Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kisah Nyata: Usai Kunjungi Rumah Duka 30 Menit, Satu Keluarga Terinfeksi Virus Corona

Seorang pria memutuskan untuk memberikan penghormatan terakhir kepada sahabatnya yang meninggal. Usai itu, dia dan sekeluarga terinfeksi virus corona.
Desyinta Nuraini
Desyinta Nuraini - Bisnis.com 26 Januari 2021  |  15:54 WIB
Warga melihat liang kubur yang telah disiapkan untuk pemakaman korban kebakaran pabrik korek api gas (mancis) di perkuburan muslim, Desa Sambirejo, Langkat, Sumatera Utara, Minggu (23/6/2019).  - Antara
Warga melihat liang kubur yang telah disiapkan untuk pemakaman korban kebakaran pabrik korek api gas (mancis) di perkuburan muslim, Desa Sambirejo, Langkat, Sumatera Utara, Minggu (23/6/2019). - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Ancaman virus corona atau Covid-19 begitu nyata, bahkan tidak terduga. Malang tak bisa ditolak, seorang pria bernama Dibyo dan keluarganya terinfeksi virus corona.

Hal tersebut yang dirasakan Dibyo, dia tidak pernah menyangka tertular virus corona Covid-19 usai melayat ke salah seorang kerabat yang kehilangan pasangannya karena masalah jantung di usia 40 tahun. Padahal dia hanya 30 menit berada di lokasi.

"Orang tersebut mengalami nyeri badan ringan, dan dia juga tidak sadar bahwa dia mengidap Covid," ujarnya seperti dilansir dari Times of India, Selasa (26/1/2021).

Dibyo bercerita pada 12 Oktober 2020 pagi, anak perempuannya yang berumur 15 tahun mengalami demam sekitar 100 derajat Fahrenheit atau 37,8 celcius dan juga mimisan. Dia memberinya parasetamol dan pada malam hari kondisi anaknya baik-baik saja dan tidak menunjukkan gejala apa pun. Kala itu Dibyo masih belum tahu kalau anaknya terkena Covid-19.

Pada 14 Oktober, Dibyo dan istrinya menunjukkan tanda-tanda demam dan pada 16 Oktober demamnya mereda dan dia baik-baik saja. Namun pada 17 Oktober sekitar jam 4 pagi, dia mulai menunjukkan gejala demam dan kram otot.

"Saya minum parasetamol untuk mengontrol demam, sekitar 100 Fahrenheit. Ini berlangsung sampai hari Senin dan tanggal 19, demam saya mereda dan kram otot hilang," ulasnya.

Kemudian pada malam ke-19, putri Dibyo mengeluh tidak bisa merasakan rasa makanan ringan pada malam hari. Saat itulah dia yakin itu bukan flu biasa.

Akhirnya dia DNA keluarga memutuskan melakukan pemeriksaan Covid-19 untuk kami bertiga pada 21 Oktober. Hasilnya pada 22 Oktober, Dibyo dan putrinya dinyatakan positif Covid-19.

"Padahal saya sudah diisolasi tapi kondisi saya stabil, meski ada demam intermiten, kadar O2 stabil antara 96 sampai 97," bebernya.

Dibyo berkonsultasi dengan seorang dokter dan diresepkan beberapa obat. Itu berlanjut selama 2 sampai 4 hari.

Kendati demikian pada 25 Oktober, komplikasi dimulai. Dibyo tidak bisa tidur sepanjang malam meski sudah minum parasetamol. Demam terus kembali dalam 3 jam, bahkan dia harus minum dua parasetamol di malam hari.

Dibyo juga batuk terus-menerus. Akhirnya dia memutuskan untuk dirawat di rumah sakit. "Karena batuk, saya khawatir terkena infeksi paru-paru," imbuhnya.

Dibyo mengaku selalu merasa lapar, mungkin karena tubuhnya mencari nutrisi untuk melawan infeksi, tetapi sayangnya dia juga mudah kehilangan selera makan. Menunggu hampir 36 jam di IGD, akhirnya Dibyo mendapatkan tempat tidur di rumah sakit dan pada 27 Oktober anak perempuannya mendapatkan kembali selera makan.

"Alhamdulillah,  saya dirawat karena dokter menemukan sesak di pernapasan saya bersama dengan suara siulan," tuturnya.

Dibyo mengaku tingkat oksigen dalam darahnya cukup baik. Pengobatan dirinya dimulai dan Dibyo mengaku diberikan beberapa inhaler, sirup obat batuk dan lainnya. "Demam mereda dan batuk sembuh dalam 3 hari. Saya senang bisa pulang," ungkapnya.

Akan tetapi pada hari ke-4 setelah pulang ke rumah, Dibyo tiba-tiba demam kembali disertai batuk kering yang luar biasa, khususnya pada pagi hari.

Batuknya sangat parah hingga dia sulit berbaring. Dokter mengatakan infeksi sekunder terjadi karena sistem kekebalan tubuhnya lemah. Dia diberikan antibiotik intravena selama 5 hari dan akhirnya sembuh dan dipulangkan pada 9 November.

Kendati demikian selama 12 hari sepulang dari RS tubuhnya sangat lemah. Berat badannya turun sekitar 10 kg.

"Sepanjang hari saya biasa tidur dan hanya bangun untuk makan atau menggunakan toilet. Saya sangat berterima kasih kepada dokter yang merawat saya," tutup Dibyo.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

meninggal Virus Corona Covid-19
Editor : Novita Sari Simamora
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top