Ternyata, Perpaduan Teknik dan Jenis Kopi Hasilkan Lukisan Unik

Para pelukis kopi di Pameran Lukisan Ekspresi Nuansa Kopi ternyata tidak hanya mengandalkan ampas kopi untuk melukis, mereka juga memilih jenis kopi dari berbagai daerah yang beragam untuk bisa menghasilkan karya senilai Rp5 juta sampai Rp15 juta.
Gloria Fransisca Katharina Lawi | 10 November 2018 19:40 WIB
Lukisan dari ampas halus kopi Siborong-borong, Sumatra Utara, karya Patar Butarbutar. JIBI - BISNIS/Gloria Fransisca Katharina Lawi

Bisnis.com, JAKARTA – Para pelukis kopi di 'Pameran Lukisan Ekspresi Nuansa Kopi' ternyata tidak hanya mengandalkan ampas kopi untuk melukis, mereka juga memilih jenis kopi dari berbagai daerah yang beragam untuk bisa menghasilkan karya senilai Rp5 juta sampai Rp15 juta.

M. Hady Santoso, pelukis yang menggunakan ampas kopi untuk menghasilkan dua karya. Pertama, adalah lukisan luwak dan lukisan ayam. Salah satu anggota Komunitas Coffee Painter mengatakan karya lukis yang dia sebutkan bernama Flavor Maker adalah upaya menunjukkan salah satu produsen kopi di Indonesia berasal dari luwak atau akrab dikenal kopi luwak.

“Saya jadi terinspirasi dari kopi luwak, kopi khas Indonesia. Jadi ide awalnya sebenarnya sesederhana itu,” kata Hady kepada Bisnis, Jumat sore (9/11/2018).

Dia menyebut atas dasar inspirasi itu, Hady lalu memakai ampas kopi dan dicampurkan dalam medium acrylic transparan. Percampuran ampas kopi dengan acrylic bening membentuk warna kopi yang lebih padat daripada cairan pewarna.

Hady mengklaim, untuk menghasilkan karya ini dia tidak memakai jenis kopi khusus, karena dia hanya mengandalkan teknik dan komposisi cairan perekat kopi.

“Jadi sebenarnya mencampurkan kopi dengan medium acrylic ini membuat serbuk kopi bisa menempel sempurna. Dan ini menggunakan cairan acrylic yang kental, jadi nanti fungsi utamanya dengan kopi untuk menjadi lem, kalau istilah kami ini memakai medium metal namanya,” jelas Hady.

Untuk membuat satu lukisan berjudul Flavor Maker  dibutuhkan waktu hanya 3 jam. Inspirasi lukisan itu juga diakui Hady datang tiba-tiba saat ada program kumpul komunitas dan workshop di Museum Seni dan Keramik, Kota Tua, Jakarta. Hady sendiri mengaku baru bergabung dengan Komunitas Coffee Painter pada September 2018.

“Kami ini pelukis yang otodidak saja. Karya saya pun baru luwak ini dengan lukisan bergambar ayam. Keduanya memakai teknik yang sama,” terang hady.

Sementara itu, pelukis lain bernama Patar Butarbutar, membuat dua lukisan wajah Yesus menggunakan dua jenis kopi. 

Patar bercerita dua lukisan tersebut menggunakan jenis kopi yang berbeda. Karya pertama berjudul “Sipalua #2” yang menggunakan bahan dasar kopi Sidikalang dari Dairi digabung dengan Kopi Siborong-borong. Sementara, untuk karya kedua berjudul “Sipalua #3” memakai kopi Siborong-borong, asal Tapanuli Utara.

“Setiap kopi itu punya ciri yang warna yang berbeda. Maka saya menggunakan dua bahan kopi yang berbeda,” kata Patar.

Patar menilai perbedaan warna kopi yang terlihat menjadi bahan pewarna lukisan dipengaruhi oleh asal kopi, dimana tanaman kopi dibudidayakan, iklim, cuaca, dan tanah tempat kopi ditanamkan.

Dia mengaku, untuk karya kopi Sipalua #2, Patar menggunakan ampas halus dari kopi Siborong-borong, begitupula untuk ampas kopi Sidikalang.

“Teksturnya memang lebih rumit Sipalua #3. Warnanya juga lebih pekat,” jelas Patar menceritakan karakter kopi Sidikalang yang memperpekat warna lukisan. Harga untuk lukisan menggunakan kopi khas Sumatra Utara ini Rp5 juta.

Tag : lukisan, kopi
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top