Cangklong dan Pasar Tembakau yang Tersisip

Asap putih mengepul, mengapung ke udara, serupa awan jejak pesawat jet tempur dalam ukuran mini. Alih-alih menusuk hidung, asap bakaran tembakau dari pipa cangklong menghasikan rupa-rupa semerbak.
Rivki Maulana
Rivki Maulana - Bisnis.com 26 Agustus 2019  |  14:45 WIB
Cangklong dan Pasar Tembakau yang Tersisip
Deretan pipa produksi Putu Cowe, sebuah toko yang dimiliki Patrik Budi Setiawan. Pipa dibuat dari berbagai kayu yang ada di Indonesia seperti galih asem, raja, dan sonokeling - Rivki Priatna

Bisnis.com, JAKARTA -- Asap putih mengepul, mengapung ke udara, serupa awan jejak pesawat jet tempur dalam ukuran mini. Alih-alih menusuk hidung, asap bakaran tembakau dari pipa cangklong menghasikan rupa-rupa semerbak.

Bisnis menyambangi para penggemar cangklong, Sabtu (26/8) di sebuah paseban di Tangerang. Di meja bundar, aneka pipa berbentuk cekung maupun lurus tergeletak ; serupa dengan kepunyaan Sherlock Holmes maupun Popeye. Beberapa kaleng berisi tembakau juga tersaji, siap dibakar dengan mancis.

Tak dinyana, hobi yang tergolong lawas ini juga diminati kalangan muda. Separuh yang berkumpul malam itu para pemuda milenial. Sisanya tak sulit ditebak, para pria berumur generasi baby boomers dan generasi x.

Patrik Budi Setiawan, seorang penghobi cangklong sekaligus produsen cangklong mengaku, dalam kurun waktu satu dekade, jumlah penggemar meningkat pesat. Dia menggambarkan, jumlah anggota Pipe Tobacco Club Indonesia (PTCI) di media sosial facebook telah mencapai 7.482. 

"Lonjakannya luar biasa. Sekarang pipemaker lokal sudah banyak bermunculan. Pipesmoker di luar negeri juga melihat kita, mereka bertanya bagaimana [perkembangan] pemipa di Indonesia," ujarnya.

Meski dikenal sebagai negara pengahasil tembakau terbaik di dunia, Indonesia memang luput dari radar
komunitas cangklong internasional. Boleh dibilang, Indonesia baru ikut merayakan  International Pipe Smoking Day mulai 2010 lalu. IPSD yang menjadi lebaran bagi para penggemar cangklong dirayakan setiap 20 Februari.

Dalam taraf yang lebih formal, para penggemar juga membentuk organisasi bernama Comite International des Pipe Clubs. Klub itu punya seperangkat aturan tersendiri yang mengikat anggotanya. Klub ini sedikitnya punya cabang di 32 negara, mulai dari Eropa, Amerika, hingga Asia.

Iskandar Hadrianto, penggemar cangklong yang juga mantan diplomat mengakui, Indonesia sempat tidak diperhitungkan dalam belantika dunia pipa tembakau. Dia maklum, mengkonsumsi tembakau dengan pipa memang tidak berkembang menjadi budaya sebagaimana terjadi di Eropa.

Dari pengalamannya saat bermukim di Eropa, Iskandar mengungkapkan, penghobi pipa di Benua Biru juga banyak yang melirik pipa maupun tembakau buatan Indonesia. Beberapa produk pipa juga sempat mengikuti pameran Chicago Pipe Show di Amerika Serikat.

Dia menilai, Indonesia punya potensi besar dalam menjajaki peluang usaha di bidang pertembakauan. Varietas tembakau dan kayu di Indonesia juga disebut amat beragam. Selain itu, dia menjumpai banyak seniman pembuat pipa dan peracik tembakau yang produknya bisa dijual di luar negeri.

"Kita bisa berkembang, sambil memelihara hobi, merawat persaudaraan dan mempromosikan bisnis. Jadi banyak kepentingan yang bisa bertemu," terangnya.

Oleh karena itu, Pipe Club of Indonesia yang sebagian besar anggotanya berasal dari komunitas PTCI  berencana membuat pegelaran setingkat internasional guna mempromosikan produk pipa cangklong dan tembakau Indonesia pada tahun depan. Selain pameran, acara yang rencananya bertajuk Indonesia Pipe Show itu juga menghelat sejumlah kontes, antara lain slow smoke contest. 

Patrik menyambut baik ide untuk menggelar pameran internasional. Dia menilai, pameran itu bisa menjadi ajang unjuk gigi bagi produsen pipa lokal. "Banyak yang bertanya, Indonesia ada event gak? Jadi ini bisa buat show off," ujar Patrik yang sudah menjual pipa ke Jepang, Inggris, dan Amerika Serikat.

Saat ini, jumlah penghobi cangklong memang belum diketahui secara pasti. Namun yang jelas, segmen ini menjadi sisipan dan memberikan warna dalam tren mengkonsumsi tembakau di Indonesia. 

Sebagaimana diketahui, beberapa tahun terakhir sudah marak rokok elektrik (vape). Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia (APVI) melansir, tahun lalu jumlah pengguna rokok elektrik mencapai 1,2 juta orang. Tentu saja, jumlah itu tidak sedikit.

Namun, dibandingkan dengan jumlah perokok, pengguna vape terbilang sedikit. Laporan Southeast Asia Tobacco Control Alliance (Seatca) menujukkan, pada 2018 jumlah perokok di Indonesia mencapai 65,19 juta orang.

Iskandar mengimbuhkan para penggemar cangklong yang berhimpun Pipe Club of Indonesia berpandangan hobi menikmati tembakau tembakau adalah urusan yang bersifat pribadi. Untuk itu, komunitas itu berusaha menghormati hak-hak masyarakat yang tidak merokok. "Kami tidak dalam posisi influencing. Yang punya hobi lain ya silahkan saja," pungkasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
rokok kretek

Editor : Mia Chitra Dinisari
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top