidupan, peliharalah rasa sebagai posisi kedua agar selalu berada dalam pacuan sekalipun sesungguhnya Anda telah berada pada posisi terbaik dibandingkan dengan ‘peserta’ lain.

Kata ‘peserta’ di sini harus dilengkapi dengan tanda petik, karena sangat boleh jadi orang lain di sekitar Anda sesungguhnya tidak memosisikan diri dalam persaingan.

*) Tulisan ini telah dimuat di edisi cetak Bisnis Indonesia pada 2012.

Tag : psikologi
Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top