Singapura Karantina 23 Orang Guna Cegah Penularan Cacar Monyet

Kementerian Kesehatan Singapura telah mengisolasi 23 orang yang terlibat kontak dengan seorang pasien penderita cacar monyet (monkey pox) yang ditemukan pekan lalu.
Iim Fathimah Timorria | 15 Mei 2019 18:27 WIB
Cacar monyet atau monkeypox - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Pemerintah Singapura melalui Kementerian Kesehatan telah mengisolasi 23 orang yang terlibat kontak dengan seorang pasien penderita cacar monyet (monkey pox) yang ditemukan pekan lalu.

Di antara orang-orang yang dikarantina, empat orang adalah staf Hotel 81 Orchid tempat lelaki berkewarganegaraan Nigeria tersebut sempat menginap.

Pihak hotel mengaku mereka terus bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan untuk mencegah penularan lebih jauh penyakit yang disebabkan oleh virus langka tersebut. Selain karantina sejumlah stafnya, Hotel 81 Orchid juga melakukan sterilisasi dengan disenfektan pada ruang kamar yang ditempati pasien sebelum ia dirawat di rumah sakit.

Juru bicara hotel mengatakan Kementerian Kesehatan telah memberi tahu mereka pada 9 Mei lalu bahwa salah satu pelanggan mereka telah didiagnosis menderita cacar monyet.

"Meskipun Kementerian Kesehatan telah mengindikasikan bahwa kemungkinan penularan rendah, sebagai tindakan pencegahan, kami segera menutup seluruh lantai di mana kamar itu berlokasi," ujar juru bicara itu seperti dikutip Channel News Asia, Rabu (15/5/2019).

"Kami telah bekerja dengan Kementerian Kesehatan dan Badan Lingkungan Nasional (NEA) untuk mendisinfeksi kamar hotel tempat pasien tinggal," sambungnya.

Selain empat staf hotel, Kementerian Kesehatan juga melakukan karantina pada 19 orang lainnya. Mereka termasuk penduduk berkewarganegeraan Singapura, Inggris, India, Irlandia, Malaysia, Nigeria dan Vietnam. Kebanyakan adalah peserta yang hadir dalam workshop yang dihadiri pasien di 3 Church Street. Kementerian Kesehatan menyebutkan para warga yang dikarantina tidak menunjukkan gejala penyakit sampai Selasa (14/5/2019).

Kasus pertama cacar monyet di Singapura diumumkan pada 9 Mei lalu setelah seorang warga Nigeria berusia 38 tahun dinyatakan positif terjangkit virus tersebut. Ia diduga menderita penyakit langka itu setelah mengonsumsi daging satwa liar di sebuah resepsi pernikahan di Nigeria sebelum memasuki Singapura pada 28 April 2019. Daging satwa liar merupakan salah satu sumber penularan virus cacar monyet.

Cacar monyet dapat menyebar melalui kontak jarak dekat dengan darah, cairan tubuh atau lesi hewan yang terinfeksi seperti tikus dan monyet. Penyakit ini juga dapat menular lewat konsumsi daging hewan yang tidak dimasak dengan benar.

Penularan dari manusia ke manusia dapat terjadi melalui kontak dekat dengan orang yang terinfeksi atau dengan benda yang terkontaminasi oleh cairan tubuh pasien.

Gejala penderita cacar monyet meliputi lesi, demam, nyeri otot, pembengkakan kelenjar getah bening dan kedinginan.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Cacar monyet

Sumber : Channel News Asia

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup