Dosen UNS Temukan Material Pengisi Tulang

Dosen dari Program Studi Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Dr Joko Triyono menciptakan material tiruan untuk memperbaiki tulang yang rusak.
M. Syahran W. Lubis
M. Syahran W. Lubis - Bisnis.com 12 September 2019  |  19:38 WIB
Dosen UNS Temukan Material Pengisi Tulang
Dr Joko Triyono dengan produk penmgisi tulang Bone graft. - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Dosen dari Program Studi Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Dr Joko Triyono bersama tim berhasil menciptakan material tiruan yang digunakan untuk menggantikan atau memperbaiki tulang yang rusak yang disebut Bone graft atau Bone filler.

Bone graft ini memiliki fungsi sebagai material pengisi tulang. Hasil karya Joko dan tim ini diberi nama Semar Bone graft.

Joko mengatakan bahwa dalam melakukan penelitian hingga menghasilkan produk tersebut, ia melibatkan beberapa dosen dari disiplin ilmu di antaranya dengan dr Suyatmi M. BiomedSc dari Fakultas Kedokteran (FK) UNS dan dr I Dewa Nyoman Suci Anindya Murdiyantara Sp.OT dari RSUP dr Soeradji Tirtonegoro Klaten.

Joko mengatakan UNS mengembangkan bone graft ini karena produk bone graft yang digunakan di rumah sakit merupakan buatan luar negeri.  Hingga saat ini belum ada produk lokal yang masuk dalan e-catalog.lkpp.go.id sebagai syarat produk bisa diklaimkan BPJS. Selain itu, banyak kasus operasi patah tulang yang memerlukan bone graft.

"Survei pada 2010 terdapat 4.537 pasien patah tulang di RS Orthopedi Prof. Soeharso Surakarta," ujar Joko di sela-sela acara Roadshow LPPM UNS, Kamis (12/9/2019), sebagaimana siaran pers yang diterima Bisnis.com.

Untuk itu, Joko dan tim ingin mengembangkan bone graft yang terbuat dari bahan xenograft atau dari tulang sapi. Tulang sapi diambil dari Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Jagalan, Solo.

Cara membuatnya yaitu dengan pemilihan bahan berupa tulang sapi yang masih segar. Kemudian proses demineralisasi dan deproteinisasi yaitu proses menghilangkan kandungan mineral dan protein.

Ini dilakukan dengan cara tulang dijemur matahari kemudian direbus dengan air mendidih sebanyak tiga kali. Kemudian tulang dipotong menjadi bagian kecil-kecil dengan ukuran 10 x 10 x 10 mm. Lalu dipanaskan pada oven hingga suhu 1.200 derajat celcius ditahan selama 2 jam serta dilakukan proses sterilisasi bahan.

"Kita memilih tulang sapi karena kita ingin memanfaatkan produk lokal dan tulang sapi ini biasanya belum dimanfaatkan secara maksimal. Jami berusaha untuk bisa memaksimalkan manfaat dari tulang sapi ini, dan tentunya harganya juga murah," ucapnya.

Sedangkan untuk bone graft impor terbuat dari bahan sintetis atau dari bahan-bahan kimia.

"Material yang biasa digunakan di RS masih impor (sebagai contoh produk impor Bio-oss, Bongros dari Korea Selatan). Harga produk impor ini sangat mahal yaitu Rp 1,7 juta per 5 cc dan produk ini sudah masuk e-catalog.lkpp.go.id. Sedangkan kalau kita pakai Semar bone graft ini harganya jauh lebih murah yaitu Rp400.000 per 10 cc," kata Joko.

Dia berharap hasil temuannya bersama tim ini nantinya bisa dikembangkan dan ada kerja sama dengan industri. "Sudah kami lakukn uji coba dengan tikus putih kerja sama dengan Fakultas Peternakan UGM, hasilnya tidak ada peradangan, tidak ada infeksi, dan ada tulang yang tumbuh," katanya.

Joko dan tim sejak 2016 mulai melakukan penelitian ini. Bahkan berkat temuannya ini, ia memperoleh hibah Calon Pengusaha Pemula Berbasis Teknologi (CPPBT) dari Kemenristekdikti senilai Rp 200 juta.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
tulang, penelitian, uns

Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top