Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Amankah Vaksin Covid-19 Untuk Ibu Hamil? Ini Kata Peneliti

Menurut Asisten Profesor Ilmu Kebidanan, Ginekologi dan Reproduksi di University of California, San Francisco, Dr. Stephanie Gaw, risiko utama pemberian vaksin Covid-19 pada ibu hamil adalah tidak adanya data, meskipun secara ilmiah, pihaknya meyakini sangat tidak mungkin vaksin tersebut memiliki efek berbahaya.
Desyinta Nuraini
Desyinta Nuraini - Bisnis.com 24 Desember 2020  |  11:14 WIB
Ilustrasi ibu hamil
Ilustrasi ibu hamil

Bisnis.com, JAKARTA - Vaksin virus corona telah didistribusikan sejak beberapa pekan terakhir. Namun yang menjadi pertanyaan, apakah vaksin tersebut aman untuk diberikan kepada ibu hamil?

Menurut Asisten Profesor Ilmu Kebidanan, Ginekologi dan Reproduksi di University of California, San Francisco, Dr. Stephanie Gaw, risiko utama pemberian vaksin Covid-19 pada ibu hamil adalah tidak adanya data, meskipun secara ilmiah, pihaknya meyakini sangat tidak mungkin vaksin tersebut memiliki efek berbahaya.

Hal ini karena dua vaksin resmi baik yang dikembangkan oleh Pfizer/BioNTech dan Moderna tidak mengandung virus corona itu sendiri, melainkan mengandung molekul yang disebut mRNA, yang tidak dapat menyebabkan infeksi dan cepat rusak di dalam tubuh.

Dia menjelaskan mRNA merupakan sebuah molekul yang berisi instruksi untuk membangun protein spesifik. "mRNA hanyalah potongan informasi genetik yang dikirimkan ke sel Anda sendiri, dalam hal ini, sel otot di lengan," tutur Gaw seperti dilansir dari Live Science, Kamis (24/12/2020). 

Begitu berada di dalam tubuh, vaksin mRNA menginstruksikan sel untuk membangun bagian protein lonjakan virus corona, sebuah struktur yang menonjol dari permukaan virus. Meskipun tidak menular sendiri, potongan protein lonjakan memicu respons kekebalan yang melatih tubuh untuk mengenali virus corona jika tubuh menemuinya di masa mendatang. Setelah digunakan untuk membuat potongan protein lonjakan, mRNA dengan cepat dipecah oleh sel. 

"Karena bekerja secara lokal, kemungkinan tidak berdampak pada janin," kata Ketua Departemen Ginekologi dan Kebidanan di Sekolah Kedokteran Universitas Emory di Georgia, Dr. Denise Jamieson. 

Dia menuturkan beberapa mRNA diambil oleh sistem limfatik, yang mengangkut sel-sel kekebalan ke seluruh tubuh, tetapi kemungkinan kecil mRNA apa pun memasuki aliran darah, meskipun hal ini masih perlu dikonfirmasi. "Bahkan jika beberapa mRNA mencapai plasenta, menurutnya sangat tidak mungkin sesuatu yang berarti dapat menyeberang," tambahnya. 

Jamieson berpendapat bagaimanapun, mRNA tidak dapat menyebabkan infeksi. Demikian pula, berdasarkan cara kerja vaksin dan kecepatan degradasi mRNA, "Kami (juga) tidak mengantisipasi bahwa hal itu akan memengaruhi kesuburan dengan cara apa pun atau memengaruhi awal kehamilan," katanya.

Sejauh ini, penelitian pada hewan yang dilakukan oleh Moderna juga mengisyaratkan bahwa vaksin tersebut aman sebelum dan selama kehamilan, setidaknya pada tikus. Data yang diserahkan ke FDA menunjukkan bahwa pemberian vaksin kepada tikus sebelum kawin atau selama kehamilan tidak mengubah sistem reproduksi mereka, mempengaruhi perkembangan embrio atau janin, atau mengganggu perkembangan bayi tikus setelah lahir.

Bagi manusia, vaksin memang membawa beberapa risiko efek samping ringan, seperti nyeri saat melihat infeksi, bengkak atau demam. Salah satu gejala yang harus diwaspadai selama kehamilan khususnya adalah demam setelah vaksinasi, karena demam tinggi dapat meningkatkan risiko keguguran. Jika demam memang terjadi, obat penurun demam acetaminophen aman dikonsumsi selama kehamilan. Jamieson menyebut secara umum, jika seseorang diketahui memiliki alergi terhadap salah satu bahan vaksin, mereka tidak boleh menerima vaksin itu.

Di sisi lain, Jamieson mengatakan bahwa Salah satu manfaat yang mungkin didapat dari mendapatkan vaksin Covid-19 selama kehamilan adalah janin juga dapat memperoleh kekebalan terhadap virus. Antibodi yang dihasilkan oleh vaksin berpotensi melewati plasenta inilah mengapa vaksinasi direkomendasikan pada trimester ketiga. "Namun, kami belum tahu apakah antibodi yang diproduksi oleh vaksinasi Covid-19 akan melewati plasenta," imbuhnya.

Adapun yang pasti, antibodi ibu juga melewati kolostrum atau ASI padat nutrisi yang diproduksi segera setelah lahir dan ASI normal, sehingga mungkin bayi yang baru lahir dapat memperoleh kekebalan pasif melalui menyusui. 

Sebuah penelitian kecil menunjukkan bahwa ibu menyusui yang telah pulih dari Covid-19 memang membawa antibodi dalam ASI mereka, tetapi tidak diketahui apakah hal yang sama berlaku untuk ibu yang divaksinasi. UCSF dikabarkan akan segera meluncurkan studi yang menyelidiki pertanyaan ini.

Meski para ilmuwan menduga vaksin Covid-19 aman digunakan selama kehamilan, hal ini juga masih perlu dikonfirmasi. Beberapa uji klinis dengan orang hamil diharapkan dimulai pada Januari.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ibu hamil Vaksin Covid-19
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top