‘Rumah Merah Putih’ Langkah Awal Seri Trilogi Perbatasan Alenia Pictures

Rumah Merah Putih direncanakan sebagai langkah awal seri Trilogi Perbatasan yang digarap oleh Alenia Pictures, yakni di perbatasan NTT, perbatasan Papua, dan perbatasan Kalimantan.
Tika Anggreni Purba
Tika Anggreni Purba - Bisnis.com 26 Juni 2019  |  13:40 WIB
‘Rumah Merah Putih’ Langkah Awal Seri Trilogi Perbatasan Alenia Pictures
Film Rumah Merah Putih - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Rumah Merah Putih direncanakan sebagai langkah awal seri Trilogi Perbatasan yang digarap oleh Alenia Pictures, yakni di perbatasan NTT, perbatasan Papua, dan perbatasan Kalimantan.

Trilogi Perbatasan ini fokus mengangkat kisah kehidupan anak-anak di daerah perbatasan Indonesia dengan negara lain.

Skenario film Rumah Merah Putih sesungguhnya telah ditulis oleh Jeremias Nyangoen sejak 4 tahun lalu. Butuh waktu 5 tahun bagi Alenia Pictures untuk merampungkan film ini hingga layak tayang.

Hal ini terkait dengan kebutuhan dana yang sangat besar untuk syuting di perbatasan.

 “Dari 9 film Alenia, ini yang paling mahal, syuting di perbatasan biayanya sangat mahal,” ujar produser dan sutradara Ari Sihasale.

Sebagai penulis skenario, Jeremias turun langsung ke lapangan. Proses perampungan naskah tidak memakan waktu yang lama, demikian pula pemilihan pemain untuk karakter cerita yang ditulisnya.

“Dalam dunia penulisan skenario, ada masa di mana karakter yang memilih aktornya, dan itu terjadi pada film Rumah Merah Putih,” ujar Jeremias.

Dia menceritakan bahwa pemeran Farel Amaral yakni Petrick baru ditemukan seminggu sebelum proses syuting. Bahkan, pemeran Oscar yakni Amori De Purivicacao baru ditentukan menjadi Oscar setelah proses pemilihan yang panjang.

“Saya lihat Amori memiliki potensi yang besar untuk memerankan tokoh Oscar, dan benar saja dia berhasil,” kata Jeremias.

Sebagai penulis skenario, Jeremias memperhitungkan setiap adegan dengan detail. Dia melakukan riset mendalam dan tinggal bersama anak-anak di NTT agar cerita yang divisualisasikan makin hidup dengan pesan yang sampai pada penonton.

“Saya salut dengan orang Indonesia yang ada di perbatasan NTT, mereka sebenarnya punya pilihan untuk memilih Timor Leste pada saat itu, tetapi dengan bangga mereka memilih untuk menjadi orang Indonesia,” katanya kagum.

Dalam proses penyempurnaan naskah dia kerap menemukan ide-ide cemerlang dari kebiasaan dan tradisi daerah perbatasan itu.

Jeremias mengatakan bahwa film ini tidak hanya fokus pada cerita sederhana orang-orang di NTT yang begitu mencintai negeri, tetapi juga hubungan persaudaraan dengan orang Timor Leste.

Hidup mereka sangat terbatas dan sederhana, tetapi cintanya besar terhadap negara. Tidak hanya itu, persahabatan dengan negara tetangga juga menunjukkan bahwa kasih masih ada walau sudah berbeda negara.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Film, ntt, film indonesia

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top