Saat Warga Batam Lebih Memilih Johor untuk Berobat

Ada banyak faktor yang memengaruhi sebagian orang memilih berobat ke luar negeri. Pertimbangannya tidak sebatas kecanggihan teknologi atau biaya, tetapi juga karena faktor kepercayaan dan komunikasi.
Saat Warga Batam Lebih Memilih Johor untuk Berobat
Ilustrasi - compassphs

Bisnis.com, JAKARTA – Ada banyak faktor yang memengaruhi sebagian orang memilih berobat ke luar negeri. Pertimbangannya tidak sebatas kecanggihan teknologi atau biaya, tetapi juga karena faktor kepercayaan dan komunikasi.

Kartika Utami, misalnya. Warga Batam ini bercerita tentang ayahnya yang lebih memilih melakukan medical check-up di Johor, Malaysia.

Menurut Kartika, ayahnya memilih memeriksakan kesehatan di Malaysia lantaran keluarganya meyakini pemeriksaan di Negeri Jiran itu lebih lengkap. “Waktu itu papa terdeteksi hepatitis, itu 5 tahun yang lalu sewaktu menjalani general check-up di Malaysia. Kemudian kami pulang ke Indonesia, dan mencoba untuk berobat di sini saja,” ujarnya.

Kartika juga mengisahkan pengalaman ibundanya yang juga terdeteksi hepatitis setelah melakukan pemeriksaan medis di Malaysia, sedangkan pada saat memeriksakan kesehatan di Indonesia malah tidak terdeteksi.

“Mamaku pernah sempat kasih laporan medical check-up dari Malaysia ke dokter di Indonesia, tetapi ternyata semacam diabaikan, karena katanya waktu itu lebih urgent ginjalnya daripada hepatitisnya,” ujarnya.

Yang membuatnya heran, mengapa ketika di Johor, penyakit itu dapat terdeteksi semuanya, dan baru 1 tahun belakangan terdeteksi sehingga penanganannya menjadi terlambat.

Meskipun Kartika juga masih meyakini adanya rumah sakit yang lebih baik di Jakarta, faktor jarak antara Batam dan Johor Malaysia juga menjadi pertimbangan. “Banyak, kok, orang Batam yang berobat ke Malaysia.”

LEBIH MURAH

Mengenai biaya, Kartika mengakui, berobat di Malaysia lebih murah daripada di Tanah Air. Dengan biaya sekitar RM400, biaya itu sudah termasuk pemeriksaan lengkap, sedangkan saat ayahnya melakukan cek laboratorium untuk kebutuhan asuransi di Indonesia, dirinya harus membayar Rp2,5 juta dan itupun tidak mencakup seluruhnya.

Sementara itu dari segi pelayanan, Kartika menilai diagnosis yang diterima orangtuanya lebih akurat dan prosesnya efisien.

“Ini bukannya kami mau mengabaikan dokter di Indonesia ya, tetapi faktanya memang begitu. Kenapa waktu ke Johor lebih detail membaca semua penyakitnya, ketika tiba di Indonesia cek lagi malah tidak terdeteksi, heran kan jadinya?”

Dengan pengalamannya itu maka mereka berpikir untuk berobat secara keseluruhan ke Malaysia terlebih lagi pertimbangan biaya yang bisa lebih ringan dengan BPJS Kesehatan dan tanpa harus meninggalkan rumah dan pekerjaan dalam waktu lama.

Pengalaman lainnya dirasakan Melisa Tjandra (29), seorang penderita penyakit autoimun asal Surabaya yang lebih memilih berobat ke Singapura dibandingkan dengan di Indonesia.

Menurut Melisa, salah satu pertimbangannya adalah dia lebih percaya terhadap kompetensi ahli medis di Singapura dalam mendiagnosis penyakit dan dalam merekomendasikan obat.

Dalam kasusnya, Melisa berujar, bahwa dokter di Indonesia yang pernah menanganinya dinilai kurang tepat dalam memberikan dosis obat kepadanya, sehingga dia merasa khawatir dengan kondisi kesehatannya di kemudian hari.

DOSIS TINGGI

Dia merasa lebih puas jika berobat dengan dokter di Singapura, kendati harus keluar biaya yang lebih tinggi.

“Saya terkena penyakit autoimun, itu termasuk penyakit dalam, tetapi dokternya spesialis perut. Di Indonesia, dokter langsung ngasih dosis besar, pas sampai di Singapura, dokternya bilang obat yang diberikan di Indonesia dosisnya terlalu tinggi,” paparnya.

Menurutnya, ketika diberikan dosis obat yang tinggi, pasiennya memang merasa menjadi tidak terlalu sakit, tetapi efek ke depannya menurutnya menjadi seperti kurang dipikirkan oleh dokter di Indonesia.

Pasien dengan penyakit autoimun biasa mendapatkan terapi obat. Meskipun obat yang diberikan dokter secara garis besar sama, programnya bisa berbeda-beda.

Menurutnya, dokter di Singapura berupaya agar pasien bisa lepas dari obat di kemudian hari. Berangkat dari pengalamannya itu, Melisa selalu meminta pendapat kedua ke Singapura dan baru merujuk ke dokter di Indonesia.

Melisa menceritakan kekecewaan serupa juga dialami sejumlah pasien yang ditemuinya di Singapura. “Ada pasien yang pas di Indonesia, terdiagnosis kanker darah, padahal [setelah dicek] bukan kanker darah, tetapi kekurangan kalium.”

Terkait biaya, Melisa mengatakan pengobatan di Singapura lebih tinggi dibandingkan dengan Indonesia. Dia mencontohkan, jika pengecekan darah di Indonesia dikenakan Rp120.000, di Singapura biayanya bisa S$25 atau dua kali lipatnya. Sementara itu, biaya konsultasi dengan dokter, di Indonesia mencapai Rp350.000, sedang-kan di Singapura minimal S$100 per 15 menit.

DOKTER ASAL INDONESIA

Saat disinggung mengenai harapannya terhadap rumah sakit di Indonesia, dia masih optimistis. Pasalnya, dokter di rumah sakit di Singapura itu juga orang Indonesia yang berkuliah di luar negeri, tetapi mereka tidak bisa membuka praktik di Indonesia lantaran tidak mendapatkan izin. “Jadi buka [praktiknya] di Singapura. Itu ramai banget,” katanya.

Andri Apriyadi, pendiri layanan Health Tourism Medisata punya pengalaman lain. Pada 2013, Andri mengantar sang ibu berobat ke luar negeri karena didiagnosis terdapat sumbatan pada jantung. Saat itu, menurutnya, sumbatan pada jantung ibunya disebut dokter di Indonesia telah mencapai 85%.

Setelah mendapat saran untuk memeriksakan kesehatan ke luar negeri, Andri bersama ibunya memutuskan berobat ke Penang, Malaysia. Ternyata, dokter di sana hanya mengatakan bahwa masalah kesehatan yang dialami ibunya bukan masalah serius dan bisa disembuhkan.

“Oh, ini tidak apa-apa kata dokternya. Tindakan hari ini, terus besok sudah boleh langsung pulang,” katanya menirukan ucapan sang dokter di Penang.

Berbekal pengalaman itulah, dia menilai bahwa gaya komunikasi menjadi titik lemah pelayanan kesehatan di Tanah Air.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
rumah sakit

Sumber : Bisnis Indonesia Weekend

Editor : M. Taufikul Basari
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top