Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Blackout Tuesday: Bentuk Protes Industri Musik Dunia Atas Kematian George Floyd

Hari ini, sebagian besar industri musik dunia berhenti beroperasi dan beralih untuk memerangi ketidakadilan rasial.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 02 Juni 2020  |  13:34 WIB
Rolling Stones - Reuters
Rolling Stones - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA -- Pascakematian George Floyd di tangan polisi yang memicu protes di seluruh dunia, industri musik berencana untuk menjadikan 2 Juni sebagai 'Blackout Tuesday'.

Hari ini, sebagian besar industri musik dunia berhenti beroperasi dan beralih untuk memerangi ketidakadilan rasial.

Seperti dilansir melalui CNET, sejumlah label musik besar serta musisi ikonik seperti Peter Gabriel dan Mick Jagger, telah bergabung dengan gerakan yang dibagikan di media sosial dengan tagar #TheShowMustBePaused.

"Sangat memilukan melihat Amerika mencabik-cabik dirinya sendiri karena masalah ras. Besok saya berdiri bersama sesama seniman dan mengamati Blackout Tuesday untuk memerangi diskriminasi rasial dan ketidakadilan sosial," ujar pentolan Rolling Stones itu melalui akun Twitternya, seperti dikutip Selasa (2/6).

Banyak artis dan label menggunakan tagar #TheShowMustBePaused sambil menyatakan rencana untuk mengambil bagian dalam Blackout Tuesday.

Eksekutif musik Jamila Thomas dan Brianna Agyemang mempelopori gerakan ini sebagai hari untuk memutuskan hubungan dari pekerjaan dan kembali dengan komunitas.

"Seperti inilah bentuk solidaritas," tulis musisi Billy Bragg. "Luangkan waktu satu hari untuk merenungkan tindakan apa yang perlu kita ambil secara kolektif untuk mendukung komunitas kulit hitam."

Sementara itu, Columbia Records menegaskan dalam sebuah tweet bahwa ini bukan hari libur, mereka menambahkan, bahwa ini adalah hari untuk merenungkan dan mencari cara untuk bergerak maju dalam solidaritas.

Sebuah tweet dari Interscope Records mencatat bahwa label itu tidak akan merilis musik baru hari ini.

Sebagai gantinya mereka akan berkontribusi pada organisasi yang membantu menyelamatkan para pengunjuk rasa yang ditangkap saat berorasi damai, memberikan bantuan pengacara untuk perubahan sistematis, serta memberikan bantuan kepada badan amal yang berfokus tentang menciptakan pemberdayaan ekonomi di komunitas kulit hitam.

Beberapa artis mengatakan mereka akan membatalkan penampilan radio dan wawancara media dan tidak memposting di media sosial sepanjang hari ini.

"Sulit untuk mengetahui apa yang harus saya katakan karena saya telah berurusan dengan rasisme sepanjang hidup saya," tulis produser terkenal Quincy Jones melalui akun Twitternya.

George Floyd, seorang keturunan Afrika-Amerika, meninggal pada 25 Mei setelah mantan perwira polisi Minneapolis Derek Chauvin tertangkap video menekan lututnya di leher Floyd selama lebih dari delapan menit sehingga Floyd berulang kali berkata, "Saya tidak bisa bernapas."

Aksi protes dilakukan di seluruh dunia, dengan beberapa berakhir dalam kekerasan.

Pada Senin (1/6), sejumlah jaringan ViacomCBS, termasuk BET, CBS Sports Network dan Nickelodeon, mengubah platform mereka selama 8 menit dan 46 detik menjadi gelap, sama dengan waktu Chauvin menjepit Floyd dengan lututnya.

Platform lain seperti Spotify akan menambahkan silent track ke beberapa playlist dan podcast selama Blackout Tuesday berlangsung.

"Playlist dan podcast terpilih yang ikut serta akan mencakup 8 menit, 46 detik hening sebagai pengakuan serius untuk lamanya waktu George Floyd dicekik," kata perusahaan itu dalam sebuah posting blog.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

musisi George Floyd
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top