Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pendapatan Bioskop Seret Pasca Dibuka, Pengusaha Nangis Sampai Kering

Tentu pendapat tersebut tidak cukup untuk membayar biaya operasional hingga menggaji karyawan. Untuk bayar listrik tidak terpakai saja, pengusaha bioskop harus merogoh kocek Rp7-8 juta per bulan, sementara kalau dipakai mencapai Rp60-70 juta per bulan
Desyinta Nuraini
Desyinta Nuraini - Bisnis.com 18 Desember 2020  |  10:10 WIB
Pendapatan Bioskop Seret Pasca Dibuka, Pengusaha Nangis Sampai Kering
Bioskop
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Kondisi bioskop ternyata masih "berdarah-darah" walaupun sudah kembali beroperasi pada Oktober lalu.

Jumlah penonton yang sedikit karena masih khawatir tertular virus corona, faktor daya beli masyarakat yang merosot, dan distribusi film yang masih minim akhirnya membuat pendapatan pengusaha bioskop seret.

"Selama 3 bulan ini dikatakan ancur-ancuran. Gambaran saja, 1 hari dengan 3 layar itu cuma Rp800.000, pertunjukkan 4 kali, biasanya sehari (omset) bisa mencapai Rp15-20 juta sehari," ujar Ketua Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI) Djonny Syafruddin saat dihubungi Bisnis, Jumat (18/12/2020).

Tentu pendapat tersebut tidak cukup untuk membayar biaya operasional hingga menggaji karyawan. Untuk bayar listrik tidak terpakai saja, pengusaha bioskop harus merogoh kocek Rp7-8 juta per bulan, sementara kalau dipakai mencapai Rp60-70 juta per bulan. Alhasil pengusaha harus merogoh pos anggaran lain untuk menutupi biaya-biaya tersebut.

"Kerugian kita triliunan. Ibarat anak kecil, nangis, kering, nangis, kering lagi sampai tertidur. Pasti kita rugi, iya, tapi kalau tidak dimulai (dibuka kembali bioskop), kita dibilang cengeng," imbuhnya.

Djonny berharap pemerintah setempat memberikan stimulus agar setidaknya bioskop yang notabene memberikan retribusi ke pendapatan daerah dari pajak hingga triliunan ini bisa menarik nafas lebih panjang.

Dia menyebut sempat dibicarakan mengenai stimulus ini ke Kementerian Pariwisata dan Badan Ekonomi Kreatif, namun hingga kini belum juga ada kabar baik yang datang.

"Kita tau lah pemerintah juga capek, sampai kena Covid-19 semua, yang penting sekarang punya rasa kepedulian bersama-sama dalam keadaan susah begini," tuturnya.

Diakui Djonny, vaksinasi mungkin menjadi harapan terakhir agar industri perfilman bangkit kembali. Saat ini, distribusi film bukan hanya di Indonesia namun juga dunia terbilang kacau balau. Pembuat film masih wait and see untuk menayangkan filmnya di bioskop karena memang pasar atau penonton yang terbilang minim. Kurang lebih kata dia ada 100 film lebih terparkir dan belum berani masuk ke bioskop.

"Harapan kita vaksin, apalagi sudah digratiskan, insyaallah itu memberikan obat cukup mujarab untuk meningkatkan kepercayaan di masyarkat, itu faktor utama film terus bergulir nanti," tegasnya.

Apabila vaksinasi dimulai pada waktu dekat, Djonny memprediksi industri perfilman ini akan pulih dalam 5-6 bulan mendatang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Film bioskop
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top