Cinta dalam Akulturasi Budaya Karya Desainer Bramanta Wijaya

Bramanta menuangkan tiga esensi hidup dalam koleksinya lewat trilogi, yakni iman, pengharapan, dan kasih. Tresno menjadi bagian akhir yang berarti cinta dalam bahasa Jawa. Tresno diharapkan dapat menjadi tali yang mengaitkan dua esensi lainnya.
Asteria Desi Kartika Sari
Asteria Desi Kartika Sari - Bisnis.com 17 Desember 2018  |  16:39 WIB
Cinta dalam Akulturasi Budaya Karya Desainer Bramanta Wijaya
Karya Bramanta Wijaya

Bisnis.com, JAKARTA -- Ungkapan cinta merupakan wujud apresiasi atas rasa kagum dan kesetiaan kepada seseorang, dari orang tua, teman, kekasih, hingga rekan kerja. Mengungkapkan rasa itu dapat dilakukan dalam berbagai cara. Kali ini perancang busana Bramanta Wijaya mengungkapkan rasa cinta melalui rangkaian busana yang indah.

Bramanta menuangkan tiga esensi hidup dalam koleksinya lewat trilogi, yakni iman, pengharapan, dan kasih. Tresno menjadi bagian akhir yang berarti cinta dalam bahasa Jawa. Tresno diharapkan dapat menjadi tali yang mengaitkan dua esensi lainnya.

Lebih istimewa, pada pagelaran  busana Tresno itu, ditampilkan sebuah tarian yang diiringi lagu Impen Impenen yang lirik lagunya berkata bahwa terlalu jatuh cinta sampai kebawa mimpi, menggambarkan cinta yang begitu besar. Irama khas Jawa Banyuwangi dan sesekali terdengar alunan musik oriental memperkuat kesan akulturasi yang ingin ditekankan.

Dia mengatakan koleksi Tresno merupakan ungkapan cintanya terhadap budaya yang dapat mempersatukan bangsa Indonesia. Rasa cinta tersebut direfleksikannya melalui simbol yang diterjemahkan lewat motif dan potongan busana. Lewat busana ini, Bramanta mengkombinasikan mulai dari budaya Tionghoa, Indonesia, hingga Eropa.

“Budaya percampuran ini justru menghasilkan budaya budaya baru. Saya biasanya buat dress putih. Kali ini, saya mainkan motif-motif bunga Eropa dengan motif etnik,” kata Bramanta Wijaya, saat ditemui dalam acara konferensi pers koleksi Tresno, di Hotel Raffles Jakarta.

Koleksi musim semi 2019 dikemas dalam busana klasik dalam balutan gaya kontemporer. Terinspirasi oleh Manchu dari Dinasti Qing yang merayakan kebebasan perempuan dalam strata sosial, Bramanta menerjemahkan koleksi Tresno ke dalam siluet anggun jubah perempuan bangsawan dari Dinasti Qing. Potongan kain yang melebar dan membebaskan gerak dituangkan menjadi gaun midi berpotongan trapeze.

Jubah Manchu dengan empat belahan diberi twists untuk menjadi gaun panjang yang dihiasi detail kancing yang dipadukan dengan celana panjang. Dominasi kerah Shanghai dapat terlihat hampir di setiap gaun.

Bustier hadir sebagai sentuhan klasik nan elegan yang dipadukan bawahan kain sarung khas kebaya Encim. Sesekali, rok dengan potongan flare akan terlihat silih berganti dengan gaun berpotongan cheongsam, satu manifestasi dari era ekspresi kebebasan perempuan Tiongkok pada 1930-an.

Sebanyak 24 koleksi, terdapat teknik bordir menyuarakan ekspresi peranakan dengan paduan kebudayaan Eropa. Teknik itu dituangkan pada kain linen yang dihiasi motif bunga krisan dan bunga-bunga Eropa lain. Sebuah motif khas yang dikembangkan oleh kaum peranakan Tionghoa dan Eropa yang merindukan warna-warna cerah dan buket bunga, sebuah hadiah yang melambangkan kasih.

Tak hanya itu, motif awan yang  mengingatkan pada motif mega mendung dan garis geometris menjadi representasi hasil perpaduan budaya di pesisir utara Jawa.

“Ada juga motif-motif yang dilakukan dengan teknik cap, namun tetap saja busana ini bukan batik walau sebenarnya tekniknya hampir sama dengan batik,” tambah Bramanta.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
mode, desainer, fashion

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top