Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Sepertiga Penyintas Covid-19 Masih Menunjukkan Masalah Neurologis

Dalam periode pandemi yang masih berlangsung hingga kini, dokter dan peneliti telah menemukan beberapa manifestasi pasca-covid. Banyak pasien mengalami gejala dan sindrom neurologis sebagai dampak jangka panjang dari Covid-19.
Syaiful Millah
Syaiful Millah - Bisnis.com 06 Januari 2021  |  14:28 WIB
Sepertiga Penyintas Covid-19 Masih Menunjukkan Masalah Neurologis
Sakit kepala - boldsky.com
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Sejumlah laporan menunjukkan bahwa para penyintas Covid-19 masih mengalami gejala persisten, termasuk yang terkait dengan masalah neurologis. Hal ini menjadi tantangan bagi penyintas dan penyedia terapi pengobatan.

Dalam periode pandemi yang masih berlangsung hingga kini, dokter dan peneliti telah menemukan beberapa manifestasi pasca-covid. Banyak pasien mengalami gejala dan sindrom neurologis sebagai dampak jangka panjang dari Covid-19.

Dilansir dari News-Medical, Rabu (6/1) sebuah studi longitudinal yang diterbitkan di server pracetak medRxiv, menemukan bahwa sepertiga dari penderita infeksi Covid-19 memiliki manifestasi neurologis jangka panjang setelah dirawat di rumah sakit.

Para penyintas menunjukkan beragam gejala neurologis seperti kelelahan, masalah memori, gangguan tidur, mialgia diikuti depresi atau kecemasan, gangguan pengelihatan, tremor, anosmia, dan hilangnya indera penciuman.

Kelompok penelitian melibatkan 165 sampel pasien yang selamat dari Covid-19, yang dinilai ulang sesuai dengan protokol klinis terstruktur dan terstandarisasi. Pasien-pasien ini diperiksa enam bulan setelah keluar dari Unit Covid-19 Rumah Sakit Sipil ASST Spedali, di Italia, antara Februari dan April 2020.

Tim yang melakukan tindak lanjut 6 bulan setelah pasien dirawat inap dan menemukan bahwa mereka menderita kelelahan (34 persen), masalah memori / perhatian (31 persen), dan gangguan tidur (30 persen), ini merupakan gejala yang paling sering dialami.

Setelah pemeriksaan neurologis, para peneliti menemukan bahwa pasien menunjukkan kelainan neurologis, defisit kognitif, hiposmia (penurunan indra penciuman), dan tremor postural, yang paling umum.

Diobservasi bahwa pasien yang melaporkan gejala neurologis adalah yang dipengaruhi oleh parameter infeksi SARS-CoV-2 pernapasan yang lebih parah selama rawat inap.Pasien dengan tingkat keparahan penyakit tinggi melaporkan keluhan memori dan gangguan penglihatan.

Tim menemukan bahwa kelainan neurologis dikaitkan dengan usia yang lebih tua, indeks komorbiditas pra-morbid yang lebih tinggi, BCRSS (Skala Keparahan Pernafasan Brescia-COVID) yang lebih buruk, durasi rawat inap yang lebih lama, dan jumlah gejala neurologis yang lebih tinggi dilaporkan.

Studi ini mendukung bukti sebelumnya tentang konsekuensi jangka panjang Covid-19 yang melibatkan sistem saraf pusat dan perifer. Penyakit in dasarnya adalah penyakit pernapasan. Namun, pemeriksaan lebih dekat mengungkapkan banyak organ dan fungsinya terganggu karena infeksi tersebut.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Virus Corona sakit kepala
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top