Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kenali Tanda-Tanda Pria Stres setelah Istri Melahirkan

Psikolog Ajeng Raviando mengatakan jika tanda-tanda trauma atau stres pasca-persalinan atau PTSD (post-natal post traumatic stress disorder) yang dialami pria tidak jauh berbeda dengan wanita.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 29 Juni 2020  |  05:49 WIB
Ilustrasi pria stres setelah istri melahirkan. - Antara
Ilustrasi pria stres setelah istri melahirkan. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Pria yang mengalami trauma setelah istri melahirkan mengeluarkan beberapa gejala seperti mudah cemas, sensitif hingga sering teringat pada kejadian saat persalinan.

Psikolog Ajeng Raviando mengatakan jika tanda-tanda trauma atau stres pasca-persalinan atau PTSD (post-natal post traumatic stress disorder) yang dialami pria tidak jauh berbeda dengan wanita.

Berbeda dengan istri yang sumber traumanya lebih banyak karena sensasi nyeri, suami cenderung teringat dengan seluruh suasana yang terekam di otaknya. Apa yang ia dengar dan lihat, sulit terhapus dari ingatan.

"Karena suami melihat langsung, jadi kemungkinan besar gambaran proses melahirkan itu terekam jelas. Misalnya, ketika melihat darah, ia jadi teringat saat istrinya perdarahan, atau saat mendengar anaknya nangis. Bahkan ingatan dari penciuman, seperti bau obat atau bau yang mengingatkan dengan rumah sakit, akan memicu rasa cemas," jelas Ajeng melalui keterangan resminya dikutip Minggu (28/6/2020).

Ajeng menjelaskan untuk beberapa kondisi yang lebih ekstrem, suami dengan stres dan trauma pasca-melahirkan akan mengalami mimpi buruk. Post-natal PTSD juga bisa memicu perubahan perilaku.

Beberapa pria menjadi supersensitif dan terlalu khawatir dengan kondisi sang istri serta anaknya. Respons ini mungkin bisa tergolong cukup baik, karena pada akhirnya suami menjadi lebih perhatian terhadap istri dan juga sang anak, selama tidak berlebihan.

Respons tidak peduli juga mungkin ditunjukkan oleh pria yang mengalami kondisi ini.

Menurut Ajeng, ada suami yang menjadi pasif dan tidak peduli dengan istri yang sibuk merawat bayi mereka.

Ajeng mengatakan dukungan istri sangat dibutuhkan untuk membantu suami melewati trauma meski mungkin dirinya sendiri juga membutuhkan bantuan.

"Meski sulit, istri harus paham dengan kondisi suami dan sebisa mungkin memberikan dukungan," ujar Ajeng.

Penanganan terbaik untuk mengatasi trauma pasca-melahirkan bagi suami adalah dengan berkonsultasi pada seorang profesional, psikiater atau psikolog. Menurut Ajeng, pendekatan terapi yang dilakukan adalah trauma focus cognitive behavioral therapy (TFCBT).

"Terapi difokuskan pada traumanya. Memang akan tidak nyaman karena pasien dipaksa mengingat kembali kejadian. Tapi, ini membantu mereka untuk bisa lebih menerima kondisi dengan realistis, menghadapi dan bukan menghindar, yang pada akhirnya bisa melepaskan itu semua," jelas Ajeng.


 

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

stres melahirkan

Sumber : Antara

Editor : Nancy Junita
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top