Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Tips Gelar Resepsi Pernikahan di Masa Pandemi Menurut Epidemiolog

Menurut epidemiolog dari Universitas Sebelas Maret Tonang Dwi Ardyanto untuk berusaha menjembatani keamanan selama pesta pernikahan, panitia (dan WO) berusaha mengemas dengan konsep disiplin waktu, terencana rapih dan bila mungkin memisahkan semaksimalnya rangkaian upacara sakral dengan resepsinya.
Mia Chitra Dinisari
Mia Chitra Dinisari - Bisnis.com 16 November 2020  |  08:19 WIB
Salah satu rangkaian acara pernikahan - kotajogja.com
Salah satu rangkaian acara pernikahan - kotajogja.com

Bisnis.com, JAKARTA - Pesta pernikahan di masa pandemi disarankan untuk ditunda atau dibatasi untuk mengurangi penularan virus corona antar tamu undangan.

Pesta pernikahan yang umumnya berkerumun, memang berisiko untuk penyebaran virus corona. Bahkan, di AS saja ada klaster khusus pernikahan dengan menginfeksi 177 orang dan 7 orang meninggal dunia.

Menurut epidemiolog dari Universitas Sebelas Maret Tonang Dwi Ardyanto untuk berusaha menjembatani keamanan selama pesta pernikahan, panitia (dan WO) berusaha mengemas dengan konsep disiplin waktu, terencana rapih dan bila mungkin memisahkan semaksimalnya rangkaian upacara sakral dengan resepsinya.

Sekarang, di era pandemi covid, semua seperti menemukan titik temunya. Harapan resepsi pernikahan saat ini:
1. TIdak terjadi kerumunan
2. Waktu berkumpulnya banyak orang adalah sesingkat mungkin
3. Tetap bisa menerapkan protokol pakai masker, cuci tangan dan jaga jarak. Sejak sebelum masuk ruangan, selama berlangsungnya acara, sampai saat meninggalkan ruangan.

Berikut usulan dari Tonang seperti dikutip dari akun facebooknya:

1. Bila gaya prasmanan, maka harus ada pengaturan waktu yang ketat, agar tidak terjadi penumpukan tamu apalagi dalam antrian. Bila gaya resepsi, pastikan soal daya tampung dan jarak antar kursi.

2. Pastikan tempat acara berventilasi maksimal, dibantu dengan kipas angin untuk mengalirkan udara keluar ruangan agar berganti dengan udara dari luar.

3. Sebaiknya, upacara dan tatacara sakral, dilakukan cukup disaksikan oleh keluarga kedua pihak dengan tetap menghindari kerumunan. Dengan cara ini, justru hasil audio-visualnya sakral tanpa "noise", utuh karena tidak terhalang banyak hal saat pengambilan gambar, runtut karena lebih mudah diatur, dan lengkap.

Bahkan memenuhi harapan pengantin, foto dan video-nya Instagrammable....

4. Bila aktivitas sakral dilakukan di satu tempat dengan gedung, maka dilakukan SEBELUM waktunya tamu hadir sesuai undangan. Segala upacara sakral, diselesaikan maksimal 30 sebelum waktu undangan yang tertera.

Begitu tamu mulai hadir, maka acara yang dilangsungkan di depan para tamu hanya sambutan tuan rumah saja. Setelah itu langsung prosesi simbolik jabat tangan (bila gaya prasmanan) atau disajikan hiburan sambil para tamu menikmati sajian berurutan sampai selesai (mbanyu mili). Itu saja acaranya. Tidak ada acara apa-apa lagi. Sampai selesai.

5. Untuk hidangan dalam gaya prasmanan, gubug makanan harus memastikan makanan ditutup. Para tamu harus tertib ANTRI, makanan diramu oleh penyaji, dinikmati di tempat yang sejauh mungkin dari kerumunan.

Untuk gaya resepsi, makanan dan minuman disajikan dalam kemasan tertutup. Dipersilakan bagi para tamu untuk menikmati atau dibawa pulang. Pastikan disertakan kantung dari kertas atau kain untuk membawa pulang.

5. Dalam undangan disertakan informasi bahwa rangkaian upacara pernikahan akan dilangsungkan 1-1,5 jam sebelum waktu undangan. Agar bagi yang memang ingin ikut menyaksikan, dapat menyesuaikan diri.

6. Prinsipnya: acara berkumpul banyak orang, dilakukan sesingkat mungkin. Bila ada pembagian gelombang antar tamu gaya prasmanan, diberikan jeda waktu diantara dua jadwal, untuk menghindari penumpukan antrian.

7. Diberi opsi bahwa acara inti sajikan secara daring dan real-time. Dengan upacara mendahului undangan tamu, maka lebih mudah menyajikannya secara digital.

8. Sudah eranya juga bahwa pemberian pengikat hati berupa donasi atau hadiah barang, dilakukan secara daring, tidak harus bertatap muka.

Kiranya, ini justru memenuhi harapan para pihak. Tidak ada tamu mengeluh harus antri lama, atau berdesak-desakan mengambil makanan saat prasmanan, atau serba salah saat diberi sajian makanan gaya resepsi (antara ingin tapi tidak habis, atau ingin di bawa pulang saja). Yang punya hajat juga lebih puas karena upacara berjalan sakral, rekaman audivisual lengkap.

Di atas itu semua, tentu harapannya, tidak perlu ada kejadian tidak diharapkan, setelah berlangsungnya hajatan.

Covid menjadikan lebih ribet. Tapi ada juga sisi-sisi hikmahnya. Semoga bisa kita teruskan hikmah baiknya, sambil terus berdoa, semoga pandemi segera terkendali.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pernikahan universitas sebelas maret Virus Corona epidemiolog
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top