Sepertiga Balita Indonesia Kekurangan Gizi

Sepertiga balita di Indonesia mengalami kekurangan gizi. Hal ini bukan hanya disebabkan masalah asupan makanan, tetapi juga pengetahuan seorang ibu tentang makanan yang sehat dan bergizi.
Hafiyyan | 19 November 2018 17:30 WIB
Anak kurang gizi - wfp.org

Bisnis.com, JAKARTA—Sepertiga balita di Indonesia mengalami kekurangan gizi. Hal ini bukan hanya disebabkan masalah asupan makanan, tetapi juga pengetahuan seorang ibu tentang makanan yang sehat dan bergizi.

Head of JAPFA Foundation Andi Prasetyo menyampaikan, permasalahan gizi yang terjadi di Indonesia telah mencapai pada titik yang memprihatinkan. Tercatat sepertiga dari jumlah balita di Indonesia menderita kekurangan gizi.

“Kondisi ini menyebabkan perkembangan otak dan fisik terhambat, rentan terhadap penyakit, sulit berprestasi. Dan saat dewasa mudah menderita obesitas sehingga berisiko terkena penyakit jantung, diabetes, dan penyakit tidak menular lainnya,” paparnya dalam siaran pers, Senin (19/11/2018).

Berawal dari permasalahan tersebut, sambung Andi, JAPFA Foundation bersama Filantropi Indonesia menginisiasi adanya sebuah program tentang pencegahan serta penanganan gizi di Indonesia, bertajuk Klaster Ketahanan Pangan & Gizi.

Klaster ini diharapkan mampu menghasilkan solusi-solusi kreatif mengenai pengentasan dan pencegahan masalah gizi nasional.

Pada Sabtu (17/11/2018), kedua belah pihak menggelar acara diskusi bertema Penguatan Sektor Pangan dan Gizi Berbasis Investasi Sosial di Era SDGs. Diskusi tersebut fokus pada pembahasan tentang penguatan sektor pangan dan gizi berbasis investasi sosial di era SDGs, dengan melibatkan para pakar dari berbagai sektor.

Sejumlah pakar yang hadir a.l. Direktur Kesehatan Gizi dan Masyarakat BAPPENAS Pungkas Bahjuri Ali, Health and Nutrition Specialist Wahana Visi Indonesia dr. Rachmat Willy Sitompul, Dosen antropologi Universitas Indonesia Semiarto Aji Purwanto, dan Founder Klinik Rumah Sehat dr. Davrina Rianda Davron.

Pungkas menyampaikan, kekurangan gizi bukan hanya disebabkan masalah asupan makanan, tetapi juga pengetahuan seorang ibu tentang makanan yang sehat dan bergizi.

Adapun, Rachmat menyarankan agar keluarga fokus melaksanakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Komposisi PHBS ini adalah dari orang tua dan pengasuh sebesar 30%, dan fokus pada ibu dan bayi dalam kandungan.

“Ini sangat berperan dalam membentuk budaya PHBS dalam keluarga,” imbuhnya.

Tag : gizi anak, kurang gizi
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top