Bahaya Resistensi Antibiotik

Sekitar era 1920 ke bawah saat Perang Dunia I terjadi, sebanyak 80 persen prajurit meninggal karena terserang infeksi bakteri yang ditimbulkan akibat luka saat berperang.
Dewi Andriani
Dewi Andriani - Bisnis.com 01 Desember 2019  |  07:52 WIB
Bahaya Resistensi Antibiotik
Antibiotik - telegraph.co.uk

Bisnis.com, JAKARTA - Sekitar era 1920 ke bawah saat Perang Dunia I terjadi, sebanyak 80 persen prajurit meninggal karena terserang infeksi bakteri yang ditimbulkan akibat luka saat berperang.

Kemudian, pada tahun 1928, seorang dokter dan bakteriologis Alexander Fleming berhasil menemukan zat antibiotik pertama yang dikenal dengan nama penisilin. Berkat penemuannya tersebut, Fleming berhasil menyelamatkan para prajurit saat Perang Dunia II dari infeksi bakteri.

Namun semakin sering antibiotik digunakan, bakteri dan kuman tersebut memang ada yang mati tetapi sebagian lainnya mampu bertahan hidup hidup. Bakteri yang berhasil hidup tersebut kemudian bermutasi sehingga lama kelamaan akan mengganas dan justru menjadi resisten terhadap antibiotik.

Saat ini pun banyak masyarakat yang salah kaprah akan penggunaan antibiotik. Tidak sedikit yang menganggapnya sebagai obat dewa sehingga sering digunakan untuk menyembuhkan berbagai jenis penyakit.

Ketua Komite Pencegahan Resistensi Antimikroba Nasional, Hari Paraton mengatakan bahwa penyakit yang disebabkan oleh virus seperti batuk, pilek, flu, demam, dan radang tenggorokan serta yang disebabkan jamur dan parasit seperti diare, bisul, dan cacar, sama sekali tidak membutuhkan antibiotik.

“Saat seseorang sakit karena virus, jamur, atau parasite lalu mengonsumsi antibiotik, justru akan membuat bakteri-bakteri baik yang ada di dalam tubuhnya mati, sebaliknya bakteri dan kuman jahat akan semakin kuat dan ganas bahkan menjadi resisten,” ujarnya.

Ketika bakteri sudah resisten dan ganas, maka bakteri tersebut akan memunculkan berbagai penyakit lain. Bahkan saat seseorang terkena penyakit infeksi akibat bakteri, penggunaan antibiotic akan menjadi tidak mempan karena sudah resisten. Akibatnya, proses penyembuhan menjadi lebih lama, penyakitnya akan lebih parah serta dapat mengancam jiwa manusia.

World Bank memprediksi pada 2050 akan terjadi sekitar 10 juta kematian setiap tahunnya secara global akibat resistensi antibiotik atau Antimicrobial Resistance (AMR), jika tidak ada kontrol yang benar atas penggunaan antibiotik. Saat ini saja, setidaknya terdapat sekitar 700.000 kematian di seluruh dunia akibat resistensi antibiotik.

Hari mengatakan bahwa penggunaan antibiotik harus dilakukan dengan bijak dan terkontrol. Hanya penyakit-penyakit infeksi berat yang disebabkan oleh mikroba berupa bakteri saja yang cocok diberi antibiotik seperti infeksi paru-paru, tuberkolosis, radang otak, infeksi kandung kemih, dan lain sebagainya.

“Kalau pun ada indikasi bakteri, harus diuji dulu jenis bakteri apa yang menyerang, baru kemudian diberi antibiotik yang lebih spesifik,” ujarnya.

Lebih lanjut dia menuturkan seseorang yang sudah mengonsumsi antibiotik tetapi dipakai secara berlebihan (overused) serta tidak mematuhi petunjuk penggunaan, juga dapat memunculkan resistensi antibiotik.

Sementara itu, Perwakilan dari WHO Indonesia Benjamin Sihombing mengatakan untuk mengatasi persoalan resistensi antibiotik diperlukan peran serta dari berbagai pihak mulai dari pemerintah, dokter, farmasi, dan fasilitas kesehatan hingga pasien.

“Kita harus dapat menggunakan antibiotik secara bertanggung jawab. Pemerintah melalui regulasinya harus dapat mengatur secara lebih terang mengenai antibiotik, begitu pun para dokter, farmasi, dan fasilitas kesehatan perlu mendapatkan training dan panduan penggunaan antibiotik secara bijak dan harus tahu bahayanya jika diberikan tanpa indikasi,” ujarnya.

Penggunaan antibiotik yang tidak rasional juga terjadi di masyarakat karena membeli antibiotik yang tidak sesuai dosisi dan indikasi. Hal ini didukung pula oleh klinik atau farmasi yang menjual bebas obat antibiotik seperti amoxicillin, bahkan kini bisa didapatkan dengan mudah secara online.

Berdasarkan Data riset Kesehatan Dasar tahun 2013 menunjukkan 35.2% masyarakat Indonesia menyimpan obat untuk swamedikasi, dan 86.1% dari kelompok tersebut menyimpan antibiotik yang diperoleh tanpa resep. Hal ini justru akan menyebabkan terjadinya resistensi antibiotik di masyarakat dan menyebar di keluarga dan lingkungan.

Akibat terjadinya resistensi antibiotik, bakteri tersebut tidak dapat lagi dimatikan dengan antibiotik, sehingga mengancam kemampuan tubuh dalam melawan penyakit infeksi yang dapat mengakibatkan kecacatan bahkan kematian karena penyakit menjadi susah untuk disembuhkan.

Jika jumlah bakteri yang resisten terhadap antibiotik semakin banyak, ragam prosedur medis seperti transplantasi organ, kemoterapi, pengobatan diabetes, dan operasi besar menjadi sangat berisiko. Efek dari kondisi ini, pasien harus menjalani perawatan yang lebih lama dan menanggung biaya perawatan yang lebih mahal.

Untuk mengatasi kondisi tersebut, pemerintah Indonesia dan semua pihak terkait hingga terdapat Program Pengendalian Resistensi Antibiotik (PPRA) di tingkat fasilitas layanan kesehatan, salah satunya di RS Universitas Indonesia melalui dukungan laboratorium mikrobiologi UI dan berbagai pihak lainnya.

Budiman Bela, Direktur Umum RS Universitas Indonesia, mengatakan RSUI sebagai bagian dari Academic Health System (AHS) Universitas Indonesia bekerja sama dengan komite PPRA RSUI telah mengusulkan diadakannya penelitian bersama fasilitas layanan kesehatan yang terlibat dalam AHS  Universitas Indonesia untuk mendapatkan informasi mengenai penggunaan antibiotik, pola mikroba dan resistensi.

Kegiatan PPRA RSUI merupakan salah satu upaya untuk mengikuti pedoman yang telah ditetapkan secara internasional maupun nasional dalam rangka menjamin keselamatan pasien dan memaksimalkan pelayanan kepada pasien dengan mencegah peningkatan angka resistensi bakteri.

“RSUI akan berupaya melibatkan semua komponen untuk mencegah AMR, termasuk komponen masyarakat melalui edukasi oleh tenaga kesehatan RSUI kepada pasien, keluarga pasien maupun masyarakat secara luas,” ujarnya.

RSUI sebagai rumah sakit pendidikan UI memulai kebiasaan peresepan antibiotik yang bijak bagi semua pihak. Dikemudian hari, mahasiswa dari rumpun ilmu kesehatan, baik dari program studi kedokteran, keperawatan, kedokteran gigi, farmasi, kesehatan masyarakat dan program studi lainnya yang terlibat dalam kegiatan di RSUI juga akan diperkenalkan pada berbagai aspek pengendalian resistensi antibiotik yang dilaksanakan di RSUI.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
antibiotik

Editor : Mia Chitra Dinisari
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top