Libur Itu Perlu Untuk Menekan Stres, Ini Kata Psikolog

Liburan itu bukan masalah panjang atau pendek, tetapi yang paling penting bagaimana individu dapat menikmati momen liburan itu. Liburan sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kesehatan mental, apalagi bagi mereka yang memiliki segudang pekerjaan.
Asteria Desi Kartika Sari
Asteria Desi Kartika Sari - Bisnis.com 12 Februari 2019  |  19:40 WIB
Libur Itu Perlu Untuk Menekan Stres, Ini Kata Psikolog
Ilustrasi lobi hotel. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA — Liburan itu bukan masalah panjang atau pendek, tetapi yang paling penting bagaimana individu dapat menikmati momen liburan itu. Liburan sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kesehatan mental, apalagi bagi mereka yang memiliki segudang pekerjaan.

Maka dari itu perlu kekuatan baru untuk menyeimbangkan kembali tingkat stres. Psikolog Universitas Bina Nusantara Nanang Suprayogi mengatakan bahwa liburan itu dapat menjadi momen yang tepat bagi mental untuk kembali ke titik ekuilibrium.

“Kalau tidak ada waktu untuk istirahat pastinya juga akan lebih berbahaya. Setiap manusia membutuhkan waktu, time out, untuk melakukan penyeimbangan kembali atau me-recharge,” jelasnya kepada Bisnis.

Dia melanjutkan, liburan dapat memicu atau memunculkan ide-ide baru saat kembali bekerja. Apalagi, ketika terjadi interaksi yang bagus maka bisa menciptakan kesempatan kerja sama yang baru. “Bahkan, melalui liburan ada hal lain yang bisa didapatkan, misalnya jaringan karena bertemu dengan sesama traveler atau bertemu dengan orang baru,” katanya.

Hanya saja, ujarnya, terkadang orang pengin liburan namun malah tidak berkualitas. Misalnya saja liburan pada saat ramai-ramainya atau terlalu macet. Agar lebih berkualitas tentu saja harus direncanakan lebih matang agar tidak terjebak macet. Apalagi saat ini destina wisata di beberapa daerah juga cukup berkembang.

“Liburan tidak harus bepergian ke tempat yang mainstream, bahkan ada beberapa orang yang liburan memilih destinasi wisata yang antimainstream. Berwisata di hotel sepeti staycation juga dapat menjadi wisata alternatif,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
psikologi, traveling

Editor : Pamuji Tri Nastiti
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top