Ini Alasan Kenapa Stres Tingkatkan Risiko Penyakit

Faktor psikologis dan fisiologis mempengaruhi apa yang dikonsumsi dan menentukan hubungan yang dimiliki antara makanan dan emosi.
Dewi Andriani | 05 Januari 2019 09:51 WIB
Ilustrasi stres - Reuters/Paul Hackett

Bisnis.com, JAKARTA -- Tingginya tekanan dan tuntunan hidup masyarakat di kota-kota besar sering kali menimbulkan stres. Bahkan berdasarkan survei perusahaan kebersihan Zipjet pada 2017, Jakarta berada di peringkat 18 kota paling stres dengan total skor 7,84.

Berbagai macam cara dilakukan untuk melampiaskan stres, salah satunya dengan mengonsumsi makanan atau minuman yang dianggap sebagai comfort food. Tanpa disadari, kebiasaan tersebut justru memicu emotional eating yang membuat kita mengonsumsi makanan secara berlebih dari yang dibutuhkan.

Jika kondisi tersebut tidak dapat dikendalikan, asupan gula garam lemak (GGL) dapat meningkat sehingga dapat memicu penyakit tidak menular. Apalagi ketika stres, makanan dan minuman yang dikonsumsi biasanya makanan yang tidak sehat berupa es krim, kue, coklat, kentang goreng atau pizza.

Tara de Thouars, psikolog yang kerap menangani kasus emotional eating, mengatakan faktor psikologis dan fisiologis mempengaruhi apa yang dikonsumsi dan menentukan hubungan yang dimiliki antara makanan dan emosi.

“Kita membutuhkan makanan untuk bertahan hidup, tetapi ada makanan tertentu yang kita konsumsi dalam kondisi spesifik. Dalam kondisi ini, seseorang biasanya menginginkan makanan berkalori tinggi dengan nilai gizi yang minim,” ujarnya.

Berdasarkan data dari American Psychological Association, 38% orang dewasa mengaku bahwa saat mereka mengonsumsi makanan tidak sehat secara berlebihan karena munculnya stres, separuhnya merasa menyesal kemudian.

Emotional eating memiliki beberapa tanda yang bisa kita kenali, seperti secara tiba-tiba muncul keinginan makan makanan yang spesifik, atau cenderung makan lebih dari biasanya tapi setelahnya merasa bersalah.

Vera Yudhi H. Napitupulu, Manager Program Klinik LightHOUSE menambahkan ketika seseorang mengonsumsi makan dalam kondisi yang sebenarnya sedang tidak lapar, tubuh sebenarnya sedang tidak dalam kondisi membutuhkan kalori.

Bila kondisi tersebut terjadi secara berulang, maka kelebihan kalori akan disimpan sebagai lemak dan dapat menyebabkan obesitas. Padahal ketika seseorang sudah obesitas dia berisiko terkena berbagai penyakit tidak menular seperti diabetes, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, sakit sendi, dan penyakit empedu.

Mengatasi emotional eating perlu melibatkan edukasi kepada individu terkait dengan cara pandang yang sehat akan makanan, membangun pola makan lebih baik, mengenali pemicunya, dan membangun langkah-langkah tepat untuk menghadapi stres.

Kementerian Kesehatan RI telah melakukan edukasi dengan kampanye ‘Isi Piringku’ sesuai dengan perkembangan penelitian mengenai asupan gizi yang diperlukan tubuh. Kampanye ini untuk menggantikan ‘4 Sehat 5 Sempurna’.

Kepala Subdit Diabetes Melitus dan Gangguan Metabolik, Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan Prima Yosephine menjelaskan bahwa kampanye ‘Isi Piringku’ menggambarkan porsi ideal untuk orang dewasa normal dalam satu porsi piring.

Terdiri atas lauk-pauk sebagai sumber protein dengan porsi 1/3 dari 1/2 piring. Sayur-sayuran yang menjadi sumber vitamin dan mineral dengan porsi 2/3 dari 1/2 piring dan buah-buahan sebagai sumber vitamin dan mineral dengan porsi 1/3 dari 1/2 piring.

Adapun konsumsi GGL yang disarankan adalah 4 sendok makan (50 gr) gula per hari, 1 sendok teh (2 gr) garam/ hari, dan 5 sendok makan lemak (minyak goreng, dll)/ hari setara dengan 67 gram. 

Tag : kesehatan
Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top