Pameran Pernikahan Kian Menjamur

Dibutuhkannya suatu wadah yang tepat untuk bisa mempertemukan para vendor pernikahan dengan calon pengantin kian mendorong maraknya pameran pernikahan di Indonesia, terutama di kota-kota besar.
Eva Rianti
Eva Rianti - Bisnis.com 18 Juli 2019  |  14:30 WIB
Pameran Pernikahan Kian Menjamur
Pameran pernikahan - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Industri pernikahan merupakan salah satu industri kreatif yang berkembang sangat pesat di Tanah Air.

Perkembangan ide, teknologi, dan inovasi menuntut para pelaku usaha untuk terus berkreasi menampilkan dan menawarkan yang terbaik kepada calon pengantin.

Karena itulah dibutuhkan suatu wadah yang tepat untuk bisa mempertemukan para vendor pernikahan dengan calon pengantin untuk bisa memenuhi kebutuhan. Hal itu mendorong maraknya pameran pernikahan di Indonesia, terutama di kota-kota besar.

Di Jakarta misalnya, pada tahun ini ada sekitar 10 pameran pernikahan. Diantaranya, Gebyar Pernikahan Indonesia, Indonesia-International Wedding Festival, Simple Wedding Fair, Bridestory Fair, Indonesia Dream Wedding, dan Jakarta Wedding Festival.

Ragam pameran pernikahan tersebut merupakan untuk yang kesekian kalinya diadakan di setiap tahun. Jakarta Wedding Festival (JWF) yang digelar oleh Weddingku dan Dyandra Promosindo misalnya telah hadir selama 16 tahun.

Gebyar Pernikahan Indonesia (GPI) yang diselenggarakan oleh Parakrama Organizer memasuki edisi yang ke-11 pada tahun ini.  

Kelanggengan pameran pernikahan tersebut tidaklah terlepas dari inovasi dan kreativitas dalam menyajikan produk dan jasa yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Chief Operating Officer (COO) Weddingku Reza Paramita mengungkapkan bahwa Jakarta Wedding Festival menghadirkan ragam kategori vendor, mulai dari gaun pengantin, vendor tradisional, catering, destinasi bulan madu, hotel dan venue, wedding vendor ideas, hingga koleksi cincin pernikahan.

JWF diklaim menjadi pameran pernikahan terbesar di Indonesia, yang diikuti oleh lebih dari 500 vendor.

“JWF ini adalah pameran pernikahan terbesar di Indonesia dengan kategori terlengkap, lebih dari 500 vendor, semuanya berhubungan dengan persiapan pernikahan,” ungkapnya, baru-baru ini.

JWF 2019 membidik nilai transaksi sekitar Rp540 miliar hingga Rp600 miliar, naik 20% dari JWF sebelumnya sebesar Rp450 miliar hingga Rp500 miliar. Adapun, target jumlah pengunjung mencapai 100.000, naik 25% dari tahun sebelumnya sebanyak 80.000 orang.

Reza menjelaskan, target nilai transaksi yang cukup tinggi tersebut lantaran melihat pangsa pasar milenial yang potensial, terutama yang berusia 20 tahun—25 tahun yang notabene melangsungkan pernikahan di usia tersebut.

Dalam upaya promosi, JWF 2019 secara inovatif menggandeng content creator Tempat Bercakap untuk bisa menggaet calon pengantin lebih banyak.

Menurut Reza, saat ini, para anak muda lebih tertarik dengan ajakan yang membawa nilai emosional melalui sebuah cerita sehingga strategi promosinya pun bergeser.  

Dalam kesempatan berbeda, Gebyar Pernikahan Indonesia (GPI) menjadi pameran pernikahan yang konsisten mengangkat konsep pernikahan tradisional.

Managing Director Parakrama Organizer Tommy Yoewono mengungkapkan bahwa pada edisi ke-11, GPI menargetkan bisa menggaet lebih dari 17.000 pengunjung dengan nilai transaksi meningkat 10%—20% menjadi Rp82,5 miliar—Rp90 miliar.

“Target itu meningkat dari edisi sebelumnya sebanyak 16.000 orang dengan nilai transaksi Rp75 miliar,” ujarnya.

Pada edisi ke-11, GPI menghadirkan tema budaya Betawi. Sebelumnya, tema yang diangkat adalah adat pengantin Jawa.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pernikahan, wedding organizer

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top