Petaka Gadget Bagi Syaraf, Bagaimana Mengobatinya?

Menurut data Indonesia Millenial Report 2019 IDN Research Institute, sebanyak 94,4% dari 63 juta orang penduduk milenial di Indonesia telah terkoneksi Internet. Dari jumlah tersebut, rata-rata orang mengonsumsi Internet 4--10 jam sehari.
Tika Anggreni Purba | 12 April 2019 18:39 WIB
Warga bermain game online di Lhokseumawe, Provinsi Aceh, Kamis (3/1/2019). - ANTARA/Rahmad

Bisnis.com, JAKARTA – Baru-baru ini, Novianty (29) menginstalasi aplikasi yang dapat menghitung jumlah waktu penggunaan ponsel setiap hari. Betapa terkejutnya dia ketika mendapati bahwa ternyata dia menghabiskan waktu selama 7 jam dalam satu hari.

Selama ini, Novianty tidak menyadari bahwa dia sangat gandrung dengan gawainya.

Ketidaksadaran ini sudah lazim dialami oleh masyarakat Indonesia. Faktanya penggunaan gawai telah menjadi kebutuhan krusial, tidak hanya untuk komunikasi dan hiburan, tetapi juga pekerjaan.

Sebagian besar aktivitas kehidupan manusia kini berada dalam genggaman gawai.

Menurut data Indonesia Millenial Report 2019 IDN Research Institute, sebanyak 94,4% dari 63 juta orang penduduk milenial di Indonesia telah terkoneksi Internet. Dari jumlah tersebut, rata-rata orang mengonsumsi Internet 4--10 jam sehari.

Menurut Sekretaris Jenderal Asosiasi Internet of Things Indonesia Fita Maulani berdasarkan survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia dan Teknopreneur 2017, sebanyak 75% orang Indonesia langsung memeriksa ponselnya 1 menit setelah bangun tidur.

Hal ini membuktikan masyarakat sangat melekat dan bergantung pada ponselnya.

“Dari semua gawai, kebanyakan masyarakat lebih memilih menggunakan ponsel dari pada komputer,” kata Fita.

Dengan kemudahan yang ditawarkan ponsel pintar, orang-orang makin bergantung dan memiliki screentime jauh lebih lama.

Sayangnya, di balik manfaat besar gawai itu, rupanya penggunaan gawai berlebihan dapat menyebabkan kerusakan saraf alias neuropati. Adapun saraf yang diserang adalah saraf tepi.

Menurut dokter spesialis saraf Manfaluthy Hakim aktivitas atau gerakan berulang dapat menjadi salah satu faktor risiko neuropati. “Termasuk penggunaan gawai terlalu sering dan terlalu lama,” ujar Manfaluthy.

Menurut Ketua Kelompok Studi Neurofisiologi dan Saraf Tepi Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (Perdossi) Pusat ini, penggunaan berlebih pada gawai dapat menyerang saraf tangan sehingga menimbulkan kesemutan atau kebas. “Bahkan dapat menimbulkan nyeri yang menetap,” katanya.

Pada pengguna gawai yang tidak bijaksana, bagian tubuh yang berisiko terkena neuropati adalah tangan, lengan, dan terutama siku. Apabila neuropati terjadi, hal tersebut dapat mengganggu saraf sensorik, morotik, otonom, dan campuran.

Kesehatan saraf penting untuk diperhatikan karena kontrol aktivitas tubuh kita ada pada saraf. Sistem saraf terdiri dari saraf pusat yakni otak dan sumsum tulang dan juga saraf tepi. Apabila sistem rusak ini terganggu, secara keseluruhan tubuh juga dapat terganggu.

“Saraf tepi bagi tubuh itu ibarat kabel pada peralatan elektronik, gangguan pada saraf tepi akan mengganggu berbagai fungsi tubuh,” ujarnya lagi.

Gangguan saraf tepi dapat menyebabkan terjadinya gangguan fungsi sensorik yang ditandai dengan kesemutan, baal, dan nyeri, serta gangguan keterampilan.

KESEMUTAN

Sebetulnya kerusakan fungsi saraf sangat mudah dikenali, yakni timbulnya gejala kesemutan.

Menurut Manfaluthy, kesemutan merupakan gejala awal terjadinya kerusakan fungsi saraf yang dapat berujung pada neuropati.

Kesemutan merupakan sensasi mati rasa atau kebas yang terjadi ketika seseorang melakukan suatu gerakan atau aktivitas yang menekan saraf. Memang tidak semua kesemutan menyebabkan neuropati, akan tetapi gejala neuropati umumnya bermula dari kesemutan.

Kesemutan biasa dan bersifat sementara umumnya terjadi sebentar saja karena tertekannya saraf tanpa sengaja. Kesemutan umumnya terjadi kalau kaki bersila atau terjadi saat bagian tubuh tertentu yang ditekan.

Kalau kesemutan terjadi karena posisi dan menghilang dengan mengubah posisi, itu adalah gejala ringan saja, sedangkan kesemutan jangka panjang terjadi karena penyakit tertentu seperti strok, diabetes, gangguan ginjal, dan lain-lain.

Manfaluthy menjelaskan bahwa masyarakat Indonesia masih cenderung melakukan aktivitas yang dapat berisiko menyebabkan neuropati. “Texting di gawai, berkendara, duduk terlalu lama, gerakan berulang, mengetik di komputer, bermain games, dan mengenakan sepatu hak tinggi, termasuk faktor risiko neuropati,” ujarnya.

Faktanya 1 dari 4 orang yang berusia 26--30 tahun mulai merasakan kebas dan kesemutan akibat kebiasaan buruk seperti terlalu lama menggunakan gawai.

Apakah kesemutan wajar dibiarkan? Manfaluthy kembali menegaskan bahwa kesemutan tetap menjadi masalah saraf yang perlu diperhatikan lebih serius.

Kita pun wajib waspada kalau kesemutan itu berlangsung sangat lama misalnya lebih dari 5 menit dan berulang kali. Kalau dibiarkan, dapat menimbulkan mati rasa karena kerusakan saraf. Kalau saraf sudah rusak, tidak bisa diperbaiki lagi.

Tahapan kerusakan saraf itu begini, pada tahap awal gangguan fungsi saraf yang terjadi masih berupa kerusakan fungsi bukan struktur sarafnya, inilah yang ditandai dengan kesemutan. Selanjutnya, kerusakan moderat ditandai dengan kerusakan fungsi diikuti dengan kerusakan pada selubung saraf tersebut.

“Pada tingkat parah, terjadi gangguan fungsi bahkan fatalnya kerusakan pada sebagian besar struktur saraf,” ujarnya lagi.

Apabila kerusakan masih ringan atau sedang, saraf masih dapat diperbaiki dan berenegerasi. Tetapi kalau sudah rusak parah, usaha apapun untuk memperbaikinya pasti sia-sia.

Kerugian akibat neuropati tentu tidak sedikit. Apabila neuropati membuat seseorang mati rasa, dia akan mudah terluka karena tidak memiliki sensor yang cepat untuk menangkal bahaya. Ambil contoh, orang tersebut tangannya mati rasa sehingga tidak merasa sakit ketika terkena api, benda tajam, dan sebagainya.

Itulah sebabnya deteksi dini gangguan saraf perlu dilakukan, sekaligus juga sebagai aksi memperhatikan kesehatan saraf. "Untuk mencegah neuropati, lakukan olahraga dan konsumsi vitamin neurotropik seperti vitamin B1, B6, dan B12," katanya lagi.

Studi klinis penelitian non-intervensi dengan vitamin neutrotropik (Nenoin) 2018 yang dilakukan oleh Neurobion pada responden di sembilan kota besar di Indonesia menunjukkan bahwa orang yang mengonsumsi kombinasi vitamin neurotropik secara rutin dan berkala dapat mengurangi gejala neuropati seperti kesemutan dan kebas secara signifikan.

Penggunaan vitamin neurotropik juga aman dikonsumsi dalam jangka panjang. Namun, alangkah lebih baiknya berkonsultasi dengan dokter spesialis saraf untuk mendukung kesehatan saraf Anda.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
gadget

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup