Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Penyakit Ini Banyak Mengintai Kelompok Usia Produktif

Gangguan dan kerusakan saraf tepi atau neuropati kini banyak menyerang anak muda usia produktif. Gejala awal yang paling sering dirasakan ialah kesemutan, pegal, kram, dan kebas.
Dewi Andriani
Dewi Andriani - Bisnis.com 31 Juli 2018  |  21:12 WIB
Mengetik di gadget bisa menjadi penyebab utama munculnya gejala neuropati. - JIBI/Nurul Hidayat
Mengetik di gadget bisa menjadi penyebab utama munculnya gejala neuropati. - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA – Gangguan dan kerusakan saraf tepi atau neuropati kini banyak menyerang anak muda usia produktif. Gejala awal yang paling sering dirasakan ialah kesemutan, pegal, kram, dan kebas.  

Hal ini tidak lepas dari kebiasaan dan gaya hidup anak-anak muda yang sering melakukan berbagai aktivitas yang berisiko merusak saraf-saraf tepi.

Berdasarkan hasil survei Consumer Behavior dari Merck yang melibatkan 900 reponden di enam kota besar ditemukan bahwa orang dengan rentang usia 26 – 30 tahun merupakan yang tertinggi mengalami gejala neuropati, diikuti dengan yang berusia di atas 30 tahun. Lebih dari 50 persen terjadi di kota besar.

Kebiasaan sederhana yang sering dilakukan seperti mengetik di gadget bisa menjadi penyebab utama munculnya gejala neuropati (61,5%).

Selain itu, melakukan gerakan yang berulang, duduk dengan posisi yang sama dalam waktu lama, mengendari motor dalam jarak jauh, dan mengetik komputer dengan meletakan tangan di atas mouse, bisa menyebabkan munculnya rasa kebas dan kesemutan.

Ketua Kelompok Studi Neurofisiologi dan Saraf Tepi Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (Perdossi) Pusat dr. Manfaluthy Hakim, Sp. S(K) mengatakan neuropati memberikan ketidaknyamanan dalam beraktivitas sehari-hari.

Gejala awal tersebut harus diantisipasi, sebab, jika terus dibiarkan, bukan tidak mungkin gejala-gejala yang terlihat ringan tersebut dapat menyebabkan kelumpuhan.  

“Gejala kebas dan kesemutan ini sering kali diabaikan. Padahal jika dibiarkan terus dapat menurunkan fungsi saraf seperti hilangnya sensasi rasa dan gerak hingga kecacatan permanen. Apalagi jika kerusakan saraf sudah lebih dari 50% itu akan sulit untuk diperbaiki,” ujar Hakim.

Sementara itu, dr. Yoska Yasahardja, Medical Manager Consumer Health Merck, menjelaskan perlu dilakukan berbagai langkah pencegahan untuk menghindari munculnya penyakit neuropati antara lain memperbaiki gaya hidup, olahraga teratur, istirahat cukup, pola makan dan gizi yang seimbang, serta mengonsumsi vitamin neuropatik yang terdiri dari Vitamin B1, B6, dan B12.

“Vitamin neuropatik ini berfungsi memperbaiki gangguan metabolisme sel saraf serta memberikan asupan yang dibutuhkan saraf sehingga dapat bekerja dengan baik,” ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

saraf
Editor : M. Syahran W. Lubis
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top