Pasien Sakit Jiwa Diprediksi ‘Meledak’ Setelah Pemilu 2019

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Ari Fahrial Syam mengatakan bahwa setelah pencoblosan pada pemilu 2019, Rabu (17/4/2019), perlu diwaspadai sakit jiwa.
Nancy Junita
Nancy Junita - Bisnis.com 16 April 2019  |  09:23 WIB
Pasien Sakit Jiwa Diprediksi ‘Meledak’ Setelah Pemilu 2019
Prof Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB. usai mengisi acara Seminar Awam "Kanker Usus Besar Bisa Dicegah dan Diatasi dan Peluncuran Aplikasi Berbasis Android 'Apa Kata Dokter'" di Ruang Senat FKUI, Universitas Indonesia, Salemba, Jakarta Pusat, Kamis (6/12/2018). - Nur Faizah Al Bahriyatul Baqiroh

Bisnis.com, JAKARTA  - Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Ari Fahrial Syam mengatakan bahwa setelah pencoblosan pada pemilu 2019, Rabu (17/4/2019), perlu diwaspadai sakit jiwa.

Dalam keterangan tertulisnya, Selasa (16/4/2019), Ari mengatakan pasca-pemilu 2009, data Kementerian  Kesehatan ada ribuan orang sakit jiwa baru yang dihubungkan akibat dampak Pemilu 2009. Pada Pemilu 2014 juga terjadi kembali ledakan orang sakit jiwa walau dengan jumlah yang tidak sebanyak 2014.  

Pada pemilu 2019, peningkatan sakit jiwa juga diprediksi akan terjadi. Sakit jiwa yang bisa ringan misal depresi sampai berat atau psikosis akut. Kekecewaan pasti dialami oleh sebagian mereka yang gagal tersebut. RSUD dan RS Jiwa juga sudah mengantisipasi lonjakan pasien gangguan jiwa pasca pemilu ini.

Menurut dokter spesialis penyakit dalam ini, pada pemilu 2019, ada 245.106 caleg DPR RI, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota. Mereka hanya memperebutkan 10 persen kursi, artinya akan ada 200.000 orang gagal dan pastinya kecewa karena tidak berhasil menjadi anggota dewan.

“Yang menarik lagi dari data di KPU hampir 3000-an caleg tersebut menyebut tidak punya atau belum punya pekerjaan. Walau mungkin saja sebagian besar juga sudah siap kalah,” kata Ari.

Caleg Nomor Jadi

Para calon legislatif (caleg) sudah bekerja keras tanpa kecuali. Caleg dengan nomor urut kecil seolah-olah  punya harapan, sedangkan caleg nomor urut awal (‘nomor jadi”) juga  tidak bisa yakin menang. Apalagi, jika masyarakat pemilihnya paham yang dipilih orang bukan partai.

“Jelas kondisi ini membuat para caleg akan mengalami stres luar biasa untuk meraih harapan kursi tersebut. Kita bisa melihat berbagai caleg melakukan berbagai hal dari yang tidak rasional sampai rasional yang bisa diterima akal untuk mendapatkan 1 kursi legislatif baik DPRD kabupaten/kota, DPRD propinsi  dan DPR pusat serta Dewan Pimpinan Daerah (DPD),” kata Ari.

Perjalanan panjang pun juga sudah dilalui untuk menjadi caleg. Ada caleg yang harus keluar dari perkerjaannya, karena merasa kans besar untuk menjadi anggota legislatif dan mencoba  peruntungan untuk bisa menjadi anggota legislatif.

Menurut Ari, dana  besar yang dikeluarkan selama masa kampanye  merupakan salah satu faktor stres tersendiri. Belum lagi jika uang tersebut didapat melalui pinjaman uang baik melalui pegadaian atau bank atau bahkan melalui rentenir. Rumah, tanah atau aset  lain mungkin sudah jadi  jaminan dari proses utang piutang ini.

Aset ini akan   tersita jika mereka tidak bisa mengembalikan dana pinjaman tersebut. Kondisi ini jelas berpotensial untuk menimbulkan kekecewaan dan  stres yang cukup berat apalagi juga rumah tangga berantakan akibat kondisi ini.

Ari menambahkan, berbagai  rumah sakit jiwa provinsi  memang juga sudah memprediksi akan banyak orang terganggu jiwanya korban pemilu, setelah tanggal 17 April 2019 nanti. Mereka sudah bersiap-siap untuk menerima lonjakan pasien pascapemilu.

Faktor Utama

Kecewa dan stres merupakan faktor utama yang bisa menyebabkan terjadinya gangguan kejiwaan yang pada akhirnya dapat mengganggu fisik seseorang. Gangguan jiwa yang terjadi bisa ringan sampai berat. Mulai dari sakit kepala, susah tidur atau nafsu makan menurun, gangguan jiwa bisa berupa depresi  sampai yang berat seperti psikosis akut. Berbagai gangguan sistim organ bisa terjadi akibat adanya faktor stress tersebut.

Gangguan fisik yang disebabkan oleh faktor psikis ini selanjutnya sering disebut sebagai gangguan psikosomatik merupakan gangguan ksehatan yang sering dialami karena seseorang stres.

Gangguan psikosomatik terjadi akibat adanya gangguan keseimbangan saraf otonom, sistim-hormonal tubuh, gangguan organ-organ tubuh serta sistim pertahanan tubuh. Berbagai kelainan organ yang terjadi dapat dihubungkan dengan faktor-faktor yang menyebabkan kelainan organ tersebut.

Berbagai keluhan yang dapat timbul saat seseorang mengalami stress antara lain sakit kepala, pusing melayang, tangan gemetar, sakit leher, nyeri punggung dan otot terasa kaku, banyak keringat terutama pada ujung-ujung jari tangan dan kaki, selain itu ujung-ujung jari tangan dan kaki terasa dingin, gatal-gatal pada kulit tanpa sebab yang jelas.

Mereka juga bisa mengalami nyeri dada, nyeri ulu hati, mual, perut kembung dan begah serta diare. Gangguan yang terjadi akibat stress bisa multi organ.

Gejala fisik  yang muncul tersebut bisa karena  memang sudah ada penyakit organik sebelumnya. Oleh karena itu, memang harus dipastikan dulu bahwa tidak ada penyakit organik sampai mendapat kesimpulan kalau keluhan-keluhan yang timbul tersebut karena penyakit psikosomatik yang dicetuskan oleh stress tadi.

Selain itu, stres sendiri akan memperburuk penyakit-penyakit kronis yang sudah ada sebelumnya. Berbagai penyakit kronis yang dapat diperberat oleh adanya faktor stres antara lain penyakit kencing manis, sakit jantung, stroke, hipertensi, penyakit rematik baik sendi maupun non sendi, gangguan seksual, ganguan buang air kecil, obesitas, kehilangan daya ingat, infertilitas, masalah tiroid (gondok), penyakit autoimun, asma bronkiale serta sindrom usus iritabel (irritable bowel syndrome/IBS).

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
stres, Pemilu 2019, sakit jiwa

Editor : Nancy Junita
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top